Samsung ATIV Book 9 Lite Is Coming To Town!

Sebagai blogger, aku mungkin nggak tergolong mobile. Ngeblog hanya dari desktop di rumah dan kalau sudah pergi lama, jadilah blog tidak ter-update. Ya bagaimana, wong aku tak pernah bawa notebook. Lebih tepatnya nggak punya. Pengen sih punya notebook... tapi maunya yang nggak berat, #light, langsing alias #slim, trus nyalainnya nggak pake lama #fast, dan keren nan modern. Dan aku barusan liat-liat produk notebook Samsung terbaru di website-nya, belum liat langsung sih, tapi aku sudah naksir. Piye dong...

Namanya Samsung ATIV Book 9 Lite. Bukan notebook biasa lah pokoknya. Notebook touchscreen dengan warna marble white ini desainnya trendy, #beauty, #smart, stylish, dan punya body yang aduhai. Ketebalannya hanya 16,9 mm dan beratnya cuma 1,44 kg. Kurang slim dan light apa coba... Yang jelas kalau dibawa-bawa ke mana-mana, nggak akan mberat-beratin, urusan kerja, belajar, bahkan blogging, jadi lebih mudah pastinya...

Very light~
Slim design... match for any lifestyle. *mupeng*
Yang bikin naksir lagi, adalah kecepatan performanya. Cuma butuh #7secs buat nyalain ATIV Book 9 Lite dan cuma 1 detik kalau mode-nya lagi sleep. Respon cepatnya ini karena adanya 128 Solid-State Drive. Baterainya tahan 8,5 jam. Tertanam Quad Core Processor, membuat notebook ini mudah melakukan multitasking. Membuka beberapa program secara bersamaan nggak bikin jadi lemot.

Udah gitu, touchscreen pula. Dengan 13.3" LED high-definition widescreen, Samsung ATIV Book 9 Lite menawarkan layarnya yang touchscreen untuk navigasi yang lebih gampang! Wiii...
Penampakan Samsung ATIV Book 9 Lite. 

Tampak depan saat dilipat. Tipisnyaaa...

SideSync-nya yang innovATIV and originATIV!
Ada lagi nih keistimewaannya, yaitu fitur Samsung #SideSync. Jadi kalau punya handphone Samsung GALAXY, klop dah tuh sama #ATIVBook9Lite ini, karena kalau mau mindahin data, transfer file, jadi lebih mudah. Nggak perlu kabel juga bisa pakai mouse dan keyboard buat mengendalikan handphone GALAXY-mu. Apalagi kalau blogger, abis moto pake hape, mau mindahin foto buat dipasang di blog, nggak perlu riweuh nyari kabel data atau masukin memory card!

Handphone aku sendiri juga Samsung Galaxy, jadi pengen coba gimana kalau dihubungin ke notebook ATIV ini. Sayangnya, Samsung ATIV Book 9 Lite ini belum launching! Bentar lagi sih... cuma nggak sabar aja...

Launch Promo dan Launch Exhibition, Samsung ATIV Book 9 Lite ini bakal diadakan dalam waktu dekat, dibeberapa kota besar di Indonesia. Nah, buat kamu yang udah nggak sabar mau ikutan berikut aku share jadwalnya :

Launch Exhibition :

1. Jakarta – Senayan City : 31 Aug - 1 Sep 2013
2. Semarang – Mall Paragon : 31 Aug - 1 Sep 2013
3. Bandung – Trans Studio Mall : 6-8 Sep 2013
4. Jogja – Ambarukmo Plaza : 6-8 Sep 2013
5. Surabaya – Ciputra World : 6-8 Sep 2013

Launch Promo :

Jakarta :
Cashback Rp 1,000,000 (from 6,990,000 to 5,990,000)
Cicilan 0% 12 bulan dengan kartu kredit BCA
Gratis External Hard Disk WD 500 GB
Menangkan kesempatan mendapatkan Lucky Dip Samsung Galaxy S4
Dapatkan special kurs USD hanya di event ini
*Promo berlaku hanya untuk 200 pembeli pertama pemegang kartu kredit BCA

