Yang Kusuka Dari Restoran Korea (Reviu Tobak)

Aku lupa tahun berapa pertama kali aku mencoba yang namanya kimchi. Yang aku rasakan waktu itu, whattt? Makanan apa ini? Aneh banget. Enggak enak ibuuu! Sampai belum lama ini, aku makan kimchi lagi. Well, ya memang aneh, tapi aku kok jadi suka ya. Meski aku nggak hanyut dalam Korean Wave, aku nggak paham K-Pop dan hanya sesekali nonton K-Drama, aku suka banget makan makanan Korea! Belum seminggu saja, aku sudah dua kali ke restoran Korea.

Restoran ayam goreng dari Korea semacam Bonchon, Kyochon, dan Lotteria, aku juga sudah coba... Tapi aku nggak terlalu excited makan di situ. Pernah makan di Bulgogi Brothers, yes tentu saja bulgoginya enak, tapi yang bikin aku tambah suka adalah side dish-nya. Waktu farewell party kelas Bahasa Korea yang aku ikuti, kita makan di Gahyo, di dekat Pacific Place. Pas lihat menunya, kok mahal yaaa... aku memesan bibimbab, harganya 85 ribu kalau nggak salah. Tapi setelah dihitung-hitung, ya enggak mahal, wong minum refill, side dish-nya banyak bisa refill, plus dapet dessert. ♥


Seminggu yang lalu, aku pergi dengan sepupuku, Affi, ke Tobak. Restoran Korea satu ini letaknya di Jalan Wolter Monginsidi, di daerah Koreatown-nya Jakarta deh, alias Kebayoran. Kenapa tiba-tiba kita ke sini? Pertama, kita memang mau wisata kuliner, kedua karena terpengaruh mamaku suka cerita tentang Tobak, katanya kimchinya enak. Mamaku memang cerita doang ke anaknya, enggak ngajak-ngajak.

Di Tobak, baru duduk kita sudah disediakan teh hangat. Tapi aku minta lagi yang dingin. Ada handuk basah juga di meja. Lihat menunya, enggak ngerti semua. Mana nggak ada gambarnya pula. Oke lah, mari kita asal. Akhirnya aku memilih Kongnamul Guk (콩나물국). Affi memilih Dolsot Bibimbab (돌솥 비빔밥).

Sambil menunggu pesanan datang, kami diantar side dishes... 11 mangkok sendiri. Ada kimchi, ikan goreng, kentang, dan sayuran. Kata si Affi, tahu gitu beli nasi putih aja, makan pakai side dishes-nya. Kenyang deh!

Teh. Teh apa yaaa ini. Enggak tahu dan enggak nanya, hihihi!

 Parade side dishes! ^^

Aku suka sekali lihat dan makan sayur-sayur gini. Segarrr...

Kimchi! Enaaakkk! Di belakang kimchi ini ada kimchi juga... So, apa bedanya? Setelah aku tanya, kimchi yang di gambar ini kimchi yang dibuat sehari sebelumnya. Sedangkan yang belakang, kimchi yang sudah dibuat dari seminggu sebelumnya. Yang lama, lebih asam. Tapi aku kok suka yang seminggu ya. Affi pilih yang sehari.


Cabe hijau. Kami berdua nggak ada yang suka. Aku nggak tahan pedasnyaaa...

Kiri: side dish favoritku. Rumput laut... kalau digigit chewy gimana gitu.
Kanan: side dish favorit sepupuku. Ikan goreng bumbu pedas manis.

Setelah cicip-cicip side dishes sana-sini. Main course kita dataang. Here it is!


