Cerita Anak SMA: Pelajaran Favorit

Huooo, aku juga mau nulis tentang ceritaku waktu SMA ahhh... Sekalian nulis diary gitchuuu...

Nah loh, kalau cerita tentang SMA aslinya aku mau nulis tentang cinta monyet gitu deh. Tapi kuingat-ingat, aku nggak punya pengalaman cinta-cintaan tuh pas SMA (duh kasian ya aku), akhirnya kubatalkan niatku. So, aku mau cerita tentang pelajaran favoritku waktu SMA ah!

Kurikulum di negara kita... setiap murid seakan-akan harus bisa menguasai belasan mata pelajaran. Sedangkan gurunya? Cukup satu pelajaran saja yang ia kuasai! Curang! Karena para murid dicekokin banyak pelajaran itu, oooh sudah tentu tidak semua dong ya pelajaran disukai masing-masing murid. Ya kecuali emang yang suka semuanya sih. Si anu suka Matematika, si nua suka Bahasa Inggris, dan si una, suka apa?

Waktu SMA, aku suka pelajaran Bahasa Jepang.

Mbak Lis pakai seragam SMAku.
Saat aku masuk SMA, tak terbayangkan sebelumnya kalau di jenjang SMA itu kita akan mempelajari bahasa asing yang lain selain Inggris. Di SMAku, dulu kami belajar Bahasa Jepang tiga tahun dan Bahasa Jerman dua tahun. Meski aku nggak mahir bahasa asing apapun, mempelajari bahasa itu menyenangkan menurutku. Tahu vocab baru, tenses aneh, amazing laa~!

Bukannya aku tak suka pelajaran Jerman, tapi mungkin karena belajar Nihon-Go lebih lama jadi aku lebih suka. Dan yeah kalimat Jerman yang aku bisa cuma: Ich bin hubsch sama du bist ein Hund. Oya sensei Bahasa Jepang SMA-ku dulu orangnya gaul, menyenangkan, baik pula, jadi aku senang sekali kalau pelajaran itu tiba...

Kamus Jepang yang kupakai pas SMA.
Pernah suatu saat Sensei bilang bahwa akan ada tugas berbicara Bahasa Jepang di depan kelas. Ya tentu saja kalimat sederhana. Namun kala itu aku kan tak tahu ya logat orang Jepang asline piye. Jadi demi aku bisa maju dengan bagus, aku bela-belain membeli film Jepang (yang aku sudah lupa apa judulnya) dan mempelajari bagaimana orang Jepang bicara. Aku nggak pernah cerita sama temenku, kalau aku ampe segitunya. Eh ternyata gak jadi dong tugasnya -____-"

Dari pelajaran Bahasa Jepang pula aku pernah memenangkan sesuatu, hihi. Jadi ceritanya waktu itu aku dan beberapa teman diajak Sensei mengikuti lomba Jepang yang diadakan oleh Akademi Sekretaris Don Bosco. Aku ikut lomba yang quiz Bahasa Jepang. Ada teman juga yang ikut karaokenya. Aaaah kenapa aku gak ikut yang karaokenya aja. *eh*

Tebak mana aku...
Quiznya berupa puluhan soal pilihan ganda pelajaran Bahasa Jepang gitu. Soalnya pakai hiragana dan tidak terlalu susah. Beberapa jam kemudian, pengumuman tiba. Ternyata kategori quiz Bahasa Jepang diambil cuma satu pemenang, dan aku menang yeee yeee! Nggak dapat piala sih, tapi dapat duit 500ribu sama piagam. Ahahaha dulu aku yang jaman kecil gak pernah ikut lomba, seneng banget lah dapet duit <3 <3 okane okane okane $_$

Hihihi, kalau ditanya sekarang, masih ingat gak dulu pelajarannya? Wuaaa wis akeh sing lali, rek...

Pas SMA, teman-teman suka mata pelajaran apa? Fisika suka? :D

❤❤❤

Keliling Dunia dalam Sehari

Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan pergi ke Menara Eiffel, melihat Arc de Triomphe, trus ke Inggris liat Buckingham Palace, liat Tower Bridge di London, tak lupa ke Stonehenge. Abis itu meluncur ke Asia, aku ke Angkor Wat, ke tempat Merlion juga!


NGOOKK! TAPI BOONG!

