Wisata Bea Cukai

Membaca info kesempatan untuk mengikuti blogger tour ke yang dishare oleh Mbak Shinta Ries, aku langsung tertarik mendaftar. Penasaran bagaimana 'dalamnya' pihak yang membuatku terpaksa mengisi satu form kalau pulang dari wisata ke luar negeri. Alhamdulillah, pada hari Selasa lalu (18-11) aku berkesempatan buat wisata ke Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Soekarno Hatta bersama 34 blogger lainnya. Blogger tour yang diadakan kali ini dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi.

Karena harus kumpul jam setengah tujuh pagi, aku bangun jam setengah lima pagi aja dong (rekor!). Kemudian telepon Tari, teman blogger yang tinggal di gang sebelah, yang ngakunya adalah putri tidur. Oh gitu, kalau aku Rapunzel yaaa, hahaha. Berdua kami berangkat ke ITC Cempaka Mas, tempat kumpul peserta blogger tour kali ini. Kami tiba sekitar jam setengah tujuh pagi dan kemudian berkumpul dengan blogger yang lain. Senang sekali aku karena berkenalan dengan banyak teman blogger!

Sekitar jam delapan, berangkatlah bus kami. Tapi sebelumnya, let us take a selfie. Nggak 'a' deng, tapi many.

Gue yang mencet shutter gue yang nggak madep kamera... ada sih foto yang aku madep kamera. Tapi pasang ini aja ya, biar lebih berkesan. Ki-ka: Mbak Prima Sagita, Mbak Seneng Utami, Mbak Nurul Musyafirah, Nicole Kidman eike.

Tiba ke KPPBC Soekarno Hatta, kemudian kami dibawa ke aula. Acara dimulai dengan lagu yang dibawakan oleh band yang digawangi pegawai kantor bea cukai sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan sharing dari beberapa pejabat KPPBC Soekarno-Hatta.

Bapak Okto Irianto, Kepala KPPBC.

Pasti tidak asing bukan dengan bea cukai? Selama ini sih aku tahunya bea cukai pokoknya ada urusannya sama bandara, rokok, dan minuman keras. Kalau cukai yang dikenakan di rokok atau minuman keras, di dalam ilmu ekonomi juga disebut 'pajak dosa'. Ternyata, yang namanya bea cukai ini luas, bahkan masuk dalam institusi dunia, World Customs Organization. Mirip dengan imigrasi, bedanya imigrasi adalah gerbang mengurusi orang yang masuk-keluar suatu negara, sedangkan bea cukai (customs) merupakan pintu terdepan bagi pergerakan barang masuk dan keluar.

Kan kalau di bandara ada petugas imigrasi ada juga bea cukai. Semuanya pakai seragam, yang diakui sering dikira seragam security. Nah, untuk mengidentifikasi mana yang petugas bea cukai ada empat ciri-ciri seragamnya:

1. Seragam berwarna biru tua dengan logo bea cukai berwarna merah di lengan kiri.
2. Terdapat nama di bagian dada kanan yang terlihat dari jarak 10 m. Untuk seragam terbitan lama, tulisan namanya masih kecil. Seragam Pak Okto memiliki nama di bagian kanan OKTO saja, tidak nama lengkap.
3. Ada tulisan CUSTOMS.
4. Lengan pendek untuk pegawai yang bekerja di kantor dan lengan panjang untuk yang bekerja di bandara.


Seperti cerita yang semua orang tahu, seringkali kita mendengar kalau pegawai pajak atau pun bea cukai (duane) itu lingkungan kerjanya... ya gitu deh. Paham lah ya. Tapi makin ke sini makin bersih pastinya. Bahkan berani dijamin kalau kepala kantor bea cukai semuanya bersih. Meskipun tidak dipungkiri masih ada oknum-oknum yang masih nakal. Makin bersihnya bea cukai di Indonesia ditunjukkan dengan lounge bea cukai di bandara yang memiliki pintu dan dinding kaca, sehingga tak memungkinkan ada 'main' petugas bea cukai dan pembawa barang.