Giliran main course fotonya nggak niat. Yang kiri itu Kongnamul Guk yang aku pesan. Kongnamul Guk itu semacam sup yang isi utamanya adalah tauge kedelai. Tak lupa ada jamur dan telur, di dalamnya sudah ada nasinya. Rasanya enak, tapi tidak terlalu wow lah. Yang bikin wow sih panasnya itu... Coba AC Tobak dibuat paling dingin, enak kali makannya. Sedangkan si Affi memesan Dolsot Bibimbab, nasi di dalam hot stone pot yang di atasnya diberi sayuran, daging, dan telur, dan kemudian diaduk. Dolsot Bibimbab disajikan dengan sup rumput laut.

Setelah selesai makan makanan utama, aku bilang ke mbak waiter kalau kita udahan. Jujur saja, aku berekspektasi dia memberi pilihan dessert. Ternyata kita tidak bisa pilih dessert kalau di Tobak. Tak lama, kami disajikan jeruk dan segelas minuman dingin. Lagi-lagi, aku nggak tanya namanya, tapi rasanya mirip beras dan ada kayak tape ketannya. Seger banget. Hum... setelah aku cari-cari di gugel namanya Sikhye, tapi nggak tahu benar apa salah ^^

Ya itu, yang aku suka dari Restoran Korea itu side dish-nya banyak, dan yang salad sayur-sayur gitu, aku suka banget. Yang aku suka lagi, ya satu makanan memang mahal ya. Tapi jelas kenyangnya, wong side dish-nya seabrek-abrek, belum minumnya yang refill dan dessertnya juga sudah include ^^

Harga
Dolsot Bibimbab: Rp105.000
Kongnamul Guk: Rp85.000

Tobak (토박)
Jalan Wolter Monginsidi No. 30
Jakarta Selatan
+62 21 725 1135

Gara-Gara Pak Hotbonar

Giveaways Pakde Cholik sudah ditutup tetapi aku masih mau menulis ini. Yes, tentang status akun Facebook.

Aku sudah menutup akun Facebook-ku sejak lama. Lalu, sekitar tahun lalu, aku membuat lagi yang baru. Biar bisa Like FB Page macam-macam dan nggak ketinggalan info menarik, plus buat main game dan stalking. Kalau menulis status di Facebook rasanya jarang sekali... tapi ada seseorang yang membuatku menulis dua status yang akan kujabarkan di bawah ini.

Teman-teman tahu kasus plagiatnya Anggito Abimanyu? Yang ternyata artikel dia di Kompas adalah hasil mencontek? Dan artikel asli yang diplagiat itu adalah tulisan Hotbonar Sinaga. Nah, beliau ini yang mempengaruhiku. Beliau ini merupakan dosen di fakultasku dan mengajar mata kuliah Pengelolaan Risiko Usaha (sumpah kalau nggak diajar dia, aku kira yang baku itu 'resiko'). Beruntungnya aku duduk di kelas beliau. Padahal pas masuk tahunya ya dia hmmm mantan direktur Jamsostek. Ok. Trus? Dan. Yaudah.

Tapi ternyataaa... dia mempesonaaaa. Dari dulu perasaan gue naksir dosen yang tua-tua, wakakaka. Tapi seriusan Pak Hotbonar ini berkharisma sekali. Kayak positif gitu auranya. Jadi lupa membicarakan status Facebook deh.

1. Status Facebook tanggal 30 Oktober 2013


Ciri-ciri dosen berpengalaman biasanya suka cerita-cerita kehidupan, cerita aneh-aneh, tapi seru banget. Di salah satu pertemuan kuliahnya, Pak Hotbonar memberikan peer dengan pertanyaan yang aku tulis di statusku itu: Mengapa di era kemajuan teknologi seperti sekarang, sebaiknya menamakan anak menggunakan nama yang khas, non-generik, dan satu-satunya di dunia? Iming-imingnya, kalau berhasil menjawab pertanyaan itu, yang tentunya jawabannya sesuai preferensi dia, minimal B sudah di tangan.

