Powerbank Baruku, ASUS Zenpower

Selama ini, gue nggak terlalu bergantung sama powerbank. Kalau baterai henpon habis, ya uwis. Lagi asyik baca berita online (pencitraan aja, padahal aslinya asyik chatting), baterai henpon habis, ya uwis. Gue mah orangnya pasrah-pasrah ajaaa... Apalagi aku anaknya juga nggak rajin livetweet jadi ya, kayak nggak butuh-butuh amat powerbank. Punya powerbank? Ya punya dong, tapi lumayan berat ya, dan cuma bisa dua kali ngecharge setelah kondisi powerbank full, udah gituuu ngecharge powerbank-nya lamaaaa... pernah lho kutinggal tidur masih belom full. Makanya tuh powerbank hampir nggak pernah kubawa.

Kan rese.

Di kesempatan tertentu, powerbank rasanya benar-benar dibutuhkan. Kayak belom lama ini, aku sempat menginap di bandara KLIA2, Sepang, Malaysia. Tengah malam, baterai henponku sudah hampir sekarat. Nyari colokan dari ujung utara sampai ujung timur, dipake semua dong dong! Padahal kan aku pengen main game. Padahal kan aku butuh hapeku nyala buat nunjukin tiket. Hmmm...

Masalahnya powerbank-ku ini nge-charge-nya lamaaa. Jadi kan kadang ya suka lagi asik-asik chatting, trus baterai tinggal 2%, colokin deh ke powerbank. Nah sambil ngecharge sambil chatting, ternyata angka 2 itu nggak bergerak naik, malah turun, dan akhirnya mati juga meski di-charge pakai powerbank. Jadi kayak kalah gitu kekuatan powerbank-nya. Ada yang pernah gini juga nggak?

Pengalaman Pertama Naik Malindo Air

Saat bulan lalu ke Sri Lanka, awalnya kan baru beli tiket Kuala Lumpur - Colombo - Kuala Lumpur ya. Berarti kan aku harus cari tiket Jakarta - Kuala Lumpur - Jakarta. Mana agak mepet belinya sekitar semingguan sebelum berangkat, pas cek Air Asia yang dikata low cost pun udah mihil banget sekitar 1,3 juta pulang pergi. Andaiii gue sudah nggak price sensitive... Baru ngeuh juga pas masa aku pergi itu tanggal merah di Indonesia, jadi ya terang aja mahal.

Karena nggak belum mungkin beli tiket Garuda atau Malaysia Airlines, aku keingetan Lion Air. Dan ehhh lebih murah daripada Air Asia, sekitar 900 pulang pergi. Berangkatnya 575 ribu, tapi pulangnya hanya 325 ribu - tiket ke Jogja aja lebih mahal cyin. Nah tapi pas booking tahunya pas berangkat, nama pesawatnya bukan dioperasikan Lion Air, tapi Malindo Air. Namanya mengingatkanku sama nama tante-tante cantik yang punya Hummer. Aku juga nggak cari tahu di google kayak apa dalamnya Malindo Air (well yeah aku cuma tahu kalau Malindo itu pesawat patungan Lion Air ama Pemerintah Malaysia) meski aku tanya temanku katanya Malindo Air itu bagus banget.

Jeng jeeenngg... Pas hari H aku ketemu Malindo Air... ini sih Batik Air dalam nama yang lain! =)) Batik Air yang pengumuman dan sign-sign di pesawatnya pakai Bahasa Melayu!

Bagus ya iya, lebih bagus daripada Lion Air tapi nggak selebay yang temanku cerita... hihihi.

Heli Lounge Bar, KL Must-Visit Place

Iseng aja mau pasang foto ini.
Agenda terakhir hari itu adalah pergi ke Menara KH. Chun Ik dan Falk kutanya apakah mau ikut ke Menara KH pada sore hari, dan mereka mau. Falk kemudian sempat search tentang Menara KH dan dia oke-oke aja kalau ke sana. Nah, anehnya lebih dari sepuluh orang Malaysia yang aku tanya, tidak ada yang tahu tentang gedung satu ini.  Di artikel yang Falk baca, katanya Menara KH adalah nama baru, dulunya adalah Prommet Tower. Tetap saja kalau nanya Prommet Tower nggak ada yang tahu juga. Chun Ik sepertinya agak pesimis, dan nggak yakin kalau gedung ini ada.

