Cicak Di Dinding (Ver. English)

Dari kecil, aku suka lagu Cicak Di Dinding, meskipun aku lebih suka lagu daerah. Waktu kecil, seorang teman ibuku yang berasal dari Connecticut, Amerika Serikat, Kimberly Niles, kuajari lagu itu. Setelah, dua belas tahun tidak ketemu, dia masih hafal lagunya! Hehehe, jangan terpengaruh budaya luar, tapi pengaruhilah mereka dengan budaya kita. (Tapi kalo budaya luarnya bagus, ya ditiru ngga apa-apa ding. :D )

Ngga tahu kenapa, minggu ini aku tidak punya ide untuk membuat blog. Jadilah, aku menulis Cicak Di Dinding versi Bahasa Inggris! Namun, cuma modal GoogleTranslate, hihihi. Maklum, ngga bisa Bahasa Inggris.


Gecko, gecko, on the wall.

Steal~thy cree~p.
Co~me a~ mosquito!
Hap! And then arrested.


Aku lupa, cicak melambangkan apa, dan malas googling-nya. Ngga tahu kenapa, lambang cicak sering digunakan di suku-suku dunia. Dua belas tahun lalu, aku sempat pergi ke Cancun, Mexico, lambangnya cicak. Di Lombok, juga lambang Cicak juga digunakan. Kenapa yah dengan cicak?

*kalo ngga salah, kata bakunya: cecak. Tapi au ah, males liat KBBI. :D
*mohon bantuannya ya, biar liriknya tidak aneh! ;)

Antara Klenik dan Fisika Kuantum

Weleh, ngomongin Fisika saja saya sudah ogah-ogahan apalagi si ‘Fisika’ itu ditambahi kata Kuantum. Tambah ngga ngerti saya dan seharusnya tambah ogah-ogahan. Tapi memang dasar ngga ngerti, ya justru itu sebab saya menulis tentang itu

Jadi gini ceritanya kenapa saya penasaran... *clingclingcling*

Suatu waktu saya pergi untuk konsultasi ke seorang psikolog di daerah kota swasta BSD. Konsultasi itu menyusul pemberitahuan hasil psikotes saya yang hasilnya sudah keluar. Kebetulan hasilnya menunjukkan bahwa saya cerdas di bahasa tapi di kecerdasan lainnya lemah sekali, bahkan tidak mencapai tingkat rata-rata. Cerita demi cerita, ibu saya yang menemani saya waktu itu (emangnya ada banyak?!) bercerita kepada psikolog berambut horor itu bahwa ayah ibu saya alias kakek saya ialah seorang sastrawan, baik penulis cerpen, novel, naskah drama, penyiar radio, maupun pemain teater. (Padahal sekolahnya HI dan teknik!) Kemudian si psikolog yang agak kejawen itu menjelaskan jika saya ingin bakat kakek saya tersalur kepada saya, dianjurkan untuk mengunjungi kuburan kakek saya dan meminta do’a di sana, maka energi pun tersalur. Saya pun mangap tercekat. “Ha?” Namun ibu saya mengangguk mengiyakan. Kemudian ibu saya menanya anjuran lain karena keluarga saya tidak terbiasa untuk mengunjungi makam secara rutin. (Bukan berarti ngga pernah lho! Tapi jaarraanngg bangeett.)

Anjuran kedua dari si psikolog itu: menyiapkan baskom yang telah diisi air dan diberi kembang, lalu berdo’a kepada Sang Gusti dan memusatkan pikiran. Tambah mangap saya kali ini.

“Air itu cuma perantara saja,” katanya.

“Kuwi ki fisika kuantum je,” celetuk ibu saya.

“Apaan! Kuwi mah klenik!” Hati dan benak saya teriak seperti itu.

“Iyo, itu fisika kuantum. Jadi... blablabla,” jelas si psikolog dengan panjang lebar dan padat. Namun dengan singkat kata, saya ngga ngerti.
...


Barusan hari ini ibu saya bilang, “Klenik yang sudah ada dari jaman dahulu mungkin itu fisika kuantum. Kenapa fisika kuantum? Karena memberikan energi tetapi belum bisa dibuktikan secara ilmiah.”

Tetep aja saya: NGGA NGERTTIIII!!! Mumet van lieur lah saya ini...
...


Ada yang bisa bantu jelaskan?