Menurutku sih Pak Hotbonar sedikit narsis dengan memberikan pertanyaan ini. Apalagi dia bilang kalau mencoba googling dengan keyword nama beliau pasti yang keluar, yang dimaksudkan dalam artikel yang muncul, adalah dia thok. Nggak ada yang lain. Tentu saja para mahasiswa paham kalau jawabannya adalah supaya kalau di-googling gampang. Tapi trus? Bukannya malah enggak aman ya kalau gampang banget di-googling gitu. Aku jadi penasaran sama pendapat teman-teman yang bakalan komen.

Salah satu komennya dari teman sejurusanku Kartika: "Hahaha. Biar anakny nanti beresiko untuk gampang di googling, hahaha dan para stalker gampang nemuin anak ini.. Hihihi."

Ketahuan suka googling-googling nama orang nih, hahaha. Tapi iya loh, kalau namanya non-generik kan beresiko gampang di googling. Iya kalau namanya muncul di artikel keren-keren... kalau muncul di artikel yang gitu-gitu... piye? Gitu-gitu tuh apa pulak. Tapi sik ada satu komen yang aku suka dan memang maksud dosenku begitu... yaitu:


Yak... komen dari salah satu teman blog, Om NH: biar ... Stand Out !

Aku jadi penasaran nih kalau menurut teman-teman, bagaimana jawaban kalian atas pertanyaan Pak Hotbonar.

2. Status Facebook tanggal 27 November 2013


Lagi-lagi tentang peer dari Pak Hotbonar lagi. Aku menulisnya malam setelah kelas beliau di siang hari. Seingatku, dia tiba-tiba cerita tentang anaknya yang tinggal di Eropa. Yang aku dengar, dia belum menikah. Tapi enggak dengar laki-laki atau perempuan. Noooo! Bahas-bahas tentang bangga-bangga gitu deh dan lalu memberikan peer lagi. Pertanyaannya kali ini adalah: "Coba pikirkan, apa yang kamu bisa lakukan/perbuat yang bisa membanggakan orang tuamu?" Menurut Pak Hotbonar, mungkin memikirkan hal tersebut sekarang tidak terlalu berasa... tapi berasanya nanti beberapa tahun ke depan.

Waktu beliau mengutarakan pertanyaan itu... aku jadi mikir. Udah ngapain aja ya aku... perasaan belum ngapa-ngapain, hiks. Dan komentar teman blog si Idah Ceris yang berbunyi: "Lulus kuliaaaaah Wkwkwkwwk. Karena untuk saat ini yang bisa kamu lakukan baru ituuu."

Jleb.

Gue kayak udah nulis panjang banget yah. Gara-gara Pak Hotbonar... aku jadi nulis status di atas. Gara-gara Pakde Cholik aku jadi nulis post ini dan rinduuu sama Pak Hotbonar!!! Sebenarnya sih status FB terbaruku juga kece: Susah ya punya paha nempel...... — feeling wonderful.

Bye!

My LINE Story Entries

Sudah lupa bulan apa, tapi beberapa bulan lalu LINE mengadakan lomba membuat cerita dari stiker-stikernya. Aku ikutan aja, iseng-iseng plus hadiahnya kok menarik. Ndilalahnya, aku dan temanku demen banget chat pakai stiker sambil dikasih cerita... Beberapa dari ide dari obrolan temanku dan aku kujadikan entri buat ikutan LINE Story. Eh ya, kok bikin jadi empat. Tapi... enggak ada yang menang, hahaha...

Karena lagi males nulis... aku tampilkan empat LINE Story yang kubikin. Biarin deh ceritanya ngga mutu, ngga jelas, dan jayus... Hihihi!






Tashirojima e Ikitai!

*Tashirojima e Ikitai = ingin pergi ke Tashirojima

Tadinya, rencana jangka pendekku saat beberapa waktu lalu adalah liburan ke Jepang. Rencanaku adalah mengajukan proposal sponsor ke mama untuk beli tiket pesawat dan untuk uang saku, aku masih punya uang Yen yang aku rasa cukup buat belanja-belanji, which is juga dari mama. Jadi anak ngeselin banget ya. Ya abis tahun lalu pas mama menawarkan kepadaku mau hadiah ulang tahun apa, aku jawab mau ke Jepang, jawabannya: iya.