Sehari Bersama Om Korea dan Mas Jerman: Random Stesen untuk Makan

Lanjutan cerita dari Sehari Bersama Om Korea dan Mas Jerman: Gagal Ke Colmar Tropicale!

Abis kecewa karena tiket masuk Petronas mahal, akhirnya Chun Ik dan Falk buka peta, ke mana tempat yang asik untuk dikunjungi. Trus aku nggak ngerti lah, kenapa akhirnya mereka berdua memutuskan untuk naik kereta dan berhenti di Stasiun Sentul. Oke aku manut aja, apalagi aku tak mungkin mengajak mereka ke Petrosains dan agendaku ke Menara KH masih malam hari.

Horeee kereta ke arah Sentul sudah tibaaa...
Suatu jalan di Kuala Lumpur yang terjepret dari kereta.

#SBBYeos2015: Blogger Treasure Hunt

Acara Sepetang Bersama Blogger 2015 secara garis besar dibagi menjadi dua kegiatan besar, yaitu Blogger Treasure Hunt pada pagi hari dan dilanjutkan diskusi panel usai istirahat shalat dzuhur.

Malam sebelum acara SBB 2015, Bang Hisyam (Shakiddo) sudah mengingatkan kalau kami harus berangkat pukul 6.45 pagi (WIB+1). Tapi nih yaaa... aku sama Mbak Anazkia baru tidur di atas jam satu pagi, alarm jam enam pagi pun cuma di-dismiss saja. Alhasil Bang Hisyam harus ketok-ketok kamar kami jam 6.30 agak lama, baru aku membuka pintu kamar. Sementara, Mbak Anazkia masih pulas. Ternyata dia hobi tidur =p. Buru-buru membangunkan Mbak Anazkia dan kami pun membersihkan badan (mandi nggak yaaa, ada kuisnya lho di Instagram @anazkia).

Tepat pukul 6.45 kami berdua keluar kamar dan ngetok-ngetok kamar sebelah yang dihuni oleh dua mamah gaoel, Mbak Winda dan Mbak Pungky. Taunya merekaaa masih belom bangun sepenuhnyaaaa... kirain rajinan sanaaaa, hahaha.

Akhirnya aku dan Mbak Anazkia duluan pergi ke venue tempat Sepetang Bersama Blogger 2015 diadakan, yaitu Taman Cabaran (challenge park) Putrajaya. Kami pergi diantar Bang Eizil. Sampai sana, kami adalah peserta pertama yang datang, hihihi, jadilah kami mlipir dulu ke seberang Taman Cabaran untuk foto-foto.


#SBBYeos2015: Kuala Lumpur, Aku Datang (Lagi)!

Belum lama ini, aku mengikuti kontes blog yang diadakan oleh Mbak Anazkia. Bukan main, hadiahnya menghadiri undangan acara blogger di Malaysia. Siapa yang nggak minat? Sayangnya, ketika hari diumumkan, namaku tak muncul dalam pengumuman. Tapi mah ya yaudah, nothing to lose, kalah yaudah, ya emang belom rejeki, dan apalagi bentar lagi aku mau merantau, memang harus fokus sama persiapan merantaunya kali ye.

Hari Rabu (10/6), aku sedang berada di acara #RayakanIndonesiamu Mizan, aku pun melihat telepon selulerku dan menemukan mensyenan Mbak Anazkia di Twitter, yang intinya beliau minta nomor WhatsApp-ku. Di acara itu pula, aku bertemu Mbak Icoel Sumarti Saelan, salah satu juri kontes Mbak Anazkia, dan beliau juga menyampaikan kalau Mbak Anazkia minta nomorku. Hmmm…?

Aku pun menyapa Mbak Anaz terlebih dahulu di WhatsApp, dan beliau mengabarkan kalau aku bakal ikut juga ke acara Sepetang Bersama Blogger 2015.

Hah? Serius?

Dalam hati, aku antara girang dan tak percaya. Mau lompat-lompat kok ya lagi di dalam aula… hihihi… Nggak nyangka, karena belum terpikirkan bakal ke Malaysia lagi setelah sempat semalam menginap di Kuala Lumpur, sebulan yang lalu.

