Travel Light

Sudah beberapa orang mengkomentari,

"You don't have much stuff with you."

atau teman sekamar Jepang yang komentar,

"Nimotsu sukunakunai?" (Barang bawaan nggak sedikit tuh?)

atau sepupuku yang lihat bawaanku trus bilang,

"Itu sih kayak aku pergi tiga hari." 

Foxy mau ikut.

My Life is No Fun

"Your life is no fun!" begitu kata teman baruku yang berasal dari Italia. Dia ini temannya temanku, mereka awalnya bertemu melalui aplikasi wechat.

You don't drink
You don't eat pork
You don't go to club
You never date someone
Your life is no fun!

Aku cuma ketawa aja waktu dia bilang kayak gitu. 😂

"Emang kalau kamu lihat cowok ganteng apa nggak tertarik? Nggak pengen nyapa, ngedeketin, jadi pacarnya, gitu?"

Kalau aku lihat cowok ganteng ya udah trus kenapa. Kalaupun aku naksir aku juga nggak trus pengen punya romantic relationship apalah itu. Kayaknya aku juga nggak minat. Hm, atau belum minat.

"Hah, kok bisa sih? Kamu tahu kan, kita manusia kan punya sisi binatang, pasti ada sisi pengen punya pasangan, ada nafsu, emang kamu nggak ada?"

My #2016bestnine on Instagram

Tahun ini rasanya aku jadi suka menggunakan Instagram. Awalnya bikin ya cuma buat punya-punya aja. Sempat juga dua tahun nggak posting foto di Instagram, nggak tahu asyiknya lah. Sekarang jadi rajin upload foto, pakai hashtag, rajin kasih like, dan Instagram-walking.

Tapi ya gitu, kebanyakan #latepost, karena hampir nggak pernah live posting. Latepost-nya pun kadang-kadang foto tahun lalu yang diunggah. Makanya kadang-kadang suka ada yang nanya, "Lagi di Jepang, Na?" atau "Ikut dong!", padahal mah saya di rumah lagi bobok-bobok...

Seperti tahun lalu, aku mau cerita tentang sembilan foto terbaik di akun Instagram-ku. Iseng aja, nggak ada bahan postingan soale.

My #2016bestnine on Instagram

Rasanya Tinggal di Sharehouse

Hari ini tepat delapan hari aku tinggal di sebuah unit apartemen dengan tiga kamar tidur bersama sepuluh orang lainnya. Ini merupakan pengalaman pertamaku tinggal di sharehouse.

Luas rumah ini sekitar 100 meter persegi dengan masing-masing kamar ditempati oleh empat orang (dua bunkbed). Waktu melihat iklan sharehouse ini aku langsung tertarik karena letaknya dekat dengan Perth Central Business District dan lebih murah ketimbang aku harus tinggal di backpacker hostel. Di iklannya terlihat bagus, rapi, dan bersih. Sampai aku datang untuk viewing untuk memastikan... ya ampun, kapal pecah! Ini mah nggak ada bedanya sama tinggal di hostel (baca: pada berantakan). Tapi ya sudahlah aku malas nyari kamar lagi 🙃

Rumah ini menampung 12 orang, namun ada satu orang Jepang yang barusan meninggalkan rumah ini dan jalan-jalan ke Eropa selama tiga minggu sampai nanti balik lagi.

Dari 11 orang yang tinggal di sini, tiga orang dari Korea, tiga dari Jepang, tiga dari Indonesia, satu dari Thailand, dan satu dari Kolombia.

Tidak sesuai iklannya. Di iklan bersih nggak keliatan barang, hahaha...

Kini, Halo BCA Bisa Via Chat

Rasanya mengirim chat penting tapi cuma di-read doang itu gimana?
Sedih kakak (▰˘︹˘▰)

Lebih sedih lagi kalau langsung di archive chat. Ini cuma chat personal ya. Coba kalau misalnya tanya-tanya atau komplain ke sebuah toko atau perusahaan tapi nggak dibalas? Jadi makin malas dan nggak percaya, nggak sih?

Tapi, kalau di Halo BCA itu nggak akan terjadi. Kayak misalnya di Twitter Halo BCA. Kalau kamu mensyen akun @haloBCA, dijamin tidak sampai tiga menit akan dibalas.