Selain itu, kita punya sistem kepabeanan yang disebut Indonesia National Single Window (INSW), yaitu portal sistem dokumentasi pengurusan ekspor-impor secara tunggal, serta keputusan pemberian ijin kepabeanan yang tunggal dan kesemuanya via online. NSW kita ini pertama di ASEAN. Di negara kita nggak perlu hardcopy buat urus bea ini. Kalau di Singapura, masih perlu hardcopy. Kalau di sini pakai hardcopy, lebih jago malsunya, hahaha... Intinya sih sekarang hidup lebih mudah ya.

Kalau misal kenapa-kenapa, ada keluhan atau ada petugas nakal, bisa laporin keluhanmu atau laporin nama petugasnya ke alamat e-mail:
pengaduan.beacukai@customs.go.id

Dan semoga KPPBC makin bersih, kece, dan terbebas dari korupsi yaaa!! 


Dari aula, kami ditunjukkan CCTV room atau Control Room, di mana di dalam ruangan tersebut petugas bea cukai bisa melihat layar dari ratusan CCTV yang terpasang di Bandara Soekarno-Hatta. Dari monitor, bisa dianalisis mana-mana yang tingkah lakunya mencurigakan. Ruangannya keren abis, sayang ngga boleh difoto, hihihi... Ruangan tersebut juga tergolong baru karena baru sekitar sebulan.

Kemudian turun ke bawah, sedang ada press conference. Ada lima pelaku yang membawa narkoba dan tertangkap di bandara. Mereka adalah Warga Negara Iran, Vietnam, Tiongkok, dan Indonesia. Cara-cara menyembunyikan kece abis. Yang dibawa oleh WN Iran dibuat dalam bentuk lilin. Ada lagi yang dibawa pelaku dari Tiongkok dibuat dalam bentuk cair dan dimasukkan dalam guci. Nantinya cairan itu dikeringkan dan bisa menjadi bubuk. Gaol banget lah. Memang ya, kalau kata temanku, pelaku kriminal itu selalu selangkah lebih maju.

Jadi penasaran bagaimana cara yang lainnya ke depannya.


Meski muka pelaku ditutup oleh kupluk hitam, oh tapi si WN Iran ini tetap ketok kegantengannya. Padahal bisa saja ya, pas dibuka, pipinya korengan gede, hahaha. Waktu berdiri sambil mendengarkan pihak kepolisian dan bea cukai di press conference, beberapa ibu-ibu di sampingku...

"Ganteng!"
"Ganteng..."
"Buka dong itu topinya... satu aja yang pelaku dua dari kiri."
"Ya ampun... cakep-cakep kok pelaku."

Ternyata bertambahnya umur tak menurunkan kepekaan terhadap adanya orang ganteng. Stop.

Kemudian acara tour dilanjutkan dengan berkunjung ke dua penyedia jasa titipan barang ekspor impor, yaitu Kantor Pos Indonesia dan DHL.

Kantor Tukar Pos Udara

Salah satu cara barang masuk ke dalam negara adalah melalui kantor pos. Setelah keluar dari pesawat, barang akan tiba di Kantor Pos Bandara Soekarno-Hatta. Semua barang akan dicek satu-satu dimasukkan dalam gudang. Setelah itu ada pemeriksaan bea cukai, kalau sudah clear akan dikeluarkan dari gudang dan dikirimkan kepada kantor pos transit. Tapi kalau belum clear, ada waktu 30 hari untuk mengurus dokumen yang terkait bea masuk ini. Setelah 30 hari, maka barang akan berubah status menjadi barang dikuasai negara. Setelah 60 hari, akan menjadi barang milik negara.


Kalau masuk ke dalam Kantor Pos ini, ada dua pintu besar yang di atasnya ada tulisan Incoming dan Outgoing. Paket-paket outgoing akan dimasukkan dalam karung berwarna oranye untuk kemudian menuju ke pesawat.

Karung paket dan dokumen yang akan dikirim ke luar negeri. Ada kartupos yang kutulis ngga ya di situ?

 Wahai kardus-kardus paket yang datang dari luar negeri, mari kita selfie!

