Paundra dan Mangkunegaran

Mekar bersemi untaian kasih
Jumpa cinta pertama
Telah tertanam rindu dendam
Semakin dalam... semakin kelam...

Sekitar awal tahun 2010, aku selalu memutar lagu itu. Gita Cinta versi Paundra Karna. Aku nggak ngefans-ngefans amat sama Paundra. Aku cuma tahu dia pemain utama sinetron Gita Cinta dari SMA yang diputar waktu aku masih SD, tahu dia cucunya Soekarno, dan anaknya Mangkunegaran. Lainnya, aku nggak tahu. Tapi entah kenapa, kalau lihat dia, di foto dan sebagainya, aku terpesonaaa... Kebetulan memang saat itu aku masih remaja sih. Nah, sejak saat itu aku kepengen sekali namanya pergi ke Pura Mangkunegaran di Solo. Liat-liat lah ya, dan kalau beruntung berharap bisa ketemu Paundra.

Entah kenapa ya, berkali-kali Solo selalu gagal masuk Pura Mangkunegaran. Entah saat itu ganti destinasi di Solo, atau ada kerabat Mangkunegaran yang meninggal sehingga tidak dibuka untuk umum. Sampai akhirnya, baru kesampaian masuk Pura Mangku pada tahun lalu. Akhirnya...

Bangunan di Pura Mangkunegaran yang dijadikan tempat masuk wisatawan, beli tiket masuk, dll.
Untuk menikmati melihat-lihat ke dalam Pura Mangkunegaran dikenakan tiket masuk seharga 18.000 per orang. Ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi di dalam istana. Seperti harus didampingi guide (sudah termasuk dalam tiket masuk), tidak boleh pakai alas kaki di beberapa section istana, dan memakai baju yang sopan. Pura Mangku pun dibuka untuk umum tiap hari dari jam 08.30-14.00, kecuali hari minggu sampai jam 13.00. Namun, bisa ditutup tanpa pemberitahuan kalau-kalau ada acara tertentu.

Mangkunegaran didirikan oleh RM Said, cucu Amangkurat IV. Nama Mangkunegaran diambil dari nama ayah RM Said, Arya Mangkunegara yang dibuang ke Srilanka karena mendukung pemberontakan. Sesuai Perjanjian Salatiga, RM Said diberikan kekuasaan sebagian wilayah Kasunanan Surakarya Hadiningrat. Meskipun wilayah kekuasaannya tergolong luas, sekitar 49% dari wilayah Kasunanan, namun secara politik kekuasaannya lebih rendah dari Kasunanan.

Lambang Mangkunegaran di bagian atas Pendopo Ageng.
Pendopo Ageng.
Perbedaan yang bisa kita lihat sekarang adalah istilah Pura yang digunakan untuk menyebut istana Mangkunegaran dan bukan Keraton, pimpinannya disebut Pangeran dan bukan raja atau Sunan atau Sultan, tidak punya alun-alun utara dan selatan, dan juga pohon beringin.

Kami dipinjami kantong plastik untuk memasukkan alas kaki pasalnya dari bangunan pertama yang dieksplor, Pendopo Ageng, harus telanjang kaki. Pendopo milik Mangkunegaran ini disebut-sebut sebagai yang terbesar di Indonesia. Disangga oleh 108 tiang (saka), termasuk empat saka utama yang berasal dari satu pohon batang jati diparuh empat yang diambil dari hutan Donoloyo di Pacitan. Mitosnya, kalau bisa memeluk saka utama itu, keinginan akan terkabul. Satu saka itu besar sekali, tidak terbayang bagaimana batang pohon aslinya.

Lampu dan lukisan Kumodawati di bagian langit-langitnya. Patung-patung dan ornamen Mangkunegaran banyak didatangkan dari Eropa.
Di bagian langit-langit terdapat lukisan Kumodawati. Warna dalam lukisan memiliki filosofinya masing-masing. Pink mencegah setan, putih menahan nafsu, hijau menghindari stres, oranye mencegah takut, hitam lapar, ungu pikiran tidak baik, biru melawan penyakit, dan kuning menghindari ngantuk. Di Pendopo Ageng, sering dilaksanakan acara-acara tari juga tempat latihannya.

Kemudian ada Paringitan semacam teras antara Pendopo Ageng dan Dalem. Fungsinya adalah tempat keluarga kerajaan untuk menonton wayang kulit. Setelah itu kami masuk ke Dalem Ageng, bagian istana yang digunakan untuk upacara-upacara keluarga. Ruangan ini baru dibuka umum pada tahun 1968. Dalem Ageng berbentuk limasan dan di dalamnya ada krobongan, tempat sesaji untuk Dewi Sri, ada tempat meditasi (Sentong), dan koleksi-koleksi kerajaan, seperti jundrik (keris untuk perempuan), perhiasan, kristal, perlengkapan tari, dan lain-lain.

Paringitan dan pintu masuk Dalem Ageng.
Banyak banget deh koleksi Mangkunegaran, sayangnya di dalam Dalem Ageng tidak boleh foto-foto.

Keluar dari Dalem Ageng, sudah boleh pakai alas kaki dan foto-foto. Ada banyak foto berbingkai dipajang di sana, tentu saja yang aku cari yang ada Paundranya.  Di Pura Mangku sendiri, ada ruang-ruang yang dibagi dua, Bale Peni di sisi timur yaitu kamar-kamar untuk pangeran, dan Bale Warni di sisi barat untuk para putri.