Bayanganku... ke sana bulan Maret, lalu bisa lihat sakura yang lagi mekar. Setelah itu, mencoba mandi bersama di onsen. Kemudian, main ke Sanrio Puroland dan Tokyo Disneyland. Lalu, beli-beli merchandise Hello Kitty dan lainnya yang lucu-lucu. Makan desserts aneh-aneh. Tapi apa daya, itu hanya bayangan saja. Kayak iya saja, aku akhirnya minta beliin tiket ke Jepang sama mama. Sudah gede masih minta-minta. Biasanya juga masih minta, ding. Kalau liburan ke Venezuela aja, boleh nggak? *minta ditabok*

Pamer Visa Jepang... Ini visa apa berita obituari. T.T
Belum lama ini, aku baru tahu tentang sebuah pulau di Jepang bernama Tashirojima. Setelah tahu, aku memasukkannya ke daftar tempat yang harus dikunjungi di Jepang. Tashirojima 田代島 adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Ishinomaki, Prefektur Miyagi, Jepang. Pulaunya berpenduduk, namun hanya sekitar 100 orang penduduk saja. Sepi banget kan ya. Lalu, apa yang bikin aku tertarik ke sana? Tashirojima ada apa sih?

Jawabannya... Tashirojima punya... KUCING!

Sejak di rumah punya kucing, Adele dan Foxy, aku jadi suka banget sama kucing. Kalau di jalan ketemu kucing lewat gitu ya, pasti aku sapa. Kucing di kampus pun biasanya tak lupa aku say hello ke mereka. Aku tak terbayang saja kalau aku ke Tashirojima, aku bertemu banyak kucing di sana! Yes, Tashirojima terkenal dengan nama Cat Island karena bahkan jumlah kucingnya jauh berlipat-lipat dari jumlah penduduk manusianya.

Tashirojima, the Cat Island

Lumayan jauh ya dari Jakarta.
Sudah sejak lama, kucing diagung-agungkan di Tashirojima. Dulu, di Tashirojima, kucing dipelihara untuk menjaga ulat sutera peliharaan penduduk dari serangan tikus. Kemudian, ketika kegiatan nelayan makin berkembang di sana, rupanya kucing juga bisa dijadikan petunjuk pola cuaca dan tangkapan ikan. Selanjutnya, dipercaya apabila memelihara dan memberi makan kucing maka akan mendatangkan kemakmuran. Tapi pun seperti yang kita tahu, kucing memang perlambang pembawa keberuntungan kan ya.

Di sana, terdapat Neko-Jinja, yang berarti kuil kucing. Sejarah kuilnya, dulu ada seorang nelayan yang tak sengaja menjatuhkan batu ketika sedang mengumpulkan batu dengan jaring. Nah, batu yang dijatuhkan mengenai kucing dan akhirnya kucingnya meninggal. Karena merasa bersalah, si nelayan tersebut menguburkan kucing tersebut di tempat yang sekarang menjadi Neko-Jinja itu. Di Neko-Jinja sendiri banyak pendatang yang meninggalkan batu bergambarkan kucing atau patung kucing sebagai persembahan untuk kuil kucing itu.

Selain itu terdapat Manga Island. Di sana terdapat kamar-kamar penginapan yang terpisah-pisah berbentuk rumah bertemakan kucing. Kamar yang bisa disewa ini dibangun tahun 2000 oleh seorang kreator manga bernama Shotaro Ishinomari. Maka dari itu, bernama Manga Island. Jadi kepengen mencoba menginap di situ.