Semarang, Bandung, Jogja & Surabaya :
Cashback Rp 500,000 (from 6,990,000 to 6,490,000)
Cicilan 0% 18 bulan dengan kartu kredit Mandiri
Gratis External Hard Disk WD 500 GB
Dapatkan special kurs USD hanya di event ini
*Promo berlaku hanya untuk 100 pembeli pertama

Keterangan lengkap bisa Cek di sini: http://samsung.com/id/ativbook9lite

Selama Launch Promo, kita bisa join digital activity 'creATIVtweet' dan 'creATIVsnap' yang akan berlangsung melalui Twitter @Samsung_ID dengan hashtag #creATIV #originATIV #ATIV9BookLite.

Menarik dan unik banget kan Samsung ATIV Book 9 Lite ini. Tunggu kehadirannya ya!

Cek di sini: http://samsung.com/id/ativbook9lite
Twitter: @Samsung_ID

ASEAN, Penghasil Kopi Terbaik di Dunia

Mamaku itu sangat pengertian, karena setiap aku pergi, ia selalu memberikan uang saku dan nggak pernah minta beliin oleh-oleh. Tiap kutanya mau dioleh-olehin apa, seringnya jawab 'nggak usah'. Tapi waktu aku ke Vietnam, mama berpesan untuk membelikan kopi karena kata mama kopi Vietnam itu uenak tenan... ra ngapusi... (enak banget, nggak bohong).

Aku lebih dulu merasakan Vietnamese tea. Biasanya es teh disajikan sebagai komplemen kalau beli makanan atau minuman lain. Dan itu enak banget, tehnya bening nggak kayak teh Indonesia, dan ada rasa melatinya. Sedap sekali. Padahal ya nggak pakai gula. Nah, waktu jalan-jalan di Ho Chi Minh City, aku dan temanku yang merupakan turis manja nggak kuat panas dan emang lagi panas banget sih, kita mampir ke Highlands Coffee buat neduh.

Kiri, Vietnamese Tea. Kanan, voucher Highlands. *gak nyambung yo ben*
Highlands Coffee ini semacam Starbucks tapi asli Vietnam. Pendirinya gemas melihat Starbucks yang nge-hip banget di dunia dan ia mempunyai ide untuk membuat kafe lokal yang bisa terkenal. Sembari ngadem, aku memesan iced coffee with condensed milk. Anehnya, di sana itu kopi nggak pernah segelas penuh. Es kopiku disajikan dengan kopi hitam dan susu kental manis yang belum diaduk, dan tinggi kopinya nggak sampai 3/4 gelas. Kayak nanggung gitu deh!

Aku bukan pecinta kopi, jarang minum kopi hitam, maksimal minum kopi sachet atau minum Starbak yang kualitas kopinya nggak begitu bagus itu dan itu pun kayak sebulan sekali. Mahal bok, nunggu mamaku nraktir, hehehe. Dan es kopi susu itu, meski aku bukan coffee lovers, aku bisa ngerasain enaknya kopi Vietnam, dan enak bangettt! Beda aja gitu... Dan mamaku bener nggak ngapusi.

Kiri: iced coffee pakai susu kental manis. Kanan: kopi hitam~ nanggung amat kan isinya.
Waktu di Dalat, dengan cuaca belasan derajat, aku yang pakai celana pendek ini kedinginan. *kapok* Memutuskan untuk mlipir ke warung terdekat buat beli kopi hitam panas. Mau diminum langsung kok panas banget, eh baru nunggu tiga menit udah dingin aja tercampur dengan udara dinginnya Dalat. Dan kopi yang aku beli itu kayak cuma 1/4 gelas deh... dan rasanya emang enak sih. Setelah aku tanya temanku Nguyen, kenapa di Vietnam kalau beli kopi nggak pernah penuh segelas. Katanya, karena kopinya strong banget, jadi memang disajikan nggak banyak, nggak baik nantinya kalau segelas penuh.