Pracimayasa dari luar. Kanan: lukisan Mangkunegara IX, Sudjiwo Kusumo, bapaknya Paundra.

Pracimayasa yang digunakan untuk menjamu tamu keluarga.

Hiasan pemisah ruang.


Paundraaa~
Kami juga masuk ke Pracimayasa, sebuah ruang berdinding kaca patri bergambar lambang Mangkunegaran yang digunakan untuk menjamu tamu-tamu keluarga Mangkunegaran. Di bagian taman, juga asyik untuk dinikmati. Rasanya menenangkan kalau bisa minum teh santai-santai sambil makan biskuit, hihihi...

Di Pura Mangkunegaran juga terdapat Perpustakaan Rekso Pustoko yang didirikan oleh Mangkunegaran VII. Aku penasaran isinya bagaimana, karena banyak koleksi buku-buku kuno. Cuma pas aku ke sana perpustakaannya tutup. Kayaknya mesthi ke sana lagi deh. Dan ya, tur sudah berakhir dan aku tidak menemukan tanda-tanda Paundra lewat. Ya sudah, mari kita pulang.

Eh tapi tunggu dulu... akhirnya aku lihat langsung si Paundra! Bersamaan dengan ASEAN Blogger Festival Mei lalu, juga diselenggarakan Mangkunegaran Performing Art 2013. Acara tari itu dilangsungkan di Pendapa Ageng, dan aku pun melihat Paundra. Akhirnya ajak foto deh, hihihi senangnya aku~ meskipun foto jejer Paundra membuat dekilnya aku terlihat lebih dekil.

Kalau kata temanku dari Solo, aku sama Paundra udah mirip roti Orion Mandarijn!!! >,<
Tertarik berkunjung ke Istana Mangkunegaran?

Buka setiap hari.
Jam buka
Senin-Sabtu 08.30-14.00
Minggu 08.30-13.00
Tiket masuk Rp 18.000


LED TV Samsung F8000: Nonton Apapun Berasa Blu-ray!

Aku jaraaaang banget nonton TV. Kalaupun nonton, seringnya streaming. Tapi kali ini aku mau bahas tentang TV. Nah, saking jarangnya aku nonton TV, aku baru tahu kalau teknologi untuk televisi udah canggih banget.

Belum lama ini, aku sama mamaku pergi ke sebuah toko elektronik di sebuah mal. Mamaku lagi kepengen liat-liat laptop sama kamera. Males ngintilin mama, aku keliling-keliling toko. Liat-liat telepon genggam, kabel-kabel, kulkas, setrika, macem-macem. Nah, meski aku jarang nonton TV entah kenapa display bagian TV selalu menarik perhatianku. Apalagi kalau TV-nya gedeeee...!!!

Lengkap lah di sana merek-mereknya, tapi ada satu yang lebih menarik daripada yang lain. Dari semua merek yang ada, aku paling kagum dengan apa yang dilakuin Samsung sama produk televisinya. Kagum, sampai aku yakin harus buat posting tentang ini.

Waktu itu, ada seorang pengunjung yang sedang berdiri di depan layar salah satu TV Samsung, melakukan gesture swiping dengan tangan, kemudian mengepalkan kedua tangannya lalu melebarkan, memutar-mutar tangannya, dan ternyata gesture itu mempengaruhi tampilan di layar TV. TV ini mengenali gerakan lewat built-in camera yang tertanam di bagian atas. Ternyata selain ngenalin gerakan, TV ini juga bisa ngenalin suara, jadi bisa diperintah: “volume up”, “volume down”, dan bahkan bisa mengenali wajah sekalipun, alias face recognition. Samsung memberi nama teknologi ini ‘Smart Interaction 2.0’. Lewat Smart Interaction ini, kita juga bisa download dan install aplikasi seperti Youtube, Skype, TED, atau bahkan The Wiggles yang bakalan jadi favorit anak-anak. Ada banyak banget aplikasinya, kalau mau lihat semuanya bisa cek langsung di websitenya Samsung.


Aku sempet suuzon bahwa fitur Smart Interaction 2.0 ini gak akan perform maksimal, entah responnya lambat, atau gak akurat, atau lainnya. Tapi ternyata diantisipasi sama Samsung, lewat processor QUAD CORE. Meh... lebih canggih dari processor laptopku, apalagi dari TV-ku di rumah yang bahkan ga punya processor...

TV ini juga adalah TV pertama yang bisa di-upgrade. Cara upgrade-nya juga gampang, dengan mengganti kotak hitam di bagian belakang yang namanya ‘Evolution Kit’. Misalnya, TV Samsung yang tadinya dual core bisa di-upgrade ke quad core dengan mengganti Evolution Kit-nya, atau fitur Smart Hub-nya juga bisa di-upgrade, dan fitur lainnya. Kita tinggal tunggu ada upgrade dari Samsung, terus beli dan ganti sendiri, tinggal plug and play. Harga Evolution Kit yang sekarang sekitar 3 jutaan, worth bangetlah, dibanding harus ganti TV?