❤❤❤

Januari lalu, aku dan Bellita pergi ke Shenzhen. Shenzhen ini tak jauh dari Hong Kong. Mudah sekali mencapai kota yang merupakan Special Economic Zone-nya Cina ini. Dari HK tinggal naik kereta ke Lo Wu (Luohu) dengan waktu perjalanan sekitar satu jam. Di Lo Wu harus mengurus Visa on Arrival-nya. Biayanya 168RMB (Renminbi = mata uang Cina). Waktu itu sepi, jadi tak sampai 10 menit kami mendapatkan visa Shenzhen kami. Woohoo~ Window of the World, I'm coming!


Setelah keluar imigrasi, kami mencari stasiun metro untuk dalam kota Shenzhen. Di sana, kami agak kebingungan, hihihi. Ada mesin buat beli tiketnya, tapi kita kan belum tahu kita berhenti di mana. Jadi liat peta dulu hmmm... eh lagi liat peta (dan mungkin tampang kita kelihatan tampang bego), ada orang nyamperin kita! Dan ia speak Bahasa. Sepertinya ia orang sana namun lama tinggal di Malaysia atau Sumatera, logatnya agak-agak Melayu gitu... Ia mengajarkan kami cara sampai ke sana. Yeiy! Dan udah masukin duit lalala, eh keluarnya tiket kayak koin doang gitu...



Stasiun tempat berhentinya pun atasnya berbentuk Musee de Louvre. Tiket masuk Window of the World ini 140RMB (=200.000 rupiah). Aku dan Bellita emang pengen banget ke sana. Apalagi kan WoW ini taman yang ada tiruan bangunan-bangunan di dunia. Karena belum bisa keliling dunia, ya tiruannya dulu juga nggak apa-apa deh, hihihi! Mungkin kalau disamain, WoW ini mirip Taman Mini kali ya. Bedanya Taman Mini merepresentasi provinsi di Indonesia kalau WoW ini dunia.

Masuk-masuk WoW disuguhi Menara Eiffel boong-boongan. Wow... yang tiruan aja wow apalagi yang beneran ya. Di WoW ini ada bagian-bagiannya, macam per benua gitu lah. Belum lagi Asia dibagi ada Asia Tenggara, dan bahkan Jepang dibikin area taman sendiri loh. Ada Gunung Fuji boong-boongannya juga. Sebelum masuk ke bagian tiruan bangunan itu, ada kios. Dia jualan 'paspor-pasporan' gitu. Trus bisa dicap-cap. Cuma 20RMB lagi. Kepengeeeen, tapi ntar aja deh pas pulang.

Area yang kita datangi pertama bagian Asia. Ada Angkor Wat, Merlion, bahkan Borobudur. Ada istana Korea dan Jepang gitu juga tapi auk apaan namanya. Ada Taj Mahal, waaawww... banyak laaah!

Borobudur aneh ternyata kalau diliat keseluruhannya @.@
Lensa kameraku kena hujan... jadi begitu deh, hihihi! Ngeblur tanpa photoshop :D
Mari mampir ke kastil aku! 

Mana aku kan kaguman (baca: ndeso) ya orangnya... jadi semua yang kulihat yang kufoto. Jangan sampai bangunannya ada yang aku nggak lihat. Hihihi... di bagian Eropa ada Eiffel, Arc de Triomphe, Vatikan, Venezia, Pisa, Hagia Sophia, Buckingham, patung Mermaid Denmark, waaa lucu deh cilik-cilik gitu bangunannya mungkin aku ambrukin gampang kali ya.

Satu yang aku sebal, kami pas ke sana hujan... awalnya hujannya gerimis biasa... abis itu berhenti... abis itu dereeeesss... Makanya di foto aku sering pake payung. And yeah, ternyata tamannya besar sekali... pas udah setengah jalan, kami duduk dulu di dekat Eiffel. Bellita cari makan aku cari eskrim. Setelah itu melanjutkan jalan, kami sudah kecapekan T.T Dasarnya kemarin-kemarin udah capek, plus hujan lagi. Jadi ya rada-rada piye gitu...

Banyak bangunan yang kami lewatkan... kayak Piramid aja, besar banget gitu, kita cuekin. Udah nggak minat foto, hahaha! Yang Afrika pun nggak sempat liat-liat juga... sudah keburu capai. Karena hujan juga, kami nggak jadi ke China Folk Culture Village menonton nari. Yasudah deh, kembali ke Hong Kong.

Meski itinerary perjalanan kita gak sesuai ama realitanya, aku seneng banget. Melihat tiruan-tiruan bangunan dunia itu bikin aku inget dan wonder, kapan ya bisa ke tempat aslinya... <3 Mauuu! Dan aku kan tadinya mau beli paspor-pasporan itu ya... sebelum keluar ke kiosnya lagi, eh tutuppp!!! T.T

❤❤❤

My New Big Glasses!