Jumlah penduduk manusia Tashirojima menurun drastis, terbalik dengan populasi kucingnya. Oh ya, anjing pun tidak boleh masuk ke pulau ini. Salah satu hal yang membuat Tashirojima terkenal adalah, penduduknya yang sedikit dan semuanya termasuk golongan tua. Mungkin bisa saja, suatu hari tidak ada yang tinggal di sana dan hanya kucing? Eh tapi enggak akan juga sih, 'kan Tashirojima sekarang makin terkenal sebagai tempat wisata ^^

Mari kita lihat beberapa foto-foto Tashirojima...



 

 
Neko Jinja.
Manga Island.
Lucu banget 'kan kucingnya? Kalau ke sana pengen pelukin semua kucingnyaaa. Andai pun bisa bawa kucing aku ke sana. Hahaha, bisa sih. Tapi ribet banget yah pasti!

Perjalanan impian 'kan nggak cuma masalah destinasinya ya... Tapi juga sama siapanya. Ya bayanganku sih maunya pergi ke Jepang, termasuk Tashirojima ya, sama si itu... Si itu tuh siapaaa pula. Hahaha...

❤❤❤

This is MyDreamyVacation...


Referensi dan photo source:
http://lifetoreset.wordpress.com/2012/11/03/cat-island-tashirojima-miyagi-prefecture-japan/
http://www.somepets.com/25-most-beautiful-pictures-of-cat-island-japan/

Spiderwoman

Lagi jalan kaki di jembatan setan Semanggi, gue disapa teman di messenger. Dia bercerita kalau ingin hidup sehat dan rajin olahraga, dan bilang kalau besoknya dia akan mencoba wallclimbing di bilangan Kuningan. Ia mengajak gue. Gue tertarik-tertarik saja, cuma kalau besoknya betul-betul enggak bisa, kalau minggu depan dia wallclimbing lagi, gue janji ikut. Jadilah minggu depannya gue ke Plaza Festival Kuningan untuk mencicipi yang namanya wallclimbing itu.

Teman yang ngajak namanya Sarah, tapi kami tak berdua saja, melainkan bertiga ditambah dengan temanku, sebut saja oknum A. Gue mengajak oknum A ikut juga, eh dia lebih excited daripada gue. Okelah kalau begitu. Janjian jam 9... rrr, gue dong datang tepat. Si oknum A, datang 10 menit kemudian, dan yang paling telat Sarah. Di sekitaran dinding panjatnya masih sepi, jadilah kita makan dolo. Yoshinoya! Bahkan kita udah duduk di sana, sebelum Yoshinoya-nya buka.


Next time I should use Camera360 before uploading here.
Pas kita balik ke dinding panjatnya, sudah ada yang manjat. Rupanya, banyak orang Jepang euy. Ada juga kayaknya keluarga wallclimber gitu, bapaknya orang Indonesia, ibunya orang Jepang, anaknya masih kecil jago banget manjat dindingnya. Yang kocak, anaknya ngomong sama ibunya pakai Bahasa Jepang, ibunya jawabnya pakai Bahasa Indonesia. Ada juga mas-mas topless, ganteng seksi, eh ternyata udah punya istri bule, anaknya kecil-kecil cowok cakep. Gyabooo, OOT maksimum.

Kami pun mendekati mbak-mbaknya, yang gue lupa siapa namanya, minta dipasangin harness. Abis itu cari sepatu yang ukurannya pas. Gue sama oknum A bilang ke mbaknya, kalau ini pertama kalinya kita manjat. Katanya sih santai aja~ ok ok.

Don't touch my butt kyaaa hahaha!
Pas gue mencoba manjat, yang jagain namanya mas... ... mas sopo lali azemik! Pakai nama lapangan gitu deh nama panggung. Rambutnya oren, kurus, tapi baik banget, nyemangatin mulu, hahaha. Cuci tangan pakai tepung, dan taaa daaa... berdiri dan pegangan di hold pointnya. Mencoba ke atas... dan oke, ini nggak semudah yang dilihat. Kayaknya mah kalau superhero-superhero gampang banget manjatnya. Part ngangkat pantat, mantap abis, gravitasi enggak bisa bohong. Percobaan pertama cuma bisa sampai dua bagian papan.