Sepinter itu TV ini, tapi esensi utama sebuah TV tetep gak terlupakan oleh Samsung: kualitas display. Full HD 1920 x 1080 pixel (dua kalinya standar HD), ditambah Ultra Clear Panel-nya Samsung, bikin gambarnya bener-bener jernih. Kata si masnya, TV ini juga punya teknologi Intelligent Viewing dan Clean View, yang bisa ngilangin noise di tampilan saluran TV digital.



Kalau yang pengen tau lebih detail, namanya Samsung LED TV F8000, bisa cek di situs resmi Samsung atau tonton reviewnya AVForums di Youtube. Kalau mau liat-liat tipe lain dari TV Samsung bisa kesini.

Kemarin mamaku buru-buru ngajak pulang, jadi nggak sempet ngasih tau itu TV... Kali aja mama tertarik, hihihi. Overall, kalo buatku sih, jadi makin percaya kalau Samsung kredibel dan produk-produknya keren banget. Nambah wishlist 2014!

Susur Gua Pekuburan Londa

Setiap adat punya keunikannya masing-masing, begitu juga dengan Toraja. Kepercayaan dalam adatnya membuat kematian seakan-akan lebih penting dari apapun. Pergi ke sana pun rasanya di mana-mana adalah tentang kematian. Bagaimana tidak? Hampir semua hal yang menarik -kecuali sawahnya yang bagus dan rumah Tongkonan- di Toraja berkenaan dengan kematian. Gua pekuburan, kuburan bayi dalam pohon, dan upacara kematian.

Salah satunya, Toraja punya yang namanya Londa. Londa merupakan gua yang merupakan salah satu tempat pekuburan masyarakat bangsawan Tana Toraja. Resminya tidak dikubur sih. Hanya saja peti mati orang bangsawan itu dimasukkan di dalam gua. Di luar gua terdapat berjejer Tau-Tau yang seakan-akan berdiri di atas balkon. Tau-tau yang berarti orang-orangan adalah patung kayu yang dibuat sedemikian rupa menyerupai si mati.

Narsis dulu depan Londa. Tapi kurang oke fotonya...
Tau-Tau.
Londa sendiri letaknya hanya 7 km dari Rantepao, pusat kota Kabupaten Toraja Utara dan juga merupakan salah satu tempat wisata paling populer di sana. Waktu aku ke sana, Londa pun lumayan ramai. Tak berlama-lama di luar, kami pun segera masuk ke dalam bersama dua bapak ojek yang tak lupa membawa lentera. Di bagian luarnya, juga sudah banyak peti mati yang dijejer-jejer di atas. Bentuk petinya ada yang modern dan ada yang jadul, mungkin umurnya sudah puluhan tahun.

Di dalam gua, tentu saja ada berjejer-jejer peti mati. Ada pula dua tengkorak di tanah yang berdampingan dan ada ceritanya. Konon dua tengkorak itu milik sebuah pasangan yang kisah cintanya tidak direstui. Mereka pun bunuh diri dengan cara menggantungnya. Tak lama, mereka dimakamkan di Londa hingga suatu saat tengkorak mereka dikeluarkan dari peti yang sudah hampir hancur. Katanya, peristiwa gantung diri itu terjadi sekitar 70 tahun lalu.

Masuk ke dalam.

Peti mati di luar.

Sepertinya itu peti mati jaman dulu.
Mungkin turis yang datang bersamaan denganku hanya masuk dan melihat peti mati dan dua tengkorak sohor tadi di dalam. Tapi kami tidak! Sungguh ini nggak ada di dalam bayanganku. Tapi bapak-bapak ojek yang mengantar kami memaksa kami menelusuri Gua Londa.

Ada sebuah lubang untuk menuju ke dalam hanya setinggi jongkokan manusia. Aku pun tak yakin. "Pakkk! Ini seriusan?" Aku pun melangkah ke dalam dengan membungkukkan kepala dan kemudian seakan-akan berada di lorong gua yang sempit. Yang aku takutkan lagi adalah kalau di lorong-lorong gua ini mendadak ada peti mati di selipannya. Namun bapaknya meyakinkanku bahwa tidak ada peti mati. Lagian nggak bisa juga masukin peti mati di lubang yang kecil, hihihi.

Susur Gua Londa benar-benar kayak maze. Labirin. Mending kalau berdiri, ini berbagai gaya sudah kami praktikkan. Jalan jongkok, merangkak, jalan pakai (maaf) pantat (bayangkan saja sendiri hahaha), terpeleset, membungkuk semua kami praktikkan. Saat di lorong ada stalaktit yang membuat jalan semakin sempit, bapaknya pun meyakinkan, "Bule yang besar aja bisa loh masuk." Meh.

Jongkok teruuusss...


Memang batunya sangat menggemaskan untuk dicoret-coret.
Dan di dalam rasanya dingin-dingin keringatan. Dingin karena gelap tertutup dan memang Toraja agak dingin, namun keringatan karena lampu minyak yang bapak ojek bawa. Panas banget! Kami yang di belakang bapaknya aja keringatan, apalagi bapaknya yang membawa lampu minyak itu.

Di dalam mungkin nggak wow ya. Ada stalaktit, stalagmit, dan banyak vandalisme mencoret-coret batu sana sini. Tapi sedikit terkesima melihat ada bagian gua yang mengkristal. Batu yang berkilau karena kristal-kristal kecil yang dihasilkan dari kalsium karbonat karst. Sebenarnya kan kalau ada begituan di gua sebaiknya nggak dipegang-pegang ya, tapi tetep aja aku towel dikit.

