Reggae

Tiga hari mendatang tepat dua tahun aku nggak cukur rambut. Penting amat yak inget-inget tanggal potong rambut terakhir. Sebelum ini eike nggak pernah tuh namanya punya rambut di bawah pundak, selalunya potong pendek lanang. Panjang dikit potong lagi, sumuk je. Nah, sejak eike gondrong dan kriwil, sudah 87879483784 orang ngelokke aku yang nyerempet-nyerempet ke arah reggae reggae gitu deh.

Rambut gue oke beud yak...
Misalnya gini. Nggak usah jauh-jauh teman atau orang lain, bahkan sodara deket juga suka ngelokke. Kayak:
"Wezeh anak pantai..."
"Kok gak nyanyi lagu rasta rasta aja Un?"
Bahkan baru dua hari lalu bapaknya temenku nanya ke aku, "Kamu gak ikut komunitas reggae aja, Na?"

Jiah... emangnya aku ada tampang suka lagu reggae apa yah. Perasaan kan tampangku punkrock, tampunk jorock. Bukan tampang reggae. Kalau dikomen anak pantai, iya juga sih, kan aku 11-12 ama Pamela Anderson, Baywatch gituh :P

Lalalala...
Sama lagu reggae ya seneng-seneng aja dengernya, soalnya lagu reggae kan selalu enakeun didenger tapi manakutahu nama artis reggae selain Bob Marley dan Steven & The Coconut Treez. Lagu reggae di playlist komputerku juga cuma Bad Boys, Reggae's On Broadway, Ganja Gun, dan beberapa lainnya. Itu juga biasa ajah aku. Masih gandrung sama lagunya Sujiwo Tejo aku mah... lalalala...

Apa gitu yak kalok gondrong keriting mengarah nggimbal tuh diasosiasikan sama reggae reggae?
Kamu suka gak lagu reggae?

Blog Dalam Dunia Akademik #2

Setengah awal bulan Januari, aku tidak sempat mengisi blogku. Pas UAS dan sebenarnya sih bukan karena kerajinan sinau. Tapi karena sibuk mikirin UAS, mikirin thok thil kagak sinau-sinau. Etapi bukan berarti aku nggak ngeblog. Aku ngeblog tapi di blog kelas.

Salah satu kelasku, Ekonomi Internasional Lanjutan yang merupakan kelasnya Ibu Mari Elka memiliki sebuah blog. Kak Kiki, salah satu dosennya yang juga merupakan asisten Bu Mari sepertinya ingin membentuk suasana kalau belajar itu menyenangkan. Semua tugas-tugas kami di kelas itu tidak perlu kertas melainkan hanya tinggal mengisinya di blog kelas itu.
Banner blognya.
Masing-masing dari mahasiswanya diberi akses ke blog itu. Kami diminta menonton video dokumenter dan mengulasnya. Kami diundang ke acara lecture yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan bakal mendapat nilai tambahan kalau mereviunya dalam blog itu. Tugas mengolah data dan analisisnya bahkan dinamai oleh dosenku: Bermain-main dengan data. Dan terasa bedanya kalau tugas itu harus dibuatkan paper atau makalah.

Dengan 'hanya' posting di blog, tugasnya jadi berasa lebih gampang dan santai. Persis dengan satu kategori yang dibuat oleh Kak Kiki dalam blog: fun. Postingan terakhirku di sana (kalau nggak salah aku post 4 postingan di sana) membahas mengenai intra-industry trade dan menyampaikan kebingunganku mengenai supermarket yang menjual Pocari Sweat made in Indonesia dan made in Japan dalam satu rak dengan selisih harga yang jauh banget. Nggak mutu amat yah postinganku. Abisnya nek ilmiah-ilmiah, ora mudeng... :P

Pocari dan Pocari

Menurutku blog dalam pendidikan itu:
1. Buat penyaluran gagasan ilmiah tanpa media yang formal-formal amat macam jurnal atau paper ilmiah.
2. Buat guru bisa untuk menyampaikan materi.
3. Bisa dijadikan wahana yang fun untuk mengerjakan tugas akademik.
4. Berguna buat yang lagi ngesearch di google kali-kali lagi searching materi akademik dan tau-tau diantar ke blog kita.

Semoga mata kuliah yang kuambil ke depan ada yang pake blog lagi gitu... Kan asyik...

