Kuil Cinta Osaka (Tsuyu no Ten Jinja/Ohatsu Shrine)

Ingat Osaka, maka yang muncul di kepala adalah area Nanba, dengan distrik belanja Shinsaibashi yang super panjang dan baliho Glico yang terkenal. Tapi hari itu, saya dan teman saya berniat untuk menghindari tempat perbelanjaan, selain sudah pernah, pasti ramai sekali. Kami ingin menikmati Osaka ‘yang lain’.

Perjalanan hari itu, kami mulai dari Shinsekai, lalu berjalan kaki ke arah Nipponbashi (Den Den Town) alias Akihabara-nya Osaka. Kemudian kami tiba di sebuah mal di daerah Nanba, yang tidak ingin kami jelajahi lebih lanjut. Kami bingung hendak ke mana lagi sedangkan hari masih panjang. Sebenarnya ada sebuah kuil yang ingin sekali saya datangi. Tetapi, untuk mengajak teman saya, ada rasa sedikit malu, mengingat teman saya ini adalah lawan jenis... dan cukup menarik. Oops.

Hmmm… mau tidak kalau ke Tsuyu no Ten Jinja?”

"Kuil spesial kah?" begitu tanya teman saya.

"Iya, kuil tempat berdoa untuk cinta. Katanya cocok untuk orang yang sering mengalami kataomoi. Tahu kataomoi nggak? Itu lho cinta bertepuk sebelah tangan. Aku ingin berdoa di sana."

♥♥♥

Menginap di Dorm Campur #3

Karena sampai sekarang, kalau jalan-jalan harus ngepres budget, seringnya menginap di shared room. Aku prefer female only tapi apa daya yang mixed kadang jauh lebih murah, jadi malah seringnya di mixed dorm.

Shared room-nya dari yang cuma empat bed sekamar, seringnya delapan bed, tapi pernah juga dua belas bed, dan bednya tingkat tiga! Tanah mahal banget ya sekarang. Meskipun kurang dari segi privasi, tapi senangnya dapat teman ngobrol dan tambah pengetahuan yang sebelumnya nggak tahu sama sekali. Kayak ada teman sekamar dari Singapura yang cerita kalau darah binatang untuk dimakan, di-ban sama pemerintah kalau alasan higienis. Atau pas kapan itu ada peneliti dari Kanada yang cerita tentang teori kalau nenek moyang orang Indonesia asalnya dari Taiwan.

Ada senengnya... ada pula enggaknya... beberapanya kayak tiga ceritaku di bawah ini.

Ada Bule Bau Badan

Yang ini aku menginap di mixed 12 bed room di sebuah hostel di Taipei, Taiwan. Untuk bednya, best yang pernah aku singgahi. Kayak di hotel 'betulan' gitu lah, makanya di situ aku bangun siang terus. Nyalahin bednya yang enak...

Di kamar ini, pertama kalinya aku menginap di kamar yang bednya tiga level. Tangganya pun bukan tangga biasa kayak bunkbed pada umumnya, tapi tangga betulan, stair gitu loh bukan ladder di pinggir bednya, jadi nggak susah naiknya. Meskipun nyaman banget bed-nya, apesnya, ada satu orang di kamar yang baunya minta ampun. Baunya tuh kayak bau orang keringetan yang mengendap lama, jadi gitu deh. Aduh enek banget.

Kayak gini nih kamar dengan bed level tiganya. Foto: Angels Hostel Taipei

Taco-Rice dan Tofu Chanpuru (Masakan a la Okinawa)

Di asrama, setiap akhir bulan, kepala asrama menempel daftar menu sarapan dan makan malam bulan berikutnya di dinding ruang makan. Daftar menu selalu aku foto, jadi kalau lagi di kamar atau di sekolah, penasaran nanti makannya apa, tinggal lihat di foto. Suatu hari, sedang jalan kaki arah asrama, aku lihat menu makan malamnya, "タコライス 豆腐チャンプルー" Takoraisu, tofu chanpuru. Eh? Nasi gurita? (Tako = jp. gurita, raisu = rice) Tahu campur? HE? Makanan apaan tuh?

Sampai asrama, rak makan malam terdapat sebuah mangkuk yang dibungkus plastic wrap dan mangkuk side dish berisi sayur tahu, sesuai namanya memang 'tahu campur'. Di dalam mangkuk besar dari tampak luar, terlihat nasi, potongan tomat, keju, dan olahan daging cincang menyerupai saus bolognese. Di mana guritanya?

Taco-rice dan tofu chanpuru bulan Agustus. Manggaaaa... barang mewah!
Takoraisu yang tampaknya seperti nasi bolognese ini memiliki rasa slightly mirip kare... dan pas dirasain, rasanya kayak familiar deh. Ditambah keju, aduh gimana ya, enak bangettt, plus selada dan tomat, segerrr. Sayangnya segitu buatku nggak kenyang, mau nambah kan nggak boleh, hahaha. Pas makan sambil bertanya-tanya ini masakan negara mana sih ya. Masak masakan Jepang sih?