Film: Harry Potter and the Half-Blood Prince

Kekhasanku, sesudah menonton sebuah film atau sinetron -atau sebutlah drama- Jepang dan Korea, pasti aku langsung merasa hmm... yang bahasa lainnya, jatuh cinta. Khusus untuk film dan sinetron yang aku suka, tetapi. Contohnya, ketika aku selesai menonton dorama Jepang Nodame Cantabile, sebuah drama yang mengisahkan tentang sekolah tinggi musik, aku langsung mencari info mengenai pemainnya di situs DramaWiki. Sama halnya, setelah aku menonton drama Korea terbaru yang lagi hot-hotnya, Boys Before Flowers. Atau, apabila aku jatuh cinta dengan film barat, aku mengunjungi IMDb. Kebiasaanku yang lain, ketika selesai membaca sebuah buku fiksi, misalnya ketika aku membaca Twilight, aku langsung penasaran filmnya. Tapi kali ini sebaliknya, setelah aku menonton film Harry Potter terbaru, aku malah ingin membaca bukunya.

Kemarin, 17/7, aku dan teman-teman, Ira, Tinneke, Athifa, Fauqiah, Meydina, pergi ke Mega Bekasi *jauh banget yak?!* untuk menonton film Harry Potter and the Half-Blood Prince. Tadinya aku tidak ingin ikut berhubung aku barusan menghilangkan kartu ATMku dan ingin ke dokter gigi. Tapi akhirnya ikut. Dan alhamdulillah, ternyata ditraktir. :D Terimakasih, Bana, Athifa, dan Fauqiah! ;)

Kover Film Harry Potter 6
Kover Film Harry Potter

Dari sepuluh bintang penilaian, aku memberinya tujuh. Mungkin, karena aku tidak membaca sehingga ngga dong dengan ceritanya. Ceritanya berawal ketika Horace Slughorn diminta Albus Dumbledore untuk mengajar kembali di Hogwarts. Slughorn mengajar kelas ramuan, dan Severus beralih mengajar kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Horace ternyata diminta mengajar kembali dengan tujuan khusus dari Albus. Sementara, Severus Snape melakukan Sumpah Yang Tak Bisa Dilanggar dengan Narcissa Malfoy untuk selalu membantu dan melindungi Draco Malfoy. Di Harry Potter and the Half Blood Prince, Albus Dumbledore meninggal dunia. Siapakah Half-Blood Prince? Siapa pula yang membunuh Albus Dumbledore? Dan, untuk tujuan apakah Slughorn diminta kembali mengajar oleh Albus? Saksikan film Harry Potter yang terbaru ini! *sebenernya ngga usah sok-sokan pake pertanyaan, wong pasti yang baca bukunya juga tahu. :D *

Menurut aku yang ngga baca bukunya, film ini ngga ada klimaksnya. Datar, biasa aja. Beda waktu menonton film ke satu atau film yang lainnya. Greget gitu. Kalau film terbarunya biasa aja, seperti tidak ada ceritanya. Apalagi endingnya! Seperti bukan ending. Waktu melihat adegan endingnya, kupikir masih panjang filmnya... Ternyata! Agak kecewa, tapi daripada sutradaranya aku, pasti lebih banyak yang kecewa. Hehehe... Apalagi ada yang aku ngga ngerti, pas aku tanya ke teman aku yang membaca bukunya, kata dia, "Susah dijelaskan!"

Tapi bukan berarti film yang disutradarai David Yates ini menurutku buruk, film ini masih sama, menyajikan efek-efek yang menawan, seperti dari film pertama. Beberapa adegan terlihat kocak dan mengundang tawa para penonton. Belum lagi, ketika kami menonton film ini penuh dengan ketegangan. Kenapa? Karena hari kami menonton, kejadian bom Ritz Carlton dan J.W. Marriott terjadi. *ga nyambung* Menonton film ini, membuat penasaran bagaimana kelanjutan film Harry Potter yang ketujuh Part-1 dan Part-2-nya.

Yah, pokoknya tonton saja deh! :D

sumber foto: http://www.collider.com/uploads/imageGallery/Harry_Potter_Half_Blood_Prince/harry_potter_half-blood_prince_movie_poster_01.jpg

Chasing Liem Swie King

Setiap orang punya tontonan olahraga favorit. Atau pilihan keduanya, tidak suka menonton olahraga. Kalau aku suka menonton pertandingan bulutangkis dan sama sekali tidak menemukan 'kenikmatan' dalam menonton pertandingan Formula-1, sepak bola, dan tenis. Aku sering berteriak-teriak menyoraki para pemain bulutangkis di depan layar kaca, biasanya yang ditayangkan adalah pertandingan Indonesia Open. Lumayan aku tahu beberapa pemain bulutangkis, dari Taufik Hidayat, Minarti Timur, Maria Kristin, dll. Tapi, untuk seorang yang lahir pada era 90-an, sepertiku, seharusnya tidak mengenal Liem Swie King.

