Apakah Eek Bisa Menyublim?

Sedekat apakah kamu dengan saudara kandungmu?

Aku sih perasaan nggak akrab-akrab amat tapi adekku bahkan sampai PAP eeknya ke aku. 😓 Aku nggak marah sih cuma males aja ngapusin fotonya. Sudah gitu tadinya setting WhatsApp-ku foto yang diterima tuh otomatis tersimpan di memori hape, jadi harus menghapus foto di galeri, belum lagi yang di folder 'Recently Deleted'.

Pagi ini adekku menelepon saat aku sedang di toilet.

"Jangan PAP lho, Un..."

"Emang kamu mau tak kirimi?"

"Emangnya padat apa cair? Apa eekmu menyublim?"

Gara-gara adekku bertanya tentang bentuk keluaranku, aku langsung berpikir apakah memang mungkin makanan yang kita makan bisa menyublim kali ya. Soalnya, aku tuh bisa nggak buang air besar selama seminggu. Menjijikkan ya?

Aku sadar kalau aku bukan orang yang melakukan defekasi setiap hari. Makanya aku suka sirik sama orang yang lancar defekasinya, uh wow~ metabolismenya lancar sekali. Aku kok nggak lancar sih, makanya aku gendut kali ya? 😓 Meski nggak sehari sekali setidaknya dalam seminggu 3-4 kali sih. Cuma, aku perhatikan setelah aku mulai mengurangi makan drastis dan melakukan One Meal a Day ala ala sempat aku delapan hari nggak buang air besar.


Meskipun konstipasi, aku tidak merasa perutku bermasalah. Aku pun juga tidak ngedan keras. Makananku menurutku seimbang, aku makan serat yang cukup, dari kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Buah jarang makan sih karena di Jepang buah mahal. 😑 Aku coba makan laksatif natural seperti prune dan fig, juga tidak melancarkan ususku. Aku mengkonsumsi cairan pun bisa lebih dari dua liter sehari tapi tetap saja. Selain itu, meski aku tidak 'mengeluarkan', beratku bisa turun dua-tiga kilo dalam seminggu. 

Lalu makanan yang kumakan itu pergi ke mana?

Aku jadi merasa kotor deh membayangkan makanan yang seminggu lalu kumakan masih berjalan di ususku. Aku berharap benar sih makanan bisa menyublim 😌 Apalagi setelah aku membaca kalau hasil pembakaran kalori dan lemak dalam tubuh adalah karbondioksida dan air. Makanya, aku seneng banget deh kalau flatulensi (buang angin), aku merasa kalori dan lemakku keluar. Selain itu, aku jadi mencoba mengeluarkan nafas lebih banyak dari menarik nafas supaya karbondioksidaku keluar lebih banyak (ngarang aja).

Apa memang aku ditakdirkan metabolismenya lambat ya 😓

4 komentar:

  1. Hmmmm... better ke dokter deh mbak :v.

    BalasHapus
  2. Pap eek astaghfirulloh ��wkwkw

    BalasHapus
  3. Aku ngekek baca ini. Hok o buah neng Jepang larang. Mungkin kamu kurang buah kali ya. Sayur gimana?

    Eh, Na, aku ki yo sering flatulensi tapi nggak kepikiran sampek segitunya, hahaha...

    BalasHapus
  4. Aku juga gak setiap hari na, hahaha. Dulu seh biasa aja gak difikirin. Tapi semenjak menggendud kok ya jadi kepikiran.

    BalasHapus

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!