Setelah tahu ada yang bagi-bagi kacamata gratis untuk blogger, aku juga kepengen, hihihi!

Awalnya aku sedikit kecewa, karena aku tidak bisa memilih sunglasses. Sunglasses membutuhkan lensa besar dan maksimal limit minus sekitar -4.00 s.d -5.00. Melebihi batas itu menggunakan sunglasses akan membuat pusing dan mata tak nyaman. Dan minusku lebih dari lima... ada silinder pula. Gagal deh punya sunglasses minus!

Akhirnya aku memilih eyeglasses untuk sehari-hari. Aku pilih yang bingkainya plastik karena kulit mukaku tak kuat logam kecuali emas (pinter ya kulitku, ngokkk). Dan aku pilih kacamata dengan lensa yang besar, yang lebar, karena aku belum pernah punya kacamata bingkai besar. Menelisik harganya hanya 21.80USD. Tak sampai 200 ribu rupiah. Termasuk kategori murah, di deretan optik di perbelanjaan di Casablanca, sudah susah mencari harga segitu...

Hari ini paketku tiba. Pak pos datang ke rumahku. Aku pun keluar rumah untuk menerima paketnya. Saat melihatku, si Pak Pos bertanya, "Una ya?" Hmmm... kok dia tahu namaku ya... perasaan kan kita belum pernah kenalan... "Dari Cina paketnya," lanjut si Pak Pos.

Yaiyalah ya Pak Pos tahu namaku -____-"
Mari kubuka isi paketnya...


Kacamata baru asiik! Terimakasih Firmoo terimakasih Mr. Patrick! *peluk virtual*

Pas aku coba, lho kok mukaku aneh ya. Hueee kayaknya mukaku nggak cocok pakai bingkai besar. Gara-gara nggak ngikutin saran ibuku, "mendingan coba dulu aja sana di optik deket rumah cocok atau enggak mukamu sama kacamata gede." Ternyata mukaku jadi wagu...

Etapi pas foto-foto, nggak aneh-aneh banget mukaku. Cantik malah... wkwkwk...


Aku suka kacamatanya, nggak berat dipakainya. Dan dari setelannya enak jadi kencang, enak dipakainya dicantolin di kuping. Emang di mana lagi ya nyantolinnya... hidung juga jadi cantolan ding... Aku suka sekali sama detil gambar di bagian tangkainya.


Cacatnya kacamata yang aku terima paling di bagian pengecatannya. Aku perhatikan logam pengait antara bingkai dan tangkainya yang sebelah kanan dicat, yang sebelah kiri berwarna logam. Kurang sempurna aja. Tapi di dunia tidak ada yang sempurna sih... Selain itu lensanya berbayang. Apa sih istilahnya, jadi kita bisa liat warna di lensa itu. Kalau tidak salah, kalau lensa makin bagus, makin bening tak ada warna yang muncul kalau kita lihat lensa itu.

Warna logam pengait tidak sama.

Meski begitu, aku suka kacamatanya. Kan aku bilang ya sama mbakku kalau mukaku kok kayaknya aneh pakai kacamata besar, katanya sih nggak aneh, cuma nggak biasa aja... Oke deh... nggak perlu malu aku pakai kacamata besar, hihihi!

Thanks again buat Firmoo.Com!

❤❤❤

Firmoo Website: http://www.firmoo.com/
Free glasses offer: http://bloggerfreegifts.blogspot.com/

Jirih

Membaca komen Mbak Imelda di postingan sebelum ini, aku geli dan cekikikan sendiri. Jam 12 malam.
"hahahaha elu tuh badan gede, hatinya kecil :D"
Hihihi dan emang iya... aku penakut. Kalau kata ibuku, "jirih." (Jirih = jw. penakut) Bahkan cuma sama foto jendela bangunan tua. Untung yang cekikikan aku sendiri. Coba orang lain, udah mana jam 12 pula... Takut juga deh aku...


Foto di atas, foto yang kuaplut di postingan kemarin, ialah foto yang paling kutakutkan. Aku merinding sendiri liatnya. Aku membayangkan kalau ada sesuatu muncul dibalik terali itu. Mana udah pada tidur semua di rumah. Makin takut.