Laba-laba pun suka yang berkilauan...
Di dalam gua lumayan agak lama. Rupanya bapaknya salah jalan gitu, benar-benar kayak labirin. Jadi kami sempat lewat ke jalan yang sudah kita lewati, untungnya tak lama kemudian akhirnya keluar juga. Sudah ada peti mati di kanan kiri yang berarti sudah di bagian depan. Sumpah itu rasanya legaaaa banget!

Di luar si bapak ojek bilang, "Ya biar seru makanya kita ajak masuk gua. Kan jadi cerita sendiri, nggak terlupakan.." Iya sih Pak, tapi ya itu capek bokkk! Hihihi... buat teman-teman yang ke Londa, tertarik jalan jongkok di dalam gua?

Referensi:
Londa: Menyambangi Pekuburan dalam Gua Suku Toraja http://www.indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja/article/147/londa-menyambangi-pekuburan-dalam-gua-suku-toraja
https://www.facebook.com/notes/oblong-toraja/tau-tau-ritual-toraja-dalam-suvenir/475372666767
http://fokustoraja.blogspot.com/2013/04/kisah-romeo-dan-juliet-di-pemakaman.html

Ibuku Ngeyel!

Kemarin, aku nungguin mamaku manicure pedicure di sebuah warung kuku di mal dekat rumah. Nggak berapa lama, ada sebuah keluarga masuk ke warung itu. Ada suami istri yang bawa anaknya masih balita, pembantunya, dan nenek yang duduk di kursi roda. Si suami/bapaknya ngomong sama pegawainya kalau mamanya/si nenek mau di-menikur. Tapi si nenek menolak, "Ga mau!" Si bapak pun bilang kalau kukunya nanti bisa patah, kemarin aja berdarah lalala... akhirnya mau lah si nenek.

Nggak berapa lama, si bapak bilang kalau si nenek di-pedikur juga. Si nenek lagi-lagi, "Ngga mau! Mahal!" Si bapak pun meyakinkan si nenek kalau pedikurnya gratis sambil memberi kode kepada si pegawai kuku. Akhirnya mau juga si nenek sambil ngedumel. Sementara itu si nenek ditinggal makan sama anaknya... Di dalam warung kuku pun si nenek misuh-misuh sendiri sambil bilang sama pegawainya kalau aslinya dia nggak mau menipedi...

Mamaku malah ketawa geli sendiri liat si nenek ngeyel nggak mau dikasih tahu anaknya gitu. Sambil nengok ke aku, "Aku kayak gitu kali ya?" HAHAHAHA HOOH!

Setelah selesai menipedi, mama mengajakku makan. Kami liat-liat warung-warung makan yang menarik untuk dikunjungi.

"Yoshinoya piye Buk?"
"Gah!"
"Raffels!"
"Bosen... Pho24?"
"Nggak mau, nggak ada bun (bihun) di situ." Ini aku yang ngeyel.
"Lotteria? Opo KFC wae? Pizza Hut?"
"NOOO!" Masak nggak seru makannya. "Rice Bowl?"
"Ra seneng aku."
"Red Bean."
"Emoh nek kuwi. Burger King wae yo."

Sampe BK, nggak ada kursi... meh...

Kami pun pindah section mal yang isinya tempat makan juga. Semua warung diputerin mamaku komentarnya, "Wis tau aku, gak enak," atau "moh, sosis-sosisan," atau "ra enak," yang padahal belum tentu mamaku pernah coba. Sampai pindah lantai mal lagi... nggak makan-makan ini mah... Kubilang aja, "Sumpah ibuk kayak simbah-simbah di tempat kuku yang tadi!" Tentunya sambil ketawa-ketawa.

Tak pikir-pikir memang makin tua itu makin ngeyel kayak anak kecil. Gitu kali ya ortu kita ngeliat kita pas masih kecil...

Gataunya malemnya ada temen cerita kalau ibunya dikasih tahu nggak nurut. Ibunya mau melakukan perjalanan agak panjang tapi emoh naik pesawat, maunya naik darat. Padahal kan kasian jadinya, lama di perjalanan, capek, dengan ongkos yang kalau darat bisa lebih mahal.

Jadi... apa semua orangtua kayak gitu ya... ngeyil... hihihi...

Bubble Etude

Temanku bercerita tentang video di youtube yang mereviu cat rambutnya Etude. Aplikasinya nggak disemir gitu, namun berbentuk foam. Aku kira semacam sampo, kalau itu sih aku pernah. Kami pun pergi ke kios Etude di salah satu tempat perbelanjaan pusat kota Jakarta (kepanjangan!). Lalu temanku dengan girangnya menunjukkan produk itu, namanya Bubble.

Setelah aku lihat, rupanya cat rambutnya ya berbentuk foam yang dihasilkan oleh botol pump. Kalau merek lain di supermarket ada namanya Schwarzkopf yang gambarnya kartun gitu. Namun Etude lebih murah. Schwarzkopf 104 ribu, Bubble Etude 88 ribu. Aku pun tertarik membelinya tapi kan aku masih punya Sasha di rumah... Eh temanku kayak kasian gitu kalau aku pakai Sasha gocengan. Padahal ya Sasha itu pasti jadi warnanya. Mau beli warna biru, marun, kuning, pasti jadi dan semua jadinya pirang, hahaha!