Kalau soal tarif pengiriman antara Kantor Pos maupun jasa titipan lainnya sebenarnya tak jauh beda karena memang kompetitif. Kalau masalah lama paket tertahan biasanya karena ada urusannya sama bea cukai. Kalau izinnya lengkap atau memang tidak perlu ada izin kepada instansi terkait, biasanya mah cepat-cepat saja...

DHL di Terminal Kargo

Jalan kaki dari Kantor Pos, ada terminal kargo yang berjejer penyedia jasa kargo. DHL terletak di paling kiri terminal kargo.

Ada dua bagian, inbound dan outbound. Kalau teman-teman lihat foto di bawah, di dalam pagar itu bagian inbound-nya, yaitu berisi paket-paket yang datang dari luar negeri. Sedangkan bagian outbound adalah yang akan dikirim ke luar negeri. Ada berjejer karung yang ditandai dengan kode tujuan untuk dokumen atau paket-paket kecil. Kalau paket yang besar ya tidak dikarungin tapi tidak masalah karena semua ada barcode-nya. Sistem barcode dalam urusan perpaketan ini katanya pionirnya adalah DHL, lho.


Di bagian outbound tertempel jadwal pesawat yang membawa kiriman-kiriman keluar DHL. Sebagian besar pesawatnya adalah Singapore Airlines, ada juga Emirates maupun Korean Air. Sirik aku sama paket-paket DHL, naiknya aja SQ! Di bagian ujung, ada pintu langsung menuju apron, atau parkiran pesawat.

Bagian inbound terminal kargo DHL.

Setelah dari DHL, kembalilah kita menuju KPPBC Soekarno Hatta untuk makan siang. Setelah itu, semestinya kami berkunjung ke salah satu terminal bandara. Namun karena suatu sebab, rombongan di bus yang aku tumpangi tidak bisa masuk. Jadilah kami kemudian kembali ke Jakarta. Kecewa pastinya tapi rasa kecewa ini pasti dibalas oleh Tuhan kebaikan yang sangat banyak! Meski begitu, aku senang sekali bisa mengikuti acara ini! Oh ya, sebagai penutup postingan ini, silakan memandang kolase foto-foto selfie di bawah ini, hahaha! Bye!


KPPBC Tipe Madya Pabean Soekarno Hatta
pli.sh@yahoo.co.id
www.beacukai.go.id
www.bcsoetta.net

Nggak Bersyukur

Mau cerita tentang hari ini. Tadi kan aku datang ke sebuah acara ya, seminar gitu deh. Rahasia seminar apaan. Tapi aku mau bahas sneknya. Tiket seminar tadi sudah termasuk morning snack, lunch, dan coffee break. Registrasi pagi, setiap peserta diberi satu dus snek dan satu kotak jus. Isi dus sneknya berisi akua gelas 240ml, Vit deng, kue sus, dan lontong/arem-arem.

Wuaaah, aku kan lapar tuh ya. Jadi aku langsung membuka kotak sneknya dong ya. Eh pas susnya aku gigit, rasanya menyedihkan. Kayak rasa tepung gitu. Ya emang sih dari tepung pastinya... tapi gitu banget rasanya. Baru satu gigit, tak taruh lagi ke dusnya. Kemudian aku mencoba lontongnya, juga maaf, aku kurang suka. Isi lontongnya dikit banget dan baru bisa ditemukan setelah beberapa gigit sepertinya. Akhirnya nggak kuselesaikan makan lontongnya.

Kalau dipikir-pikir, kok rasanya aku nggak bersyukur banget ya... ada makanan kok nggak dihabiskan. Kan masih banyak orang yang kelaparan nggak bisa makan sesuka hati. Tapi aku juga mikirnya... aku nggak mau kasih ke perutku yang merupakan pemberian oleh Tuhan ini makanan yang nggak enak. Sudah nggak enak, nambah-nambahin karbo lagi, apalagi aku sudah overweight gini. Kan aku harus sayang badan... T.T

Memang aku tuh hobinya galau-galau nggak penting begini...