Sarah yang punya badan lebih besar daripada aku, juga belum sampai atas-atas banget pas pertama. Mana dia sempat jatuh brukkk yang mengagetkan seluruh Plaza Festival. Gue sama oknum A yang ngeliatin cuma ketawa-ketawa ngakak. Oke, padahal gue juga jatuh begitu. Sampai kayak gempa katanya... lebeee. Alhasil gue diketawain juga ama mereka berdua, huh huh.

Oknum A udah di empat bagian papan, jadi kalau lepas, nggak akan jatuh bruk... Auooo!
Giliran si oknum A, nyoba... baru pertama kali kan dia ngakunya... Tapi sampai dong setengah dinding panjat itu. Spiderwoman banget deh. Ya emang sih dia kurus, tapi kan tapi kan, keren untuk ukuran pertama. Waktu liat dia manjat, gue yakin kalau teori evolusi Darwin itu benar buat si oknum A. Tapi salah buat gue dan Sarah. Woo-hoo!

Sampai kami pindah ke dinding yang sebelahnya. Jarak hold pointnya jauh-jauh tapi kata si masnya lebih gampang, buat latihan speed katanya. Pas dicoba eh iya sih lebih gampang. Kalau udah manjat dan bingung kaki taruh mana tangan taruh mana kan orang-orang di bawah pada neriakin: ijo yang ijooo ijooo, atau enggak kaki kiriii kiriiiii kiriii. Tapi pas lagi manjat tuh mendadak disleksia, point yang ijo mana yah, kaki kiri gue yang mana yah, hahaha. Dasarnya enggak jago manjat aja sik.

Meski enggak bisa sampai atas-atas banget, menyenangkan lah wallclimbing itu. Dan menyakitkan, tangan ampe pegel beberapa hari. Sayangnya, abis itu nggak lanjut lagi. Waktu itu minggu depannya pergi, trus nggak latihan lagi aja. Trus sekarang Sarahnya sudah nggak di Jakarta juga. Huhuhu...

Powerbank

Kalau dalam urusan gadget-gadgetan… misalnya, ada gadget ini versi terbaru barusan diluncurkan, atau ada aksesoris telepon genggam yang populer, entah kenapa aku enggak tertarik. Seperti aku cerita tentang tongsis sebelumnya… aku baru tertarik punya setelah beberapa bulan tahu tentang tongsis. Sama halnya tongsis, aku nggak pernah menyangka sebelumnya, kalau aku membutuhkan benda itu.

Dari dulu, enggak pernah pakai smartphone yang smart banget sih. Pun aku bukan pengguna sosial media yang bentar-bentar buka timeline, atau yang hapenya aplikasi messenger terinstal semua. Eh sekarang smartphone aku, yang lumayan canggih *sombooong*, internet nyala terus, alhasil baterai cepat habis kan… Awalnya tetap enggak punya perasaan menggebu-gebu buat punya powerbank sih.

Suatu saat, mamaku pulang kantor membawa sebuah kotak, suvenir dari rapat, isinya: powerbank. Secara model bentuknya biasa, kapasitasnya sedang 5200 mAh, dan colokannya bisa diganti-ganti. Benda ini ternyata savior banget, hahaha, lebay. Kalau misalnya, di jalan baterai sudah mau habis, padahal masih ada perlu yang pakai hape gitu, tinggal colokin ke powerbank deh! Hehehe!

Powerbank-ku. 
Anyway, ada beberapa tips untuk memilih powerbank nih teman-teman. Sebagian aku sadur dari Lamido Indonesia.