Akhirnya aku terbujuk rayu duta Etude gagal itu dan membeli Bubble Etude yang Natural Brown. Waktu itu di kios itu hanya tiga warna, hitam, dark brown, dan natural brown. Dan yang paling gaol cuma Natural Brown. Padahal sih pengen yang merah tapi out of stock -,-

Mari kita lihat isi dus Bubble Hair Coloring by Etude ini dulu yaaa...


1. Yang plastik pink kanan, pewarna rambutnya.
2. Botol pump
3. Sarung tangan dan mantel plastik.
4. Silky perfumed treatment atau kondisioner yang digunakan sehabis mengecat rambut.

Langkah-langkah pemakaiannya begini...


Masukan cairan perwarna rambut ke botol aplikator.



Lalu dikocok-kocok...



Jangan lupa pakai sarung tangan plastik dan mantel plastik yang telah disediakan. Biar nggak ke mana-mana. Rambutku ujungnya merah, bekas cat jaman duluuu... Hampir setahunan nggak cat rambut.


Tekan botol pump dan tadaaa... akan menghasilkan bubble berwarna putih!



Oleskan foam pewarna rambut ke seluruh rambut. Jangan fokus di bagian depan saja. Tunggu sekitar 20-30 menit. Kalau ingin lebih 'jadi', coba 45 menit. Setelah itu, bilas, keramas, dan gunakan Silky perfumed treatment sebagai kondisioner. Dan tadaaa hasil cat-ku begini~

Without flash dan with flash.
Aku merasa warnanya kurang keluar. Tapi kata temanku keliatan sih. Kalau kena sinar matahari baru terlihat jelas. Trus temanku mengomentari, "Kayaknya layangan di lapangan membantu tuh." Itu sih nggak usah pakai cat rambut. Tapi aku nggak menyesal sih mencoba Bubble Etude ini.

+ Aplikasinya mudah.
+ Ada kondisionernya (merek lain juga ada sih biasanya).
+ Ada mantel plastiknya (contoh merek Miratone, hanya ada sarung tangannya).
+ Harga sama atau lebih murah dibandingkan Schwarzkopf, L'oreal, atau Revlon.
+ Karena berbentuk foam, nggak gampang mbleber ke mana-mana. Bahkan mantelnya kayak nggak perlu gitu sebenarnya.

- Pilihan warna kurang banyak.
- Mahal untuk kantong gue :P
- Kurang keluar di aku, tapi reviu lain pada berhasil euy...
- Mantel plastiknya butuh jepitan, atau aku saja yang gak bisa makenya.
- Tulisannya ammonia free tapi baunya mehhh... beberapa hari nggak ilang-ilang.

Beli lagi? Mungkin, tapi aku akan coba warna lain.

Reviu Pulpen Frixion

Sudah lama aku nggak membuat ulasan mengenai barang-barang dan makanan di sekitarku... Nah, kali ini aku mau mengulas tentang sebuah pulpen. Penting amat kan yah ini postingan,

Beberapa minggu lalu pas kursus Bahasa Jepang, aku kan ngobrol-ngobrol sama mas-mas di sebelahku. Nanya-nanya kenapa dia belajar Bahasa Jepang, kerja di mana, udah pernah belajar Bahasa Jepang belum sebelumnya, *kepo banget sih gue*. Dia cerita dia kerja di perusahaan Jepang, dia bilang, dia sering dapet suvenir dari perusahaan Jepang lain. Contohnya pulpen yang dia pakai waktu itu.


"Ini Frixion... Bisa dihapus ini..." dia menunjukkan.
Aku yang lebay langsung terpesona. "Hah? Frixion? Oiya aku pernah dengar. Pinjam dong masss!"
Aku pun langsung mencoba dan wow, pulpennya bisa dihapus. Kok keren sih.
"Sering mah dapet beginian, tapi kalau udah dapet warna item, suka diambilin. Makanya yang kupake warna merah."
"Huum, sou desu ka."
"Bawa aja itu. Tapi abis sih isinya, beli aja di Gramedia, ada kok."
Dia bawa dua gitu. Yang dikasih ke aku abis isinya. Yang dia pake, isinya bocor.

Beberapa hari kemudian aku beli isinya warna hitam 0.5. Harganya 22 ribu. Bisa buat beli pulpen selusin, fufufu. Kalau sepulpennya 37 ribu. Mahalnyooo... Secara desain, bentuknya biasa sih. Modelnya menggunakan tutup dan di bagian pangkal ada penghapusnya yang berwarna abu-abu. Somehow, agak nggak efektif karena kalau sedang memakai pulpen nggak bisa naruh tutupnya di ujung pulpen karena bakal menutupi penghapusnya. Harusnya penghapusnya ada di tutupnya kali ya.


Setelah aku perhatikan, warna tinta yang dihasilkan tidak terlalu jelas/pekat. Jadi nih kan aku beli warna hitam, tapi kalau dipakai, kelihatannya warnanya abu-abu. Lihat gambar di bawah ini, perbandingan tulisan dengan pulpen biasa dan pulpen Frixion.


Katanya sih tintanya dibuat sedemikian rupa supaya apabila terkena panas dari gosokan (atau gesek?) penghapus jadi hilang. Ketika dihapus pun tidak menghasilkan kotoran seperti daki layaknya kita menghapus bekas pensil. Namun, ketika tulisan dihapus ada 'tanda'-nya kelihatan gitu. Kadang-kadang pun kalau belum kering banget, lalu dihapus, tintanya jadi mbleber di kertas.