Memberi

Jaman-jaman kuliah semester awal, ada jadwal kuliahku satu hari hanya satu mata kuliah. Sialnya pelajarannya waktu sore hari. Kampusku yang di Depok, sedangkan rumahku di Jakarta. Jadinya, aku harus naik kereta ke arah Depok barengan jam pulang kerja. Ada yang pernah atau setiap hari mengalami pulang naik kereta di jam-jam menyebalkan?

Mana dulu tuh ya, masih ada kereta ekonomi. Lumayan buat irit, lha dulu kereta AC 5.500 kalau naik ekonomi 1.500. Kan lumayan banget bisa buat jajan gorengan 4.000-nya. Pernah suatu hari aku naik kereta penuhnya nggak nahan. Bener-bener berasa udah nggak ada spasi buat kaki. Padahal kan spasi buat badan lebih besar ya. Jadi kalau di bawah kaki aja udah ngepas banget berdiri, gimana pas bagian badan? Miring-miring lah senggol-senggol badan orang. Aku nulis apa sih, ada yang ngerti ngga maksud kalimatku? Hahahaha!

Nah, kayak gitu deh suasana kereta ekonomi di jam-jam sibuk. Belum lagi ada yang duduk di atas gerbong. Pengen juga sih buat pengalaman, tapi udah ngga boleh ya. Pernah nih aku mau kuliah, pas di stasiun aku naik aku masih dapat tempat duduk. Eh pas beberapa stasiun berikutnya, bener-bener gile deh rasanya udara aja nggak bisa masuk. Di depanku banyak orang yang pegangan badannya menjorok ke arah yang duduk saking penuhnya.

Aku duduk nih ya. Eh ada ibu-ibu berdiri. Nggak pas depan aku persis sih, agak jauhan. Ibu-ibunya menurutku udah agak tua 50-an tapi yang masih kuat berdiri gitu. Trus aku galau. Kasih nggak ya kursiku, kasih nggak ya. Lha yang di depannya persis nggak ngasih tempat duduknya. Trus ibunya juga kelihatan sehat dan kuat. Tapi udah tua ibunya, aduh kasih nggak ya kasih nggak ya. Tapi kalau aku kasih, ya aku bakal berdiri kepayahan miring-miring, panas lagi nggak ada AC.

Aku kirim pesan dong ke ibuku.

"Buk di depanku ada ibuk-ibuk sebenernya sih kayaknya masih kuat tapi udah tua, meski nggak tua-tua banget. Hm... tapi kalau aku kasih, ini kereta penuhnya nggak nahan, huft." Waktu itu memang baru kali itu aku naik kereta yang sepenuh itu. Nggak penting kan kegalauan gue?

Jawaban ibuku cuma, "Ya yang mana aja yang bikin kamu tenang."

Akhirnya aku kasih tempat duduk ke ibunya. Ya aku harus berdiri sedikit kepayahan dan badannya didorong-dorong tapi emang lebih tenang sih. Toh 'tersiksanya' nggak sampai 10 menit. Masih 17 tahun ini... dulu...

Tapi emang ya memberi itu bikin tenang... 

Kalau di bus misalnya ada pengamen yang menyanyikan lagu yang aku tahu plus suaranya bagus, ya sebisa mungkin dikasih. Barang 500 atau 1000 atau lebih. Tapi kadang-kadang suka ada tuh yang minta-minta nggak pakai nyanyi, jujur aja kadang males ya ngasihnya tapi kadang-kadang pengen ngasih aja. Lagian dia minta-minta atau nanti duitnya bakal diapain bukan urusan kita lagi kan. Yang pentingnya kita memberi...

Di samping memang pasti banyak keuntungannya, makin banyak rezeki, balasan yang baik dari Tuhan. Tapi rasanya tenang aja gitu... Semoga kita jadi orang yang senang memberi yaaa...

❤❤❤

Dua Cerita Dari Bandara

Memang ya, kehidupan itu penuh dengan kejutan.