Mungkin aku takut dengan bangunan tua, gara-gara ini. Beberapa tahun lalu, aku pernah masuk ke Museum Sejarah Jakarta alias Museum Fatahillah. Nah, aku menuju ke halaman belakang museum itu. Kalau pernah ke sana, di belakang ada Patung Hermes. Nah, di dekat penjara bawah tanah ada pintu masuk. Tapi bukan pintu masuk ke ruang utama.

Kaki patung Hermes Museum Fatahillah.
Pintunya pintu ukuran biasa. Ukuran satu manusia lah. Nah masuk ke situ, ada tangga kayu yang memutar. Naik ke atas, sampailah aku, adikku dan kakak sepupuku di ruang pamer peninggalan sejarah yang bercorak Cina. Jadi isinya ada piring, guci, mangkok bermotif Cina. Kami tak menemukan orang lain selain kami bertiga.

Kami melihat-lihat sejenak dan... tiba-tiba meja berisi piring itu bergerak-gerak sendiri seperti sedang ada gempa. Guci di lantai juga bergerak seakan ada vibrasi. Wuaaaa lantai kayu gonjang-ganjing, kami teriak, bruk bruk bruk lari turun tangga yang memutar. Huh hah huh hah!

Pas udah keluar, rasanya lega... dan aku beberapa kali ke sana setelah itu, tak pernah lagi menemukan ruangan itu. Hmmm...

Sebenarnya punya rasa takut itu kan normal. Sebisa mungkin sih dikendalikan. Kadang tiap dari kita punya rasa takut terhadap sesuatu yang sebenarnya nggak perlu ditakutkan. Kayak temanku ada yang takut sama kancing, atau takut balon. Ya macam-macam lah.

Kalau salah satu ketakutanku: takut baca sejarah malam-malam. Nggak cuma sejarah yang mengenai masa lampau, tapi juga misalnya, baca biografi orang... Nggak tahu lah rasanya merindinggg... Nyari-nyari sejarah Mandarin's House pun, sambil merinding karena aku ngeblognya malam-malam. Udah nemu situs resminya, rasanya pengen cepet-cepet nge-klik huruf X di pojok kiri atas. Mau baca rasanya deg-degan.

Kadang-kadang, ketakutan membawa petaka. Aku takut gelap, dan yeah itu normal kan ya? *nyari temen* Suatu malam, aku nglilir berasa ada orang lewat dekat kamar. Aku terbangun dong ya, ada bayangan hitam di dekat pintu kamar. Seketika, aku teriak-teriak histeris! Aku takut banget, dan yang bisa kulakukan adalah memformasikan tanganku menjadi gerakan cakar dan keluar dari kamar. Karena kehalang bayangan hitam itu pun, aku mencakar-cakarnya sambil teriak-teriak.

Aku keluar kamar, ke kamar ibu, sambil memanggil ibuku, "IBUUUU!"
Dan yeah, ibuku nggak ada di kamar. Panik panik! Tapi akhirnya aku nggak peduli, aku tertidur di kamar ibu.

Dan yang kucakar itu lengan ibuku...

Aku nggak tahu itu ketakutan atau kegelisahan. Tapi rasanya takut banget aja. Apalagi waktu itu jaman-jamannya aku sering tindihan... Wew, maap ya Bu... hihihi!

Kamu penakut bukan? Atau punya ketakutan tertentu?

❤❤❤

Mandarin's House

Asiknya di Macau, di sana ada Historic Centre of Macau. Semacam Kota Tua kali ya kalau di Jakarta. Yang mana di tengah kota itu ada pusat sejarah yang terdiri dari beberapa lokasi situs sejarah. Dengan jalan kaki pun mudah dicapai, apalagi penunjuk jalannya jelas sekali. Area itu termasuk dalam UNESCO World Heritage List, lho... katanya sih, selain berkenaan dengan sejarah juga ada perpaduan antara kultur Cina dan Portugis, agama (banyak gereja dan temple juga), dan keindahan arsitektural.

Melanglang jalan kaki muter-muter situ, akhirnya aku dan Bellita mampir ke Mandarin's House.



NGOOK. Liat pohon jeruk ini bawaannya pengen metik. Tapi nggak boleh!!
Mandarin's House merupakan salah satu bagian dari Historic Centre of Macau. Dulunya, rumah ini ditinggali oleh Keluarga Zheng Guanying yang berasal dari Guangdong. Oya, Guangdong kan kalau dilafalin jadi Kanton. Dulunya orang Guangdong banyak yang hijrah ke Macau dan HK. Makanya bahasa yang digunakan di sana itu bukan Mandarin, melainkan Kanton. Huehehe, mbleber...