Hari Jumat (12/6), aku tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, dan empat teman-teman yang lain sudah tiba. Aku pun berkenalan dengan Mbak Winda - Emak Gaoel (tahunya mah dari duluuu wong beliau heitz abiz) dan Mas Darul, juga menyalami Mbak Pungky, selebblogger dari Purwokerto, dan Mbak Anazkia, blogger yang menjadi panel dalam acara Sepetang Bersama Blogger 2015.

Kuala Lumpur, aku datang lagi!!! Yaaa meski agak incorrect wong kita mau ke Putrajaya =))

Contact Lenses + Eyeliner = ?

Di post terakhir Instagramku, aku bercerita kalau temanku menyarankanku untuk pakai eyeliner saat memakai lensa kontak. Menurutnya bakal tambah cakep lagi. Nah di postingan kali ini, aku mau mempraktikkan dong. Eh, mungkin pakai lensa kontak plus eyeliner bukan big deal yaaa… tapi sehari-hari aku nggak pernah pakai eyeliner jadi yaaa baca aja deh post ini sampai habis, hahaha.

Tapi sebelumnya, aku mau cerita tentang drama pertama kali aku pakai lensa kontak. Waktu trial experience dan event media launch 1-Day Acuvue Define, ada mas dan mbak refraksionis yang membantuku memasangkan. Setelah itu kan aku harus pasang sendiri dong ya. Ya kali minta tolong ibuku buat masangin. Aku minta ajarin sepupuku yang pemakai lensa kontak. Setelah melihat dia memasang lensa kontak, aku menyalin aksinya.

Eh kok ya nggak kepasang-pasang. Aku mengeluh, “Ini gimana ini gimanaaa?” Ibuku yang lewat di depanku cuma bilang, “Ah gitu aja nggak bisa,” dengan muka sinis gitu.

Sampai kemudian, aku buka bungkus lensa kontak yang baru lagi gara-gara, lensa yang kupegang dah ketekuk-tekuk dan kena kuku. Sayang banget sebenernya, hikz. Nggak lama, bisa juga masangnya. Eh gampang, hahaha. *songong* Pas copotnya juga panik, gara-gara ngga kecopot-copot juga. Banyak yang bilang nyopot lebih gampang daripada masang, menurutku kebalikannya, hehehe…

Traveling dan Takut Kena Tarif Roaming Mahal?

Gue banget.

Selama ini, aku kalau jalan-jalan ke luar negeri, nggak pernah peduli sama mengaktifkan data roaming dan beli simcard di sana. Males setting hape, males nelpon ke call center, dan misal harus datang ke kantor pelayanan operator yang kupakai. Biasanya aku cuma mengandalkan wi-fi gratis yang ada di hotel dan tempat umum. Apalagi aku kan masyih muda *pret*, jadi nggak banyak urusan penting yang dikomunikasikan via telepon dan SMS.

Tapi tetep aja!

Pernah aku lagi di dekat Nagoya Public Aquarium di Jepang, waktu itu rangkaian youth program JENESYS, tiba-tiba telepon genggamku berdering. Pas aku lihat peneleponnya, tahunya urusan kerjaan. Aduh, kalau diangkat kasian aku dan kasian dia. Lebih ke kasian aku sih, pulsaku dikit ntar tetiba abis karena bayar roaming yang mahal banget. Tapi kalau nggak diangkat, tambahan uang saku melayang~ ahhh. Akhirnya aku putuskan untuk kirim SMS aja, Eh entah kenapa SMS nggak ke-sent juga.

Oke, mari nyalakan internet sebentar buat kirim e-mail untuk memberitahu kalau tidak bisa angkat teleponnya. Buka setting, nyalakan internet. Dan....... nggak bisa juga.

Oiya, kan internet roaming-nya nggak nyala, jadi ya nggak bisa. Huhuhu!

"Di Jakarta yang Asik Apa?"

Kok gua geli sendiri yah.

Apakah semua orang di dunia ini sama ya? Maksud aku, kalau ditanya pertanyaan ini, "Apa yang kamu rekomendasikan dari xxx (nama ibukota negara orang yang ditanya) untuk didatangi?"

Waktu itu, aku makan siang di dekat Stesen Sentul, Kuala Lumpur. Aku dan teman-temanku, Chun Ik, dan Falk, tidak tahu mau ke mana menghabiskan waktu siang hari itu. Lalu aku bertanya kepada ibu-ibu penjual nasi dan pedagang yang lain tentang tempat oke di Kuala Lumpur.