Rabu minggu lalu (5/11) ceritanya aku pergi ke Jogja untuk menjenguk nenekku yang masuk rumah sakit. Katanya, nenekku kangen sama aku yang sudah lama banget nggak ke Jogja. Aku naik pesawat dari Halim. Aku suka sekali, karena dari rumah sampai ke Halim hanya 10 menit aja dong. Sayangnya, aku nggak lihat jet pribadi yang suka dipakai Syahrini untuk foto. Ya abis, pesawat di Halim teng tlecek akeh banget, nggak tahu yang mana deh tuh ya.

Hahaha, nulis paragraf kok kalimatnya sumbang semua.

Ruang tunggu Bandara Halim Perdanakusuma menurutku nyaman, meski kecil. Kalau dibandingkan dengan Adisucipto, masih nyaman Halim. Lagi asik foto-foto ruang tunggu, eh ada yang manggil aku dong.

"Una... Una!"

Hm, siapa ya itu... Wuah, ternyata bulik tanteku, Lik Tante Anna, yang lebih jelasnya adalah sepupu dari ibuku. Lik-nya di-strikethrough soalnya pas di bandara aku manggil Lik Anna katanya jangan keras-keras kok ketok ndesa banget kalau pakai Lik, wahahaha! Beberapa minggu sebelumnya kami juga bertemu di Rumah Sakit Fatmawati waktu menjenguk tanteku yang lain yang sedang sakit.

Ternyata tanteku ini bersama suaminya hendak pergi ke Wonosobo. Ngobrol dan nggosip lumayan banyak, mulai dari ngomongin berita terbaru keluarga, pekerjaan tanteku, sekolahku, sampai tentang ibuku yang belum pernah aku dengar sebelumnya, wahahaha... Oiya, aku ditraktir Iced Chocolate Starbucks sama Tante Anna. Katanya sih ini investasi. Jadi menurut Tante Anna dan suaminya, nraktir ponakan itu investasi. Jadi kalau ponakannya udah pada sukses-sukses, nggak lupa sama tante-omnya, hahaha!

Oke lah Lik! Selfie dulu kitaaa!
Still have to learn how to get best selfies hah! Udah tahu muka gede, di depan gitu, hahaha... salah banget.
Eh, kejutan waktu perjalanan ke Jogja nggak berhenti sampai di situ. Waktu di pesawat, bapak-bapak depanku persis ngeyel banget. Udah mau take off ya, masih telepon lho. Udah ditegor sama pramugarinya, malah nggak langsung dimatiin. Sabar aja deh ya Mbak Pram. Ibu sebelahku ikutan ngedumel jadinya. "Ngeyel banget sih... kalau kenapa-kenapa kan yang celaka kan bukan cuma dia."

Aku juga ikutan nyaut deh, "Ho oh Buk, ck ck ck... nyebelin."

Sudah ngedumelnya, aku mengambil buku kamus kanjiku. Eh belum ada lihat berapa kanji, ibu sebelahku menanyakan apakah belajar kanji itu susah. Rupanya, anaknya juga belajar Bahasa Jepang. Juga belajar Bahasa Prancis dulu di CCF. Juga sekarang belajar Bahasa Italia. Intinya anaknya suka banget belajar bahasa. Ibunya sampai heran kenapa.

Ibunya tanya aku kelas berapa, aku bilang aku kuliah, di FEUI. Semester sebelas, tahun keenam. HAHAHA DIE.

Eh ibunya bilang, "Eh? Saya kira Mbak masih kelas 2 SMA." LALALALALA SO HAPPY! BECAUSE I'M CLAP ALONG...... "Anak saya dosen di FEUI lho. Menantu saya."

"Eh? Namanya siapa Bu?

"Firmanzah."

Firmanzah ini mantan dekan fakultasku. Masih umur 32 tahun sudah jadi dekan dan merupakan profesor termuda di Indonesia. Jadi dekan hanya tiga tahun kemudian dijadikan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi. Ibu mertuanya bercerita banyak tentang bapak yang biasa disapa Pak Fiz ini. Salah satunya, ia bercerita pernah ada murid S3 yang akan sidang. Eh Pak Fiz bangunnya telat aja dong. Bukannya buru-buru malah mainan kucing dulu. Beliau juga bercerita bahwa Pak Fiz ini memang cita-citanya menjadi dosen dan selalu memikirkan mau dibawa ke mana rakyat Indonesia ini... 