Tapi, setelah membaca buku biografi Liem Swie King yang berjudul Panggil Aku King, aku merasa sering menonton pertandingannya. *lebai. Padahal waktu itu aku belum lahir. Sudah dua biografi pemain bulutangkis Indonesia aku baca, sebelumnya aku membaca buku biografi Taufik Hidayat yang aku lupa judulnya apa. Akan tetapi, membaca buku biografi King ini sungguh berbeda. Tak bisa dijelaskan seperti apa rasanya. Pokoknya, seakan-akan aku telah lama mengidolakan King. Setelah membaca buku Panggil Aku King, aku langsung mencari FaceBook-nya, dan dapat! Aku melihat foto poster acara diskusi buku Panggil Aku King oleh Kick Andy di Kinokuniya, Plasa Senayan, 27 Juni 2009. Kupaksa ibuku untuk mengantarkanku, dan syukurlah dia mau... Horeee-

Aku di Panggung Diskusi Buku Kick Andy 'Panggil Aku King'.
Jawab Kuis...
Akhirnya aku ke sana dengan ibu, temannya ibuku, Tante Dinar, dan anaknya, Ditra. Di sana malah ibuku dan Tante Dinar nostalgia berdua tentang Liem Swie King yang dulunya ganteng waktu masih muda. Agh- agak iri sih, tapi mau gimana lagi?! Kemudian, si pembawa acara membuat kuis, menanyakan apa judul episod terakhir Kick Andy, aku langsung aja teriak-teriak jawabannya, eh sama mas-nya disuruh maju. Malu, aku malu... Di depan Liem Swie King lagi. Alhamdulillah, dapet satu goodie bag dari Kinokuniya isinya voucher, gelas, pulpen, dmbl. (dan masih banyak yang lainnya. Hahahahaha...)

Diskusi buku berlangsung dengan durasi dua jam. Pas. Tepat waktu. Diskusi ini menghadirkan penulis Panggil Aku King, Robert Adhi Kusumaputra dan para pemain serta produser dan sutradara film King dari Alenia Pictures. Diskusi terasa sangat informatif, interaktif, apalagi host-nya Andy F. Noya gitu loh... Rupanya memang Kick Andy suka bagi-bagi hadiah, banyak sekali goodie bag yang diberikan kepada penonton yang bertanya dan yang bisa menjawab kuisnya. Waktu sudah berakhir kuisnya, penonton baru boleh diizinkan meminta foto dan tanda tangan Liem Swie King, dan bintang tamu lainnya...

Bersama Liem Swie King.
Aku bersama Liem Swie King di Diskusi Buku Kick Andy
Tante Dinar dengan sukarela memotretku. Untung dia mau, hehehe... Mau masih muda kek mau udah tua kek, Liem Swie King masih ganteng aja, hihihi!

Bersama Andy F. Noya, sama-sama kriwil lho- Hehehe...
Bersama Andy F. Noya, sama-sama kriwil lho- Hehehe...
Kebetulan teman ibuku, suaminya pernah bekerja di penerbit koran yang sama, jadi kenal. Dan aku dikira anak teman ibuku! Kata Andy F. Noya, "Kamu anaknya tho?" Aku langsung bilang, "BUUUKKKAAANNN!!!"

Aku sedang meminta tanda tangan ke Om Robert Adhi di buku Panggil Aku King yang punyanya Mbakku! Aku ngga punya, huhuhu.
Aku sedang meminta tanda tangan ke Om Robert Adhi di buku Panggil Aku King yang punyanya Mbakku! Aku ngga punya, huhuhu...
Nah, lelaki yang tengah itu yang menulis buku biografi Liem Swie King ini. Katanya, karena Liem Swie King adalah seorang yang pendiam, agak susah juga- Tapi akhirnya bisa juga! Sukses yaa-

Begitulah, aku mengejar Liem Swie King, yang pertandingannya saja belum pernah aku tonton. ;)

Beli bukunya dan tonton filmnya!!!