1. Pilih powerbank yang punya auto-off, supaya kalau sudah fully charged, telepon genggamnya enggak overheat alias kepanasan.
2. Pilih merek yang terpercaya dan di tempat yang terpercaya juga pastinya. Apalagi kalau belinya via online. Supaya kualitas powerbanknya terjamin. Misalnya di: Lamido atau Lazada.
3. Jangan tertarik hanya karena kapasitasnya besar tapi harganya murah, karena bisa jadi kualitas dan keamanannya tidak baik.
4. Pilih powerbank yang kapasitasnya enggak terlalu besar, misalnya 5200 mAh (kayak powerbank aku!). Bukan apa-apa, biasanya kalau powerbank yang kapasitasnya besar, ukurannya juga besar, plus! ngecharge powerbanknya kan makin lama. Selain itu enggak praktis kalau mau dibawa bepergian.
5. Kalau ngecharge pakai kabel bawaan handphone, karena selalu kabel bawaan HP lebih bagus kualitasnya dibanding kabel bawaan powerbank.


Lihat-lihat di situs belanja online atau toko-toko, banyak powerbank lucu-lucu, kadang-kadang bikin pengen sih. Tapi tahan… tahan… mau beli tongsis duluuu. *masih aja*

Ngidam Tongsis

Pernah suatu kali, udah agak lama sih, aku jalan-jalan ke mal sama temanku. Ada sebuah kios yang menjual barang-barang unik. Salah satu barang jualannya adalah seperti tombol berkabel yang bisa disambungkan ke iPhone. Nanti kalau mau narsis, tinggal klik tombol itu. Waktu itu aku masih belum paham bagaimana maksudnya. Maklum kurang apdet. Plus masih belum tahu namanya, yang ternyata disebut tomsis, alias tombol narsis.

Agak heran juga, mau narsis aja ada sarana tambahannya!!!

Eh selang beberapa waktu, kata tongsis sering terbaca dan terdengar. Beda lagi po yo itu? Ternyata emang beda lagi. Tongsis ya tongkat narsis, seperti monopod bentuknya seperti tongkat yang diujungnya bisa ditaruh handphone atau kamera pocket, jadi kalau narsis pas jalan-jalan enggak lagi-lagi perlu minta tolong sama orang lewat. Pas tahu, oh itu toh yang namanya tongsis… enggak dan belum kepengen. Tapi…

Tongsis oh tongsis…
Waktu kapan liburan, aku jalan sama adekku. Adekku ini males kalau disuruh motoin. Terutamanya kalau motoin aku. Kadang-kadang suka nggak mauuu. Mau foto selfie sendiri, mukanya kurang jauh… Aaahh, kayaknya memang solusinya beli tongsis, hehehe!

Pengen beli tapi nggak tahu kapan belinya. Lebih pengen, kalau dibeliin. *siapa yang mau beliin* Lagian ntar kalau udah punya ujung-ujungnya dipakai sekali dua kali abis itu bosan. Pesimis… wkwkwk. Kan tongsisnya butuhnya pas kalau jalan-jalan ke mana gitu kan. Selfie ramean masih bisa lah pegang tangan...

Aku lihat di Lazada.co.id harganya cuma 143 ribu, untuk yang Medium holder. Tongsisnya bisa memanjang sampai 35 cm. Harganya lumayan terjangkau karena banyak yang lebih mahal. Tapi jujur aja sih, waktu tahu tentang tongsis, perkiraanku harganya ah paling cuma gocap, hahaha ngenyek.

Pas browsing tongsis di situs Lazada ini, aku membaca kata phablet. Istilah apa lagi ini… Ternyata phablet itu singkatan dari phone tablet, contohnya seperti Advan Vandroid S5H di bawah ini.