Balik ke ibu sebelahku yang bernama Ibu Ruri ini. Beliau bekerja di bidang medis, lebih tepatnya anestesi. Hobinya menonton live jazz music. Setiap tahun dia pasti nonton Java Jazz dan sampai 2010 ia selalu menonton festival jazz di Belanda (aku lupa namanya). Aku sirik pengen juga tiap tahun ke Belanda, hahaha. Ibu Ruri pergi ke Jogja untuk menengok ibunya yang berumur 98 tahun. Masih kuat jalan katanya, semoga aku juga panjang umur!

Selfie dulu kita Buk!

Ra fotogenik yo ben. Dengan peace yang terpotong.
Aku lagi rajin selfie, eh dikomentarin katanya kalau suka selfie tuh kayak orang lagi jatuh cinta. Hm, jatuh cintanya sih iya tapi dari dulu jatuh cinta ngga serajin ini tuh selfie-nya. Bukan karena apa-apa sih, tapi karena kamera baru, hehehe!

❤❤❤


Hoyu Colored My Hair... and Heart

Percakapan model begini seringkali terjadi antara aku dan mamaku ketika... kami 'mengkonsumsi' barang Jepang. Baik itu saat makan kue dari bakery Jepang, makan pasta by Japanese chef, coba pembersih daki paling hits dari Jepang, atau make up remover berbentuk facial wash merek Jepang. Begini.

"Gila yaaa... Jepang itu, semua hal itu memang diusahakan supaya sempurna."

"Ho oh, made for perfection banget..."

Sampai sekarang selalu terkesima kalau mengkonsumsi produk Jepang. Jarang sekali dibuat kecewa. Tapi bagaimana ya kalau produk cat rambut? Aku belum pernah sebelumnya. Makanya pas datang ke acara Free Hair Coloring dan Talkshow dari Hoyu, aku penasaran ingin mencobanya. Kalau belum pernah dengar Hoyu, Hoyu ini yang memproduksi cat rambut paling hip bermerek Bigen. Tahu kan?

Kemarin (2/11) aku datang ke acara Hoyu di Blok M Plaza. Ada section untuk free coloring dan ada section talkshow, ada stage dan beberapa tempat duduk di depannya. Agak ragu-ragu mau dicat sekarang atau nanti yaaa... soalnya kan mau nonton talkshow-nya dulu. Padahal mah banyak yang nonton sambil pakai shower cap gitu. Ah tapi aku ntaran aja deh abis talkshow... *galau sendiri*

Talkshownya terdiri dari dua segmen. Segmen pertama mengulas mengenai produk Hoyu. Pembicaranya Ibu Andriani dan Bapak Otto Hermansyah dari Product Development PT Hoyu Indonesia. Salah satu produk Hoyu, Bigen Powder Hair Dye sudah ada di Indonesia hampir 30 tahun lamanya. Produk tersebut sangat mudah ditemukan di supermarket bahkan di warung terdekat. Namun kala itu produknya impor dari Jepang, jadi di Indonesia hanya distributor saja. Namun sejak 2004, berdirilah PT Hoyu Indonesia dan memiliki pabrik di Karawang.

Produk Bigen yang dijual di Indonesia ada lima macam. Nah, secara keseluruhan produk pewarna rambut dibagi dua fungsi yaitu penutup uban dan warna fashion. Tentu saja kelimanya mampu menutupi uban. Namun produk Hoyu utama untuk penutup uban ada tiga:

1. Bigen Powder Hair Dye.
Ini yang paling hits. Produk ini tidak mengandung amonia dan tidak perlu dicampurkan ke hidrogen peroksida, hanya dengan air saja. Dioleskan di rambut hingga merata, tunggu 20-30 menit, dan kemudian bilas dengan air. Pilihan warnanya ada dua, black dan brown black.