Sebagai bank swasta terbesar di Indonesia, BCA selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi para nasabahnya. BCA selalu menghadirkan inovasi-inovasi demi kepuasan konsumen. Seperti misalnya gerai digital myBCA, dompet digital Sakuku, dan Tahapan XPresi, tabungan praktis tanpa buku tabungan.

Ada Apa Dengan Blue Bird?

Nope. Surat ini bukan surat terbuka mau komplain ke Blue Bird atau apa. Lebih tepatnya bahkan aku tidak berada di posisi untuk komplain. Kalau soal satu ini, yang harusnya komplain ke Blue Bird ya supir Blue Bird-nya.

Cuma mau cerita saja, hal yang menurutku kocak yang terjadi pagi ini.

Ceritanya aku hari ini pesan taksi Blue Bird menggunakan aplikasi di ponsel. Tapi tidak seperti biasanya, map di dalam aplikasi tidak bisa mendeteksi alamat rumahku. Kalau karena sinyal atau GPS rasanya enggak deh karena di rumahku hapeku selalu 4G sinyalnya. Itu pun sampai akhirnya aku juga mencoba dengan menggunakan wi-fi rumah. Ternyata tetap tidak bisa, mungkin aplikasinya error. Sampai aku mencoba lagi dengan sinyal hape dan bisa mendeteksi alamat rumahku. Memasukkan destinasi pun lancar. Sampai creating booking-nya lama banget.

Ya sudah akhirnya kuklik cancel. Itu juga loadingnya lama banget. Ya sudah akhirnya aku memutuskan untuk telepon saja. Apalagi aku butuh taksinya dua jam dari waktu aku memesan. Mepet. Sudah pesan telepon, sudah nih ya.

Aku memesan taksi untuk pukul 10.20. Biasanya setengah jam sebelumnya, taksi sudah sampai. Benar saja, sekitar pukul 09.45 seorang supir taksi menelepon bertanya lewat jalan mana untuk ke rumahku. Akhirnya ia sampai rumah pukul 10 kurang dan kuminta tunggu dulu karena aku belum siap.

Pukul sepuluh lebih sedikit ada yang menelepon aku lagi, tapi nomor landline. Aku angkatlah tapi benar-benar nggak kedengaran kresek-kresek ngunu. Aku bilang nggak kedengaran trus kututup telepon lagi lah sana. Tetap kresek-kresek tapi aku mencoba mendengarkan *alah*

Toilet Tetangga Tak Pernah Lebih Hijau

"Home is where you can poop peacefully."

Aku percaya kalau rumput tetangga seringnya terlihat lebih hijau... kecuali soal pertoiletan.


Mau sebagus apa toilet rumah temanmu, atau secanggih apa kloset di hotel, paling enak dan nyaman memang eek di toilet rumah sendiri -yang mungkin jauh lebih jelek dibandingkan toilet rumah temanmu atau hotel bintang lima.

Aku mengenal beberapa orang yang nyaman-nyaman saja membuang hasil ekskresinya di toilet manapun tapi jauh lebih banyak yang kukenal sulit untuk eek di toilet tempat umum. Dengar-dengar sih, memang ada kecenderungan pada perempuan untuk menunda eek karena malu dan risih sama toilet umum. Aku pun termasuk yang itu, tapi lebih karena nggak nyaman saja. Kalau tak tertahankan, baru bisa terpaksa eek di toilet di tempat umum. Aku bahkan ingat mal mana saja yang pernah kuberikan 'peninggalan' saking jarangnya melakukan defekasi di toilet umum.

Awalnya aku mengira ini persoalan ada air atau tidaknya di toilet. Tahu kan... orang kita terbiasa ada kran dan gayung atau semprotan saat buang air besar. Risih rasanya kalau harus mengelap bagian kau-tahu-apa dengan tisu kering. Tapi ternyata tidak juga. Mau toiletnya berjenis washlet dengan semprotan pantat yang bisa diatur arahnya dan suara flush palsu untuk menutupi bunyi 'plung' agar tidak malu, tetap saja tidak nyaman.