Coba disetrika.
Aku juga membaca reviu-reviu yang lain. Pulpen ini rupanya juga gemar dipakai oleh orang yang suka menjahit. Misalnya untuk menandai kain atau pola. Pasalnya jika disetrika pun, tintanya hilang seketika. Aku pun iseng mencoba dong... dan begini perbedaannya.

Langsung hilang seketika. Tapi kalau dilihat jelas di sebelah kanan masih ada bekas yang kelihatan.
Aku memakai pulpen ini waktu pelajaran atau coret-coret. Aku nggak berani pake buat ujian meskipun kayaknya nggak mungkin kertas ujian ketindihan setrika. Meski mahal, tapi kayaknya boleh lah sekali-sekali punya pulpen mahal, biar nggak sembarangan ngilangin, kakakak! Lagian nggak semahal Parker atau Mont Blanc.

Repurchase: Yes, of course. Tapi gue maunya beli langsung di Jepang!!!

Onomatopoeia Hoka-Hoka

Salah satu kondisi yang menyebalkan: ketika memikirkan sesuatu, menginginkannya, atau terngiang-ngiang, tahu-tahu nggak berapa lama, lupa sama nama atau istilah sesuatu itu. Nggak ingat sama sekali. Dan yang kita lakukan adalah berusaha mengingat-ingatnya. Dan kalau nggak ingat-ingat juga, susah sekali namanya move-on buat melakukan atau memikirkan hal yang lain. Kamu iya juga nggak?

Sebelum aku lupa sama istilah ini, aku mau tulis di sini. Onomatopoeia. Ini berasal dari Bahasa Yunani yang secara literal berarti 'membuat nama'. Namun maksudnya adalah kata yang dibentuk atau dibangun dari bunyi yang dihasilkan dari arti kata bersangkutan. Aaaah bingung dewe aku. Gitu deh ya.

Judul postingan ini kubuat biar bagus rimanya aja. Tapi memang 'hoka-hoka' yang biasa kita dengar dari 'Hoka-Hoka Bento' juga merupakan onomatopoeia. Misal ketika makanan masih panas/hangat lalu masih ada asap, seolah-olah menghasilkan suara 'hoka-hoka'. Temanku juga pernah memberi contoh onomatopoeia Bahasa Jepang, 'peko-peko' yang berarti lapar. Maksudnya perutnya berbunyi 'peko-peko' gitu.

Dalam Bahasa Indonesia, juga banyak bisa kita temukan. Kata-kata ini bisa berbentuk kata sifat, benda, atau kata kerja. Kayak 'ketok' karena suaranya 'tok tok tok', 'ceplok' karena kalau bikin telur ceplok ya suaranya kayak gitu, atau 'tabrak' yang membuat suara 'braaak'. Banyak banget lah kalau dicari... tubruk, desis, cemplung, dangdut, mungkin kalau kata tidak formal ada: ngikik, ngakak, ma'em, mimik, dan e'ek.

Onomatopoeia juga termasuk bunyi-bunyian hewan. Guruku pernah cerita kalau ayam di Korea itu bunyinya 'kokotek', setelah kuulangi menyebut kata itu, eh iya ya suara ayam mirip itu. Tapi sih di Indonesia suaranya 'kukuruyuk'. Atau suara anjing di Amerika 'woof', di Perancis 'ouaf', dan di sini 'gukguk'. Suara kucing 'meow' atau 'meong'. Yang nggak ada sih katanya suara rubah/fox. Makanya ada lagu What Does The Fox Say?.




Ada yang mau nambahin onomatopoeia lain?
Atau, apa onomatopoeia favoritmu?

Evergreen

Ambil dari: http://kursus-jepang-evergreen.com/
Sudah hampir dua bulan ini, aku les Bahasa Jepang di Evergreen Japanese Course, Jalan Kartini II, Pasar Baru. Aku dapat info mengenai tempat kursus Evergreen justru dari seorang teman yang tinggal di Makassar. Aku punya kamus terbitan Evergreen tapi nggak pernah cari tahu kalau ada tempat kursusnya. Pas cari-cari, wah ternyata murce, cuma 550 ribu per dua bulan!

Waktu telepon ke tempat kursusnya, yang menjawab bapak-bapak dengan suara berat kayak agak malas jawab gitu. *suuzon* Tanya-tanya mengenai kursusnya dan apakah ada placement test. Besoknya aku datang ke sana untuk placement test. Ternyata bapak penjawab teleponku orangnya kocak parah, beda kesan kalau pas di telepon. Belakangan kuketahui namanya Pak Uus.

Aku membaca-baca bukunya sebentar. 'Ah kayaknya gampang, bisa loncat nih dasar dua.' Aku belajar Bahasa Jepang udah lima tahun lalu sih, tapi yaaa dikit-dikit ngerti lah. Pas kertas diberikan... *glek* apaan nih, wkwkwk! Yang aku paham cuma section terakhir disuruh menterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang. Meski ada verb yang aku nggak ingat, tapi lumayan (merasa) bisa mengisi section honyaku (terjemah). Ada section mengisi partikel, dan itu susah.