2. Bigen Speedy Hair Color Conditioner
Sesuai namanya, Speedy. Pemakaian pewarna rambut jenis ini hanya lima menit, teman-teman! Jadi kapan saja bisa digunakan. Buru-buru ke pesta, tapi ubanmu banyak? Tinggal pakai Bigen Speedy satu ini. Untuk aplikasinya, Bigen menyediakan sisir aplikator. Tinggal taruh pewarna dan developer 1:1 di sisir aplikator tersebut, lalu sisirkan ke rambut deh. Untuk pria karena biasanya butuh lebih sedikit, satu boks bisa digunakan untuk beberapa kali pemakaian. Pilihan warnanya ada natural black, brownish black, dark brown, dan natural brown.

3. Bigen Speedy Conditioning Color
Bigen yang satu ini lebih sering dikenal sebagai Bigen Ladies Speedy karena lebih diminati konsumen ibu-ibu. Memiliki enam ekstrak tumbuhan dan juga melembutkan rambut. Pemakaiannya 10 menit saja. Ada empat pilihan warna deep chestnut, medium brown, brownish black, dan natural black.


Untuk fashion ada dua jenis, yaitu:

1. Bigen Prominous Color Milky
Bigen ini dikhususkan bagi perempuan yang ingin tampil gaya. Ada easy comb-in applicator-nya sehingga aplikasi pewarna rambut menjadi lebih muda. Ada tujuh pilihan warna dari natural black sampai yang paling terang, light copper blonde. Kalau rambutnya panjang dan tebal, biasanya butuh dua boks.

2. Bigen Silk Touch
Produk ini mengandung silk protein dan ginseng ekstrak yang membuat rambut menjadi lembut. Wanginya pun wangi bunga... penasaran deh. Pemakaiannya sekitar 25 menit dan memiliki lima pilihan warna: natural black, chocolate brown, apricot copper, mystic violet, dan passion mahogany.


Di acara tersebut, aku melihat produk dari Kracie. Ternyata, Kracie ini kalau di Jepang merupakan sister company-nya Hoyu. Kracie ini dulunya adalah Kanebo Home Products. Tapi tidak ada pabriknya di Indonesia, jadi produk Kracie yang dijual di Indonesia adalah produk impor dari Jepang. Produk Kracie yang paling aku suka adalah, produk mainannya! Yang bisa dimakan itu lho. Sekitar sebulan lalu, aku bermain Kracie Soda Nerunerunerune Candy bersama sepupuku. Btw, aku berumur 23 tahun, sepupuku 22 tahun.

Beberapa produk Kracie yang dijual di Indonesia antara lain Ichikami, rangkaian produk perawatan rambut, Hadabisei, produk perawatan wajah, dan Naive, produk pembersih wajah. Aku sendiri pernah membeli kondisionernya Ichikami. Saat di acara, aku tertarik produk Ichikami Hair Treatment Water. Kata mbak-mbak Hoyu-nya, produk yang itu memang tidak semua store ada. Tidak seperti sampo dan kondisionernya yang dapat ditemukan dengan mudah di supermarket.

Ichikami by Kracie.
Naive by Kracie.
Di segmen kedua, masih ditemani Ibu Andriani, ada juga Ibu Devina, seorang dokter muda dan Nola, personal B3. Nola menceritakan mengenai pengalamannya yang mengenal cat rambut baru ketika sebelum punya anak. Selain itu ternyata dengan mewarnai rambutnya, menjadikan lebih bervolume. Ini disebabkan rambutnya yang dasarnya lepek. Sedangkan Ibu Devina menjelaskan mengenai kesehatan rambut dan kegiatan mewarnai rambut dari sisi medis.

Kegiatan mewarnai rambut sebenarnya adalah menyiksa rambut. Makanya harus ditanyakan ke diri masing-masing, sanggup nggak maintenans rambutnya masing-masing setelah mewarnai rambut? Karena setelah diwarnai jika tidak melakukan perawatan., rambut akan semakin kering dan bisa-bisa juga bercabang dan kusam. Ibu Devina menyarankan sebaiknya kalau mewarnai rambut harus masker seminggu kemudian dan tiap dua minggu. Tak lupa menggunakan kondisioner, creambath, dan leave on treatment.