Jawabannya intinya begini, "Tak ada, tak ada. Kalau mau yang bagus, pergi outside Kuala Lumpur. Di sini nggak ada yang bagus. Shopping saja ada."

Sejenis pula jawabannya, sama orang Sri Lanka yang kutanya di kereta dari Galle menuju Colombo. Mas-mas Sri Lanka itu kutanyai tentang apa yang bagus di Colombo. Inti jawabannya sama.

"Nope. Nope. Colombo is dirty. Nothing interesting. Only shopping you can do there. Just go outside Colombo. We have many nice places."

Di Colombo, store BreadTalk aja jadi tempat menarik buatku =))

Bukan #TravelerPemula

Saya nggak mau bahas tentang artikel yang heitz itu kok. Toh saya juga bukan traveler banget, cuma anak rumahan yang suka ngabisin celengan dan mintain duit ibunya buat jalan-jalan, hahaha... Kalau artikelnya bahas mahasiswa pemula, nah mungkin saya baru sensi. Wong aku jadi mahasiswa hampir enam tahun~ nananana...

Tetiba mau nulis tentang mama saya. Kok ya tadi siang, si mama (perlu diketahui saya nggak pernah manggil mama saya 'mama', hahaha) cerita tentang saya yang waktu masih kecil sering dibawa mama jalan-jalan.

"Tahu kan antrean imigrasi Sydney sepanjang apa? Nah, mbiyen ki, gek kamu cilik, pergi berdua sama kamu ke Ostrali, wis antre suwi-suwi, udah sampe depan, eh kamunya malah mlayu-mlayu karena liat mainan. Antre dari belakang lagi deh. Nyebelin banget kan kamu? Untung ada yang manggil dan nyuruh duluan," cerita mama saya sambil tertawa-tawa.

"Trus tahu nggak? Pernah to kamu pipis di toilet pesawat, tapi kamu jongkok, eh pipisnya ki nggak masuk, keluar-keluar, akhire aku ngelapi toilet pesawat. Nyebelin to?" lanjut cerita mama saya masih sambil terbahak-bahak.

Tentu saja saya nggak ingat. Mama sudah mengajak saya bepergian sejak masih bayi dan sering mengajak jalan-jalan sampai umur saya tujuh tahun. Abis itu pindah ke Jogja, dan nggak pernah jalan-jalan yang jauh. Saya baru pergi ke luar negeri lagi pun setelah saya lulus SMA karena diajak teman, dan aduh itu norak banget deh hahaha ya abis berasa baru pertama kali pergi ke LN kan :)

Ingin Bertukar Kartu Nama di #SBBYEOS2015

Saya terharu.

Saya membaca reportase acara Sepetang Bersama Blogger yang ditulis oleh seorang teman blogger, Mbak Anazkia, dan saya terharu. Mbak Anazkia bercerita bahwa ada seorang blogger peserta acara tersebut yang menangis hanya karena mendapat doorprize. Eh, bukan 'hanya', karena syarat doorprize-nya adalah mengumpulkan 45 kartu nama para peserta. Dan seseorang itu berhasil mengumpulkan 45 kartu nama dan mendapat hadiahnya.

Ia tak hanya dapat mengumpulkan 45 kartu nama, namun juga datang dari kota jauh dan sempat menginap di terminal bus hanya untuk mengikuti Sepetang Bersama Blogger. Kalau aku jadi beliau, aku juga pasti menangis, sih.

Encik Ilham a.k.a Amir, pemilik blog denaihati.com, selaku penyelenggara acara Sepetang Bersama Blogger, tahu betul arti penting silaturahmi antar blogger dalam sebuah event. Betapa pentingnya networking, membangun jaringan. Sampai memberikan syarat doorprize pun menyangkut networking: kartu nama.

Sepetang Bersama Blogger (SBB) ialah acara tahunan yang diadakan oleh Denaihati Network. Tahun ini, sponsor utama SBB adalah Yeo's Malaysia, dan juga disponsori oleh The Sumbs, The Photolicious, eQurban, dan lainnya. SBB 2015 akan diadakan pada tanggal 13 Juni 2015 di Taman Cabaran, Putrajaya, Malaysia. Tahun ini pula, Mbak Anazkia kembali membagi-bagikan tiket pesawat PP dan undangan SBB 2015 bagi empat blogger yang menjelaskan alasannya ingin ikut serta dalam acara #SBBYEOS2015 ini. Doakan saya yaaa, teman-teman!

