Affi, Teman Perjalananku

Affi - Una di De Foret
Una - Affi di De Foret
Dua puluh enam hari, saya habiskan waktuku bersama Fatikha Shaffi, di akhir tahun lalu dan awal tahun ini. Meski rencana wisata murah kita gagal total, kalau mengingat-ngingat perjalanan kami beberapa bulan lalu, saya nggak tahu bagaimana rasanya, senang tapi rindu juga. Mungkin dalam 26 hari itu, saya masih nggak bisa mengenal 'dalamnya' Affi, tapi dia teman yang baik.

. Bisa jadi dia nggak ingat ini, tapi dia pernah mengingatkanku untuk nggak makan sate, karena berbumbu kacang. (Perut saya sensitif saus kacang.) Waktu itu di depan Vredeburg.

. Menyanyi balonku dengan lirik pelangi atau campuran lagu lainnya dari Jalan Pandanaran hingga Simpang Lima. Setelah itu, mainan lempar gelang ke botol di pasar malem.

. Marah-marah bareng sambil sumpah serapah sambil menyusuri Pantai Double Six hingga Kuta, sambil menyetel Soft Melody yang di-repeat-repeat.

.Ngemper berdua di depan toilet wanita Mall Paragon, cuma untuk nge-charge blackberry yang baterenya musti kita irit-irit. Sambil komat-kamit semoga nggak ada yang kenal dan menebalkan muka.

. Diramal Pak Panut di Hok An Kiong, katanya saya bakal dapat kejadian besar di tahun 2017, dan si Affi di 2018. Penasaran, itu apa, hehehe.

. Tidur di mushalla Stasiun Tawang, dan si Affi bisa tidur pulas. Saya malah terjaga, apalagi ada seorang laki-laki yang sering menengok ke arah kami. Nggak tahu kenapa, saya merasa setelah tidur di masjid, si Affi mukanya sumringah sekali. Oh ya, waktu dia tidur saya sempat memotret dia yang krukupan mukena, dan meng-uploadnya di group keluarga.

Masih banyak sebenarnya, yang bisa diceritakan tapi nanti kebanyakan ah. Mungkin si Affi nggak baca ini, tapi terimakasih ya Affi! *kecups*

Melintas Sudirman

Sudah berapa kali aku mendatangi Pacific Place setelah terdapat @america di sana. Terakhir ke sana aku berjalan kaki dari Ratu Plaza. Melewati salah satu business district kota Jakarta. Berturut-turut gedung Depdiknas, fX, Graha Niaga, Citibank Tower, BEJ, baru Pacific Place. Lalu lalang para pekerja berdasi berjalan kaki, entah mau kembali ke gedungnya atau malah baru akan makan siang.

Entah kenapa, aku berpikir bahwa aku tidak ingin menghabiskan masa depanku di business district-ku. Aku tidak memimpikan bekerja di depan monitor dan di deretan gedung-gedung tinggi itu.