Ngguyu-Ngguyu Dewe

Sempat beberapa bulan lalu pergi ke Dieng, nah tidurnya kan sekamar berempat. Ada dua bed. Bed yang pakai dipan buat para teman yang lebih tua, sementara eike dan Mbak Idah yang masih muda-muda di bawah. Jadilah aku tidur bersama dengan Mbak Idah. Keesokan harinya, balik ke guesthouse setelah muter-muter ke Dieng, Mbak Idah pun cerita... kalau aku tidurnya sambil ketawa-ketawa sendiri. Aku pun nggak percaya dong ya, masak sih ah...

Lalalalala...
Udah gitu Mbak Idah mraktekkin gimana aku ketawanya. Kayaknya meski aku ketawa sendiri pas tidur nggak akan kayak gitu deh. Mbak Idah menirukan ketawaku malah lebih terlihat atau terdengar seperti Mak Lampir di film-film. Huuu... Dan ternyata teman-teman yang lain mengiyakan mendengar aku ngguyu-ngguyu dewe. Mamam... perasaan nggak mimpi aneh-aneh deh...

Biasanya aku suka senyum-senyum sendiri kalau lagi seneng atau mau ada keberuntungan datang. Semacam premonisi gitu. Atau nggak kalau keingetan apa gitu yang lucu-lucu. Mana besok mau main ke rumah temanku Kartika bareng si Aji. Semoga pas tidur di rumahnya nggak ketawa-ketawa. Bisa dikatain mulu tar aku, fufufu T.T

Kalau kamu, pernah nggak ngguyu-ngguyu dewe pas tidur? *nyari temen*

Raja Sunda, Rajanya Kuliner Sunda

Sukanya aku sama masakan Sunda salah satunya karena masakannya tuh sederhana, nggak kebanyakan bumbu macam masakan Minang tapi tetep enak dan seger banget. Ada lalapannya lah, trus ada juga yang pakai sayuran mentah. Hmmm... Aku pun sesekali datang ke rumah makan Sunda untuk sekadar makan karedok atau nasi timbel. Nah biasanya rumah makan Sunda juga menyediakan bebek goreng atau bakar.

Aku sendiri bukan penyuka bebek tapi aku penasaran sama bebek enak Bandung yang ada di Raja Sunda. Raja Sunda yang ber-tagline Rajanya Masakan Sunda menawarkan menu bebek enak Bandung. Menu bebek andalan Raja Sunda ada banyak, antara lain:

Menu Bebek Raja Sunda
❤ Bebek Crispy - bebek goreng yang dibalut dengan tepung khas Raja Sunda
❤ Bebek Goreng – bebek yang digoreng kering
❤ Bebek Bakar - Bebek yang dibakar ditambah dengan saus kecap
❤ Nasi bebek Penyet - menu paket nasi dengan bebek goreng dan tahu tempe beserta lalab dan sambel penyet
❤ Nasi Timbel Komplit – Menu paket nasi yang dibungkus daun dengan bebek goreng, tahu, tempe, rempeyek, dan sambal terasi

Kalau teman-teman penggemar masakan Sunda dan tinggal atau sedang di Bandung nggak ada salahnya untuk mampir ke rumah makan Raja Sunda ini. Raja Sunda ini terletak di Jalan Terusan Pasteur. Menu-menu yang ditawarkan memang serupa dengan rumah makan Sunda lain, dari gurame, nasi timbel, tahu, tempe, dan lain-lain, namun, ada banyak menu specialties dari Raja Sunda. Selain Bebek Crispy juga ada Udang Keranjang, Gurame Bakar Ulam, dan Aneka Timbel Super Top.

Kualitas yang tergaransi disajikan oleh Raja Sunda karena menu gorengan digoreng setelah dipesan bukan sekadar dipanaskan. Ikannya pun segar. Raja Sunda juga menyediakan beberapa ruang VIP dan VVIP bagi tamu yang hendak menginginkan privasi. Reservasi juga bisa dilakukan dengan menelepon nomor yang tertera di bawah ini.

Alamat Raja Sunda:
Jalan Terusan Pasteur No. 63
Bandung Jawa Barat – Indonesia
Telepon & Reservation  : 022 – 6037688

Ngongklok di Wonosobo

Aku mendengar kata mi ongklok pertama kali dari Mbak Ely lewat chat di messenger. Eh itu membaca ding ya. Waktu aku cerita aku lagi di Terminal Wonosobo hendak ke Dieng beberapa lalu, dia bilang, "nanti malam pasti makan mie ongklok ya?" Hah? Apaan tuh? Katanya sih makanan yang terkenal di situ. Oh... sakjane aku nggak gemar macam mi gitu, tapi pengen nyoba ah.