Ibu Devina juga menjelaskan kalau keramas itu nggak baik lho kalau diusek-usek di rambut. Sebaiknya diusek-usek di tangan sebelum ditaruh di rambut. Kemudian meratakannya dengan sisir atau pelan-pelan. Karena usek-usek di atas kulit kepala itu menyebabkan friksi dan menjadikan kulit kepala tersiksa. Sama halnya dengan mengeringkan rambut dengan handuk. Sebaiknya ditepuk-tepuk.


Usai talkshow aku mendaftar untuk free coloring. Setelah mengisi formulir, aku mendapat nomor undian dan nomor antrean 160. Rambutku dipegang oleh mbak penjaga meja registrasi dan karena rambutku agak panjang dan tebal, membutuhkan dua boks!

Aku dicattt. Maap yah Mbak rambut saya penuh ketombe.
Gue nggak pernah pasang foto diri sebanyak ini sebelum ini suer.
Aku harus menunggu satu jam sampai rambutku matang. Kemudian aku duduk lagi sambil melihat Nola mendendangkan lagu. Aku nggak ada yang tahu lagunya. Maaf Mbak Nola, hehehe. Usai Mbak Nola menyanyi ada undian doorprize. Lima nomor yang diambil. Eh, banyak nomor yang hangus karena pastinya pemilik nomor awal sudah pada pulang. Empat nomor sudah didapat... kurang satu hadiah utama. Mbak Nola menyanyi satu lagu lagi sebelum undian hadiah utama. Ehhh...

Keluar nomorku 160! HAHAHAHAHAHA! Aku dapat LED TV 32". Woo-hoo! Tapi tapi, iki nggowone piye TV-ne?

Aku maju ke depan pakai shower cap gitu. Ibu-ibu dua dari kanan tadinya pakai tapi karena tahu naik panggung dicopot. Pas lihat fotonya, nyesel sih nggak copot shower cap. Tapi rambutku panjang gini, ribet yaaa. Ya sudah lah ya, kayak punya malu aja... ke kantor ASEAN aja dulu oblongan.

Gaul banget kan gue maju di panggung pakai showercap. Itu mbak paling kanan juga gaul! Toss! Terimakasih Tari, sudah moto aku, hehehehe.
Pulang-pulang bawaanku banyak, dua goodie bag sama LED TV 32". Niatku, usai acara talkshownya aku hendak makan sus di supermarket Papaya di Blok-M. Eh dapat banyak hadiah begini, next time lah makan susnya. Saking girangnya dapat TV, naik taksi cuma 35 ribu kubayar 50 ribu, hahahahaha *tumben* Eh eh, pada penasaran rambutku warnanya kayak apa nggak? Penasaran dooong... Ini kutunjukin!



Jadi loh warnanya keluar. Sama sekali nggak kecewa. Padahal rambut hitam bagian pangkalku sudah lumayan panjang. Hoyu yang punya motto Color Your Heart ini memang benar mewarnai hatiku. Aku suka karena berhasil pewarnaannya. Selain itu tingkat amonianya sangat rendah, yaitu dua persen. Biasanya aku kalau pakai cat rambut, tiga-empat kali keramas masih suka kebau amonianya. Ini baru sekali keramas di rumah sudah tidak tercium baunya.

Mbak-mbak dan bapak dari Hoyu-nya juga sempat terkesima *pret* karena di rambutku warnanya jadi. Tahu nggak aku pakai Bigen varian yang mana? Varian penutup uban? Enak ajaaa! Hihihi, aku pakai ini nih, Bigen Prominous. Eh tapi yang foto sama aku bukan warna yang kupakai. Aku pakainya Light Copper Blonde 8-34 sedangkan yang di foto Golden Copper Blonde.

Biasa aja kali mukamu Un...


Foto di atas, isi dua goodie bag yang aku dapatkan. Lima jenis produk Bigen, Naive Facial Cleansing Foam Rose Extract, Hadabisei Eye mask, kondisioner Ichikami, handuk, dan pouch. Serta hadiah yang tak terfoto, Toshiba LED TV 32". Hihihi, terima kasih Hoyu!

Pernah pakai produk Bigen, guys?



Website Hoyu: www.hoyu.co.id
❤❤❤