Apik ya Advan Vandroid S5H ini…

Spesifikasi Advan Vandroid S5H

OS Android 4.2.1 Jelly Bean
Layar Touchscreen dengan teknologi IPS (In-Plane-Switching) TFT Capacitive resolusi 1280x720 pixels
5 poin multi-touch
Prosesor Cortex-A7 Quad-Core 1.2 GHz
RAM 512 MB
Konektivitas WiFi 802.11 b/g/n
Bluetooth, kabel data USB, audio jack 3
Kapasitas baterai Lithium 1700 mAh.
Dual SIM
Internal storage 4GB
Slot microSD up to 32 GB
Kamera depan 2 megapixels, kamera belakang 8 megapixels

Spesifikasinya oke punya kan? Dengan tampilan warna putihnya yang elegan, plus spesifikasinya yang yahud, Advan Vandroid S5H ini, dijual dengan harga yang tergolong murah. Terjangkau lah. Di situs Lazada Indonesia, phablet ini dijual seharga Rp 1.495.000 saja. Ada yang tertarik? ^^

Kartu Pos

Akhir-akhir ini, kegiatanku berkirim kartu pos semakin meningkat. Dulu, lebih sering menerimanya. Kalau tidak salah ingat, kartu pos pertama yang aku terima adalah pemberian dari seorang blogger di Multiply bernama Olivier, namun lebih kerap dikenal sebagai Priambodo Prayitno. Beliau orang Belanda yang menggemari sejarah Indonesia gitu. Aku ikut kuisnya dan mendapat sebuah kartu pos kuno.


Senang sekali rasanya menemukan kartupos tergeletak di depan rumah dan bertuliskan: Mademoiselle Una Wibawa. Baru kali ini disapa Mademoiselle. Waktu itu tahun 2008, aku masih unyu kali lah. Selepas itu kayaknya enggak pernah menerima kartupos sampai ngeblog di blog ini. Setelah rutin ngeblog di sini, beberapa kali menerima kartupos dari blogger. Dari Mbak Noni Khairani, Mbak Ely Meyer, Mbak Bebe, dan lain-lain. Rasanya senang!

Hasil scannya kurang bagus. Tapi asli, jepretan Mbak Bebe bagus banget!
Kadang-kadang aku suka dapat kartupos yang gambarnya lumayan oke dari event-event. Kadang juga beli kartupos lucu-lucu. Tapi aku enggak suka kartupos Indonesia yang ada di Periplus itu, hehehe. Biasanya, kartupos itu buat pengganti semacam kartu ucapan, misalkan aku memberi kado ulang tahun sepupu, ucapannya kutulis di kartupos. Atau kadang, kartupos berubah fungsi menjadi pembatas buku.

Aku pun mencoba mengirim kartupos ke beberapa teman, ada yang di luar negeri dan dalam negeri. Meski cuma kartupos biasa gitu dan pesan yang kutulis enggak mutu maksimal, mereka senang, aku pun juga senang! Pernah sekali iseng kirim kartupos teman yang di Indonesia, pas aku lagi di Singapur. Itu pun masukin ke kotak posnya di airport pas mau balik ke Indonesia. Jadi, aku sampai di Indonesia lebih cepat dari itu postcard!

Sebulan persis yang lalu, aku join postcrossing.com, di mana kita bisa kirim kartupos dengan penerima yang random. Sebenarnya sih sudah dengar dari lama, tapi kan belum tertarik kirim-kirim kartupos banget. Ternyata asik juga, meski aku belum pernah terima kartupos official postcrossing. Ya baru sebulan ini. Tapi senang rasanya, ketika postcard yang kita kirim diregister sama yang menerima, dan dia mengirimkan pesan sebagai tanggapan isi tulisan di postcard. Seneng aja...!!

Aku cerita sama teman kalau aku ikutan postcrossing tapi kartupos yang aku pakai... bergambar pemandangan Jepang semua! Dia heran, kok gitu? Padahal kan harusnya bisa jadi ajang promosi negara sendiri ya. Ya abisss, kalau datang event Jepang pasti suvenirnya postcard. Mending aku pakai kan, pleus aku enggak punya kartupos gambar Indonesia, hihihi ^^

Kalau teman-teman, masih suka kirim kartupos?