Balik ke topik. Zheng Guanying ini merupakan seorang pengusaha. Ia menulis banyak tulisan dan berpendapat bahwa 'menyelamatkan negara, dengan memperkaya bangsa'. Caranya dengan ekonomi dan industri yang maju, memajukan pendidikan, hormat pada etika, dan reformasi politik. Nah, pemikiran dia ini mempengaruhi Sun Yat-sen dan Mao Ze Dong.

Menariknya Mandarin's House ialah bahwa ia bisa dibilang merupakan rumah terbesar yang ada di Macau saat ini. Sekaligus yang bercorak tradisional Cina. Luasnya 4000 meter persegi. Kamarnya enam puluh biji. Untuk satu keluarga, besar banget dong ya. Apalagi dilihat Macau kan wilayah administratif yang kecil, lahannya mahal, mungkin sudah tidak ada kali ya rumah pribadi seluas itu di Macau.




Sekitar tahun 50-an, para keturunan Zheng ini tidak lagi tinggal di sana. Sehingga rumah itu disewakan kepada banyak keluarga. Karena kondisi penyewa ialah sebagian besar keluarga miskin, jadinya rumah itu jadi nggak terawat gitu. Oleh Pemerintah Macau, Mandarin's House ini direnovasi sehingga dibuka untuk umum sejak 2010 silam.

Ada ruang pamernya juga dan ruang menonton. Tapi waktu itu nggak lagi nyetel apa-apa. Ruang pamernya pun tidak terlalu besar. Sedangkan di bagian lain rumah ya paling cuma liat-liat aja, tidak ada pajangan yang bisa dibaca. Paling furnitur tradisional dan ukiran-ukiran yang cantik saja yang bisa dilihat.




Aku suka ukiran-ukiran di Mansion utamanya...

Wokokok, di Mansion utamanya... aku masuk sendirian kayaknya nggak ada turis lain. Temanku Bellita entah ke mana. Sekonyong-konyong merinding seketika. Tapi nggak apa sih, hehehe... soalnya terbuka jadi banyak sinar... vampir takut keluar deh pasti... 



Waktu aku ke sana, sedang hujan. Front Courtyardnya pun basah dan licin, alhamdulillah tidak terpeleset. Huehehe! Setelah itu, aku harus mencari Bellita. Aku cari-cari Bellita nggak ada dong... Mau masuk rumahnya lagi, emoooh, takut aku... Aku sempat cengok di dekat Sedan Way di depan. Beberapa menit kemudian, Bellita masuk dari arah luar. Ternyata ia sudah menungguku di Lilau Square, semacam alun-alun kecil di dekat sana.

❤❤❤

Kalau liat gambar-gambar situs sejarah gitu aku kok takut ya...
Ini aja pas posting aku ngebayangin kalau di jendela-jendela itu keluar apaaan gituhhh~

Plushstories: Puasa

Wehehehe, cerita domba lagi ah...

❤❤❤

Ceritanya, sudah jam lima sore di bulan puasa.


*tengok kanan*


*tengok kiri*
Shirley: "Hm, nggak ada orang kan ya... turun ah...




Shirley yang semok itu menuruni tangga.


Shirley: "Me he he he, aku mau minum ahhh. Hausss... Nggak ada orang ini."


Kepiko yang sedang di dapur pun membuntuti Shirley.
Kepiko: "Dooorrr, hayooo mau minum!"


Shirley: "Me he he he, eh ada kamu tho Pik.. Aku haus, mau minum..."


Kepiko: "Kamu puasa nggak Shir?"
Shirley: *ngangguk-ngangguk*


Kepiko: "Sahur?"
Shirley: *geleng-geleng*
Kepiko: "Terakhir makan kapan?"
Shirley: "Me he he he, kemarin siang."
Kepiko: "Ooo pantas saja sudah lapar..."
Shirley: "Aku tak minum dulu ya."

Pingsan
Kepiko: "Eh jangan-jangan... bentar lagi kan buka..."
Shirley: "Nanti kalau aku pingsan bagaimanaaa???"


Kepiko: "Ahhh, nggak mungkin, cadangan makanan dalam perutmu kan banyak Shir. Cukup untuk setahun. Kita main saja yuk, biar nggak kerasa."
Shirley: "Main apa?"
Kepiko: "Fesbukan, chatting, atau baca blognya Una gitu..."
Shirley: "Ooo ya udah deh..."


Shirley dan Kepiko naik ke atas.
Kepiko: "Wuuu lain kali sahur ya Shir..."
Shirley: "Iya iya..."


❤❤❤