My Dorm Tour! (Dorm Ashiya-L, Ashiya-shi, Japan)

Hari ini tepat sebulan setelah aku keluar dari Jepang, dan sebulan sehari setelah keluar dari asramaku di Kota Ashiya. Waktu terbang begitu cepat... nggak berasa banget.

Karena aku tinggal di Jepang untuk tiga bulan, aku harus cari tempat tinggal dong. Sekolah punya beberapa daftar asrama maupun apartemen yang tersedia untuk siswanya. Ada puluhan pilihan deh, tinggal pilih dan sesuaikan dengan kemampuan dan keinginan. Pas lihat daftar harganya... aduh tinggal di Jepang mahal banget ya. Kamar paling murah sekitar 38.000 yen (1 yen=114) dan bahkan yang 92.000 yen sebulan pun juga ada dalam list.

Masalahnya, kebanyakan rumah/apartemen disewakan kan dalam jangka panjang >1 tahun, sedangkan aku hanya tiga bulan. Nggak semua yang ada .dalam daftar menyediakan untuk jangka pendek. Singkat cerita, berdasarkan benefit and cost analysis yang telah dilakukan, akhirnya aku memilih menyewa kamar di sebuah asrama milik perusahaan swasta (barusan gugling ternyata perusahaannya ada di list bursa efek lah), yang letaknya di kota sebelah, kota sekolahku berada, Kota Kobe.

Namanya Dorm Ashiya-L, dan L untuk ladies. Yah sayang sekali nggak ada prianya. Ada ding satu, kepala asramanya =)) 

Asrama ini menyediakan kamar untuk jangka pendek dari sebulan sampai enam bulan. Tentu harganya beda bagi yang jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek per bulannya 63.000 yen, sedangkan jangka panjang 48.000 yen. Kalau nyewa rumah kan biasanya di awal ada uang deposit (yang nggak dibalikin lah wkwk), uang apa, uang tetek bengek, nah kalau asrama ini bebas ongkos lain khusus untuk yang jangka pendek. Selain itu, air dan listrik nggak perlu bayar sendiri. Ditambah, sudah termasuk sarapan dan makan malam. Kurangnya, toilet dan kamar mandinya shared. Buatku bagus sih, nggak perlu bersihin!

Makan Darah Sapi

Belum ada dua minggu di Korea, berat badanku turun empat kilo. Karena memang nggak banyak makan juga, sih. Untukku, mencari makanan (besar) di Korea lumayan susah. Selain nggak makan babi, aku nggak makan pedas, dan pergi sendirian. Apa hubungannya cobak pergi sendirian? Di Korea, kebanyakan porsi makanan itu adalah porsi sharing untuk berdua atau bertiga. Misalnya ayam goreng, belinya harus banyakan dan jadinya kan harganya mahal kalau aku makan sendiri. Ada kulkas sih di penginapan, kan bisa disimpan trus besoknya dihangatkan... tapi kan tapi kan...

Dua kali aku makan bibimbab. Yang pertama kali, gochujang (pasta cabai merah)-nya sudah ditaruh di tengah nasi dan banyak banget. Nah kalau makan Korea kan biasanya dikasih beberapa banchan (side dish) di piring kecil. Yang pertama itu, semua banchannya pedas semua. Nggak cuma kimchinya aja yang pedas. Untungnya yang kedua kali, kimchinya masih pedas di tahap aku bisa tahan dan gochujang-nya masukin sendiri, jadi bisa ngira-ngira kuatnya sampai mana. Sempat juga aku makan dak bokkeum (ayam tumis) pedas ditambah keju yang banyak. Enak sih enak... pas awalnya masih kuat tahan pedasnya. Beberapa kali suap, udah nggak tahan, sampai minta minum lagi. Pulang dari makan, perutku panasnya minta ampun nggak kelar-kelar. Plus mules lagi... duhhh...

Kejunya banyak banget :(

Penginapan di Korea

Ultra long post! XD

Belum lama ini, aku jalan-jalan ke Korea selama 22 hari 21 malam. Ada enam kota yang aku singgahi: Seoul, Daegu, Busan, Mokpo, Jeju, Seogwipo, namun hanya di empat kota aku menyewa tempat tidur. Di Daegu aku menginap di rumah teman dan di Mokpo aku menginap di jjimjilbang alias pemandian umum. Karena biasanya kalau abis jalan-jalan yang ditulis tetep curhatan, sekali-sekali aku mau nulis ulasan penginapan ah. Jarang-jarang. Selain itu, sekarang aku sudah jarang moto-moto kamar tempat menginap lagi, abis kamar murah, yang sekamar berempat atau berdelapan. Kalau kamar kayak Venetian atau Marina Bay Sands tak foto lah pasti, wkwkwk!