Pak Uus dan Deban-chan, salah satu calon murid yang baru akan mulai kursus Desember mendatang. *udah kenalan duluan wkwkwk*
Ke atas lagi, section lawan kata. Rrr, aku nggak tahu arti yawarakai apaan! Ke atas lagi section mengisi bentuk kata kerja, yah lumayan. Pak Uus yang melihat aku mengisi tes dari bawah bertanya kepadaku, kenapa? Aku jawab, aku nggak ngerti kalimat perintahnya Pak, fufufu. Trus dibocorin sama dia, section pertama adalah disuruh menjawab bentuk kamusnya. Ooooo~ 

Selesai mengerjakan. Kuberikan kertas tes kepada Pak Uus dan ia meminta siang hari berikutnya telepon ke Evergreen untuk mengetahui nilainya. Untuk loncat butuh nilai 60 dalam tes. Dan ternyata nilaiku... 43! Oke, mulai dari Dasar 1. Tapi senangnya aku dimasukkan ke kelas yang sudah berjalan tiga bulan dan sebulannya lagi ujian kenaikan (shinkyuu).

Dan sekarang aku sudah di kelas Dasar 2~

'Lobi' Evergreen. Ada lemari buku-buku Jepang yang tampak sudah tua. Sering ditempel di luarnya info-info mengenai sekolah Jepang, pameran, atau event-event budaya Jepang. Boleh pinjam komik baca di tempat. Kemarin aku pinjem komik dan nggak paham sama sekali. Gak lama, aku ketawa sendiri karena salah satu kotak di komik (Rising Impact) bahas 'oppai' yang artinya payudara. Itu doang kayaknya yang aku paham T.T
Sekarang biarkan aku bercerita tentang Evergreen ya. Evergreen ini merupakan tempat kursus Bahasa Jepang yang sudah didirikan sejak tahun 1973. Pendirinya adalah T. Chandra yang juga merupakan penulis banyak buku pelajaran dan kamus Bahasa Jepang yang dengan mudah ditemukan di Gramedia atau Kinokuniya. Evergreen hanya ada di satu tempat, tanpa ada cabang lain. Lokasinya di Jalan Kartini II No. 34B Jakarta Pusat.

Biaya kursus di Evergreen tergolong murah. Hanya 550 ribu per dua bulan, ditambah dengan biaya pendaftaran 85 ribu. Jika mengikuti placement test, membayar 85 ribu di awal, tanpa kemudian harus membayar biaya pendaftaran lagi. Buku untuk kelas dasar 1 ada tiga buah, buku menulis Aksara Kana, Kaiwa No Hon Dasar 1, dan Pelajaran Bahasa Jepang Jilid 1. Harganya 65 ribu.

Lokasi Evergreen termasuk jauh dari rumahku, sekitar 14 km (kalau di Jakarta itu sangaaattt jauh!). Tapi mengingat sudah 40 tahun didirikan dan pendirinya merupakan penyusun banyak buku, yaaa sudah tidak diragukan lagi pastinya. Kalau gedungnya pun bisa disebut jadul tapi entah kenapa nyaman-nyaman saja. Toiletnya juga kunooo, ya gitu deh ya, tapi yang aku suka adalah ada tisu gulung! ❤❤

Pas masuk pertama, wah kok senseinya kayaknya serem yaaa... huhuhu. Ternyata, gileee asik banget. Sensei juga sering ngelucu dan cerita-cerita seru. Aku jadi sering nyengir dan ketawa pas di kelas. Beliau hafal isi bukunya. Misal ngasih tahu vocab ini ada di halaman berapa, dll. Setelah kutanya ke Pak Uus ternyata beliau yang mengarang buku-buku itu semua. Wuaaa pantesan... Aku langsung ngefanssss, hihihi! Sekarang di Dasar Dua, hari senin diajar oleh Chandra-sensei dan kamis diajar oleh Sugita-sensei.

Kelasku mulai dari jam 19.30 dan muridnya kebanyakan orang-orang yang sudah kerja. Biasanya aku sampai agak gasik, sekitar setengah tujuh-an, karena biasanya langsung dari kampus. Bisa saja langsung naik ke kelas cuma biasanya aku leyeh-leyeh dulu di bawah sambil ngobrol-ngobrol sama murid sekelas/lain kelas dan juga Pak Uus.

Nggak tahu ya, karena semangat, belajar satu setengah jam berasanya 15 menit! Hihihi... can't wait next lesssss ❤❤

Kursus Bahasa Jepang Evergreen
Jalan Kartini 2 No. 34 B, Jakarta Pusat
021 380 5995
http://kursus-jepang-evergreen.com/
https://twitter.com/EvergreenJC/

Naik busway turun Halte Pasar Baru Timur, jalan ke arah utara.
Naik KRL turun Sawah Besar, jalan kaki santai, 15 menit.

Projecto Fifties!

Sebagai generasi muda, tentunya aku punya banyak sekali cita-cita yang kudaftar. Cita-cita itu ada yang bersifat jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Singkatnya, CCJP, CCJM, dan CCJPd. CCJP menyangkut impian yang dicapai lebih dari lima tahun lagi, CCJM yang pencapaiannya antara satu sampai lima tahun lagi, dan CCJPd yang pencapaiannya diharapkan kurang dari satu tahun lagi. Tentu saja, langkah-langkah untuk meraih cita-cita sudah dilakukan sejak sekarang.

Nah, salah satu CCJPd-ku yang ingin kucapai tahun depan adalah: punya berat badan 50-an kilo.