Faktanya, setelah dijemput temanku Mbak Idah di terminal untuk menuju ke Dieng sampai hari berikutnya di Telaga Warna aku nggak pernah tanya-tanya mi ongklok sama Mbak Idah. Sampai Mbak Idah nanya kita mau makan siang di mana pas hari kedua, trus dia kayak nawarin mi ongklok gitu. Mau mau mau. Penasaran kayak apaan sih... Turun dari Dieng nyari mi ongklok. Kata Jeng Idah yang paling enak di dekat kampusnya, nyebutnya sih mi ongklok Longkrang. Tapi buset dah, rame beud, masak mau makan aja antri segala. Wajar sih kalau mendengar ceritanya, enak banget, rame, lumrah to? Akhirnya ngongklok alias makan mi ongklok nggak begitu jauh dari sana.

Mi ongklok.
Mi ongklok ini mi khas Wonosobo, kuahnya kental karena ada kanjinya, diberi ebi, kubis, daun bawang, dan bawang goreng. Ongklok sendiri artinya keranjang bambu yang digunakan untuk merebus mi-nya. Pilihannya ongklok sate atau bakso, bisa makan pakai sate atau bakso. Etapi, ternyata warung yang kami datangi sudah mau tutup jadi wis entek kabeh. Akhirnya makan pake kerupuk kayak gendar aku nggak tau namanya apaan. Si Mbak Idah makan pake gorengan tempe. Temanku yang lain, Mbak Ribut sama Mbak Alaika manakutahu makannya plus pake apa. Minumnya sih aku teh botol... *penting amat dikasih tahu* 

Nek ngaranku rasanya biasa ae dan malah aku agak geli soalnya kuahnya kental banget. Aku belum pernah makan mi dengan kuah sekental itu, seingatku. Kata Mbak Idah sendiri rasanya nggak gitu enak, karena kurang gurih plus kurang kenthel. Aku nggak kebayang sekenthel opo maneh.

Isinya kubis thok. 
Itu kerupuk apaan sih yang di atas :p
Meski menurutku biasa, tapi kalo diajak lagi sama Mbak Idah ngongklok apa maneh ditraktir, wah mau banget deh tuh. Kalau ke Wonosobo, mi ongklok must-eat lah... should try...

Unfashionable Blogger

Dulu, waktu aku belum ngeblog ya bisanya cuma baca-baca, mbuka-bukai blog-blog orang. Blog yang paling seneng kupenthelengi biasanya blog yang banyak foto-fotonya. Dan blog yang banyak fotonya biasanya blog jalan-jalan, blog dandan-dandan, dan tentunya... blog fashion. Pastinya bukan karena aku mengikuti tren mode termutakhir dan mencari inspirasi dalam berpakaian, tapi tentu saja karena aku seneng lihat mbak-mbak cantik di dalam gambar yang dijepret dengan kamera profesional ditambah tone yang ciamik.

Yang ada di hati dan benakku, apa tebak? Yak, aku IRI!

Anyway, kalau blog fashion Indonesia yang beberapa kali aku buka, itu semacam The crème de la crop-nya Evita Nuh, The Merchant Daughter-nya Dian Pelangi, atau Lucedale. Atau fashion blogger luar seperti Cheeserland dan Qiuqiu. Aku irinya mereka cakep-cakep amat sih dandan pakai baju segala rupa kadang menurutku aneh bajunya tapi teteup cakep.

Kiri.
T-Shirt by Joger.
Ransel foldable rucksack by Giordano Outdoor.
Tas non-woven polkadot pink by Daiso.
Celana pendek 10 ribuan by Pasar Tebet.
Sepatu auk apa namanya by Clarks.
Kaos kaki 1 real-an made in China
Kanan.
Daster by Mbah Anis, Kauman, Jogja. *kalo nggak salah*

Nah aku... *mulai curhat*
Pengen sih aslinya pasang foto-foto diri sendiri bergaya bak model dengan foto bokeh dengan begron ngeblur. Masalahnya sih siapa yang mau motoin. Plus emangnya aku fashionable? Kenyataannya nggak sama sekali. Bener-bener unfashionable, kalo nggak kaosan ya di rumah dasteran. Nggak ada sense of fashion blas blas o...

Pengen sih make baju oke-oke trus dipoto-poto. Tapi tar ah kalau sudah fashionable :P