Karena di Korea agak lama, dan statusku yang yah belum jelas occupation-nya apa (baper kalau di arrival card ada isian occupation), aku benar-benar on tight budget. Jadi, milih penginapan ya yang murah-murah saja. Tapi aspek murah juga bukan satu-satunya, ngelihat ulasan juga lah ya, kalau murah banget tapi ulasannya jelek banget, ya ogah. Apalagi aku ke Korea dengan koper berbobot 20 kg, jadi momok sendiri kan tuh. Kalau cuma bawa tas enteng, berani lah go show. Btw, semua penginapan di Korea aku book via situs booking.com dan kali ini aku selalu pilih yang reservation no need credit card, karena aku booking selalu last minute dan hampir selalu dengan public Wi-Fi, yang non-secure, kan serem kalau kenapa-kenapa.

Nah ini dia penginapan-penginapan di Korea yang aku singgahi:

1. Seoul - FOUR SEASONS HOUSE

Di Seoul, penginapan termurah rata-rata sekitar 10000 KRW per tempat tidur. Ada yang 8000-9000 KRW juga sih, bahkan 3000 KRW lho, tapi ulasannya buruk, hehehe. Four Seasons House punya rate 10000 KRW untuk bed di 4-bed female dormitory room-nya. Aku singgah tujuh malam di Four Seasons House, dengan dua harinya buat bobok doang, wkwkwk!

Oplas Demi Pacar

Ceritanya kemarin aku pergi ke Korea sekitar 22 hari. Lama ya? Lama… ya namanya abis operasi plastik kan butuh waktu pemulihan karena setelah operasi nggak jadi langsung cantik, tapi muka bengkak-bengkak dulu. Bikin double eyelid lah, v jaw line, sama sedot lemak. Makin cantik, makin langsing lah…

Maaf, itu tadi fiksi!

Tapi anyway, aku mau cerita tentang pengamatanku dan berdasarkan cerita orang yang aku temui di Korea. Mungkin kalau yang temenan sama aku di LINE udah sempat baca, hehehe…

Di Seoul, aku menginap di sebuah guesthouse yang letaknya tak jauh dari Hongik University (Hongdae) selama tujuh malam. Rata-rata orang kan menginap di guesthouse dan liburan di kota besar kan nggak lama ya, jadi selama tujuh hari itu aku melihat orang yang berbeda-beda. Para tamu guesthouse hampir semuanya adalah wanita (waktu itu hanya satu pria) yang sebagian besar berasal dari Tiongkok. Mau ngapain coba? Ya operasi plastik…

Cewek Tiongkok 16 tahun yang hitz gegara oplas demi pacarnya balik zzzz. Diambil dari: tribunnews.com

Ahjumma-Ahjumma Menyeramkan?

Long time no blog... selama di Korea aku expect wi-fi guesthouse yang aku tempati bakal secepat kilat, tahunya mak plendus. Katanya kalau jalan-jalan itu jangan ekspektasi apa-apa, tapi kan katanya internet Korea paling cepat sedunia, hehehe. Mungkin apes aja dapet guesthouse yang begitu. Yang mau kirim foto di LINE aja harus berkali-kali resend baru ke-sent.

Kali ini aku mau cerita tentang ahjumma-ahjumma (bibi-bibi, ibu-ibu paruh baya) Korea.

Tentang orang Korea, aku nggak tahu banyak, ditambah aku bukan penggemar drama dan film Korea. Mungkin hanya sekitar 30-an judul drama dan film produksi negeri Kimchi yang pernah aku tonton. Yang jelas, dari beberapa hal, salah satu yang aku ingat adalah, kalau di drama-drama, ahjumma-ahjumma di Korea itu suka teriak-teriak, galak-galak, dan menyeramkan.

Aslinya?

Beneran lah. Aku sampe... wih, yang di film-film itu beneran to ternyata. Ceritanya, aku lagi di depan sebuah warung makan, berusaha membaca menu apa saja yang mereka sajikan. Ngomong-ngomong, aku bisa baca hangeul, tapi kalau arti mah kadang-kadang doang tahu. Sambil menganalisis harganya, ahjumma yang sepertinya pemilik warung itu keluar, dan nggak tahu ngomong apa tapi kayak ngomel-ngomel. Aku cuma bilang ke ahjummanya, "Hangukmal mothaeyo." (Nggak bisa Bahasa Korea). Eh dia lanjut nyerocos ngomong apa mbuh keras-keras, yang positive thinking-nya bisa jadi dia aslinya nggak marah-marah tapi sumpahhh serem banget. Nggak jadi makan di situ dehhh...

Pernah lagi, waktu aku lagi duduk-duduk di depan mal di Daegu, ada dua ahjumma naik sepeda di trotoar dari arah yang berlawanan. Nggak lama... mereka tabrakan. Belanjaan salah satu ahjumma menggelinding deh tuh dari keranjang. Udah deh, abis itu berisik sampai 10 menit selanjutnya. Aku nggak tahu mereka membahas apa, yang jelas dari kelihatannya kayak ngotot-ngototan, ngomel-ngomel nggak mau kalah. Nggak ada yang minta maaf deh. Sampai satpam mal nyamperin mereka, nggak tahu lah, akhirnya ahjumma satunya ngambilin belanjaan ahjumma yang satu lagi dan masukin ke keranjang.