Menginap di KLIA2

Ceritanya kan sebelum ke Sri Lanka, aku menginap dua malam di Kuala Lumpur. Semalam pertama aku menginap di Raizzy's Guesthouse dan malam berikutnya di bandara saja. Pertimbangannya, temanku Kak Hanna Ester dan teman-temannya sudah ada di bandara malam itu. Lagipula penerbangan ke Sri Lanka pagi hari, jadi ya ngga masalah.

Waktu aku mengutarakan rencana menginap di KLIA2 kepada Chun Ik karena penerbanganku pagi, ia langsung berkomentar.

"But you don't have to stay there..."
"Yes, but I'll meet my friend there. So yeah... And I'm afraid I will wake up late."

Padahal dalam hati gue, salah satu hal utama mau nginep di bandara adalah karena nggak mau ngeluarin duit aja buat nginep lagi. #terkere #doainkayaya

Hari kedua di Kuala Lumpur, malamnya, aku menghabiskan waktu dengan duduk-duduk santai bersama Chun Ik dan Falk di Menara KH, sambil lihat pemandangan skyline Kuala Lumpur. Sekitar pukul sembilan malam, Kak Hanna Ester memberitahuku kalau bus terakhir ke KLIA2 adalah pukul sembilan. Dalam hatiku, ya sudah lah, besok pagi ke KLIA2-nya. Tapi aku juga cari-cari jadwal bus shuttle dari KL Sentral ke KLIA2, tahunya masih ada sampai pukul 23.00.

Sehari Bersama Om Korea dan Mas Jerman: Gagal ke Colmar Tropicale!

Sebelum ke Kuala Lumpur, aku tanya-tanya sama beberapa teman, apa yang asyik di Kuala Lumpur. Apalagi ini pertama kalinya untukku. Aku udah gugling dong, tapi kan biasanya ada tempat yang sering nggak kesebut di catatan perjalanan. Setelah tanya-tanya, aku berencana menghabiskan waktuku sehari di Kuala Lumpur dengan pergi ke Colmar Tropicale (resort ala ala French village di Pahang), Petrosains (semacam PP Iptek, well aku suka beginian), dan Menara KH (buat lihat KL 360 derajat dari helipad).

Saat menginap di dorm, aku bertanya pada Chun Ik, si om-om Korea, mengenai Colmar Tropicale dan dia belum pernah mendengarnya. Lalu aku tunjukkan foto di google, dan dia tertarik untuk pergi denganku. Lagipula dia tidak punya agenda. Aku tanya Jin yang orang Malaysia tentang Colmar, dia juga tidak tahu tapi pas aku lihat fotonya, dia tahu. Katanya resort itu sudah lumayan lama, dan dia hanya mengingatnya sebagai 'French village'. Mungkin baru heitz-nya sekarang-sekarang ya. Aku juga menunjukkan foto Colmar pada Falk, si orang Jerman, dan dia berpikir untuk ikut bersamaku.

Aku nggak booking tapi kirim email pada malam harinya dan tidak dibalas. Yaiyalah kan nggak 24 hours mungkin customer service-nya ya. Aku sudah kasih tahu ke Chun Ik dan Falk kalau shuttle nya ada jam 10.00. Kami pun baru berangkat dari hostel jam 9.45, dan naik taksi 15RM (nggak pakai argo) untuk pergi ke Berjaya Times Square. Hanya lima menit sudah sampai. Eh tahunya beli tiketnya di lantai delapan, sempat dihalangi satpam karena baru buka jam 10, trus kita bilang aja mau beli tiket. Buru-buru cari lift dan tanya kios yang buka di mana kios jual tiket Colmar Tropicale.

Huh huh hah hah capek.

Sampai di kiosnya, ternyata fully booked. Kalau jam 13.00? Juga habis. Lemes gua... hahahaha. Salah banget sih nggak reserve sebelum-sebelumnya. Falk bertanya berapa jarak dari Kuala Lumpur ke Colmar Tropicale, masak CS-nya nggak tahu, geleng-geleng sambil senyum mengulum. Kemayu lu Mbak, hahaha. Pas keluar dari kiosnya, Falk ngedumel, gimana sih masak jualan tiket nggak tahu berapa jarak dan lamanya. Itu kan basic banget...