Serius, aku menuliskan goal itu di atas kertas daftar impianku. Sepertinya ‘kecil’ gitu ya, tapi aku punya berat segitu itu terakhir kali pas aku duduk di Sekolah Dasar kayaknya. Kasian kan aku, berpuluh-puluh tahun punya berat badan nggak ideal. Punya BB 50-an kilo bukan karena ingin enak dipandang atau supaya menarik, sumprit enggak sama sekali. Namun lebih ke faktor kesehatan, supaya kaki tak menopang badan yang kelebihan lebih dari 20 kg ini dan supaya awet muda karena lebih sehat, hihihi.

Dengan tinggiku sekarang, berat badan ideal ialah sekitar 51,3 kg. Namun targetku adalah kisaran 57-59 kg. Kira-kira kalau dari berat badanku sekarang, aku harus menurunkan BB sebanyak 10 kg.


Jadi di bawah ini pemaparan proyek BB-ku yang kunamai dengan Projecto Fifties.
Nama proyek: Projecto Fifties
Target: mencapai berat badan 57-59 kilogram
Waktu pencapaian target: optimis Maret 2014, pesimis Juni 2014

Yang pas Februari maksudnya aku menangis bahagia liat timbangan gitu hahaha! Stickers Line by Naver.
Pendukung: ibuku, Mbak Lis
Langkah-langkah yang dilakukan:
  1. Jalan Kaki 10.000 langkah dalam sehari minimal 3 kali seminggu.
  2. Aku sangat senang ketika telepon genggamku ternyata punya fitur untuk menghitung langkah. Selama ini, aku hanya jalan kaki 10.000 langkah sehari hanya satu atau dua kali seminggu. Untuk melakukan langkah ini, aku harus meniadakan naik ojek dari stasiun ke gedung fakultas, dan memperbanyak lagi jalan kaki.
  3. Makan minimal dua kali sehari maksimal tiga kali sehari, teratur.
  4. Kok pakai minimal segala ya? Iya, karena aku termasuk jarang makan. Aku bisa tahan sehari hanya makan sekali, bahkan baru-baru ini tahan nggak makan nasi lebih dari 72 jam. Namun buruknya adalah, aku juga tahan makan berpiring-piring dalam sekali makan. Kadang aku juga makan pada tengah malam/dini hari. Ketidakteraturan ini yang menyebabkan aku susah turun berat badan.
  5. Rajin olahraga minimal seminggu sekali
    Ibuku sering mengajakku ke tempat gym biasa dia olahraga. Sistem keanggotaannya membolehkan membawa teman tanpa dipungut biaya pada akhir pekan. Kadang-kadang aku suka ikut. Biasanya aku hanya jalan cepat di treadmill yang kuatur menanjak dengan kemiringan 10%. Biasanya membakar sekitar 300 cal. Tapi namanya akhir pekan, meski diajak, kadang seringan malasnya… harus lebih rajin lagi sepertinya >,< 
  6. Dua minggu sekali totok perut
    Dengan totok perut, ibuku mampu menurunkan berat badan sekitar 15 kilo dalam waktu lima bulan. Ini bukan shortcut karena harus dibarengi dengan makan baik dan teratur serta olahraga yang cukup. Katanya, totok perut yang ditotok itu titik-titik tertentu yang salah satunya bisa mengurangi nafsu makan. Aku pernah totok perut, sayangnya tidak teratur karena bingung mengelola waktu, masih banyak waktu kuliah dan ke-soksibuk-an diriku, hihihi.
  7. Mengurangi junkfood
    Aku itu termasuk fans junkfood terutama mekdonal. Aku nggak paham kenapa burgernya bisa enak gitu. NOOOO! Gerainya yang bisa ditempuh dari rumah dengan jalan kaki, plus mudahnya order dari rumah membuat akses konsumsi junkfood semakin besar. Rasanya memang harus mengurangi junkfood, kalaupun makan maksimal dua kali sebulan kali ya.
Cost and Benefit Analysis
Benefit:
+ Mengurangi biaya yang akan timbul di masa depan.
+ Gampang cari pakaian (sekarang M cowok aja aku nggak masuk.).
+ Bisa pakai baju ibu.

Cost:
- Butuh waktu, biaya, dan usaha.
- Menahan rasa sakit (karena totok perut misalnya, atau nahan nafsu nggak beli McD *mancik dingklik*)
- Baju yang sekarang jadi kegedean (Amiin!)

Can you tell me where are the differences :P
Demikian eksposisi proyekku kubuat dengan sebaik-baiknya. Ini hanya satu dari banyak cita-citaku. Mungkin terlihat kurang monumental, setidaknya monumental untuk diriku.

Dan mungkin juga output dari proyek ini hanya bermanfaat hanya aku seorang. Tapi aku berharap setelah target proyek ini tercapai, jadi lebih sehat, mencegah penyakit yang bisa merepotkan orang lain, dan mengurangi biaya yang timbul seandainya ada yang harus ‘diobati’. Selain itu, ibuku bisa mengurangi pengeluaran untuk membelikanku pakaian karena bisa ngelungsuri bajunya ke aku (karena ibuku lebih kurus dan sebenarnya dari dulu aku suka pakai baju ibu hahaha!)

Wish me luck!

❤❤❤

"Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Proyek Monumental Tahun 2014."