Pake celana pendek kedinginan, beb...
Dan Vietnamese cà phê (kopi) emang enak... dan bisa dijadikan oleh-oleh kalau dari sana. Rupanya, Vietnam ini merupakan penghasil kopi nomor dua di dunia setelah Brazil, pantas saja di mana-mana jual kopi dan pemandangan dari Ho Chi Minh City ke Dalat ialah kebun kopi.

Di ASEAN, selain Vietnam ada juga negara penghasil kopi tingkat dunia, yaitu negara kita sendiri: Indonesia! Dari segi kuantitas produksi, Indonesia menjadi negara peringkat ketiga, tak jauh dari Kolombia. Namun dari segi ekspor, Indonesia merupakan negara peringkat keempat setelah Kolombia. Ini disebabkan karena pasar domestik Indonesia sendiri juga besar.

Industri kopi menjadi hal yang menarik untuk dibahas karena kopi ialah salah satu produk pertanian yang nilainya tinggi, konsumsinya meningkat dari tahun ke tahun, dan minum kopi sepertinya sudah menjadi gaya hidup warga dunia.

Industri Kopi di Indonesia


Menurut Bustanul Arifin, profesor Ekonomi Pertanian UNILA, produktivitas industri kopi di Indonesia tergolong rendah, bahkan jauh lebih rendah daripada Brazil dan Vietnam. Teknologi rendah dan riset yang kurang menyebabkan panen kopi per hektar di Indonesia cenderung lebih rendah. Sedangkan di Brazil dan Vietnam, praktik penanamannya sangat intensif. Di sini, per hektar menghasilkan 600-700 kg kopi sementara di Vietnam bisa mencapai 2000 kg. Dari segi kuantitas produksi secara nasional, kita pun sekitar separuhnya Vietnam.

Tapi Indonesia punya sesuatu dari kopi yang bisa 'dijual' lagi. Yaitu keunikannya. Kita tahu kita punya Kopi Luwak yang terkenal sedunia itu. Selain itu kita punya kopi Toraja, kopi Mandheling, kopi Timor, kopi Jawa, dan kopi-kopi daerah lain yang memiliki keunikan rasanya masing-masing. Dari kuantitas produksi, mungkin akan susah untuk mengalahkan Brazil, namun dari sisi kualitas dan uniqueness kita punya kekuatan. Industri kopi di Indonesia pun sekarang mengarah kepada keberagaman jenis kopi.

Toraja, salah satu penghasil kopi terenak di Indonesia.
What should we do?

Kerjasama antara Indonesia dan Vietnam sebagai penghasil kopi bukan tidak mungkin. Namun kita harus banyak belajar dulu dari pertanian kopi di Vietnam. Pernah dilakukan studi banding ke Vietnam oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), yang membedakan pertanian kopi di Indonesia dan di Vietnam adalah etos kerjanya. Mereka dengan luar biasa meriset mencari varietas yang unggul. Meski satu jenis kopi tidak cocok ditanam di ketinggian tertentu, mereka akan mencari generasi kesekian yang berhasil tumbuh di tempat tersebut dan kemudian dikembangkan.

Selanjutnya kita harus bikin brand lokal yang siap mendunia. Ini salah satu cara memanfaatkan konsumsi kopi sebagai gaya hidup masa kini. Vietnam bisa membuat 'Highlands Coffee'-nya sebagai kafe yang populer di sana, kita pun juga harus punya.

Kerjasama dalam bidang industri kopi antara Indonesia dan Vietnam, pertama, bisa diwujudkan dengan Vietnam menjadi salah satu tujuan ekspor specialty coffee Indonesia. Jumlah produksi Indonesia dan Vietnam masih di bawah jumlah produksi Brazil. Namun Indonesia dan Vietnam bisa maju di pasar dunia dengan menjual kualitas dan specialty coffee-nya. Lalu, sekarang kan ada US Mission to ASEAN, Japan Mission to ASEAN, dan mungkin mendatang ada ASEAN Mission to mana-mana gitu, dan Indonesia dan Vietnam bisa membentuk partnership untuk memperkenalkan ASEAN sebagai penghasil kopi terbaik di dunia. ^^

Referensi:
Foto koleksi pribadi.
barifin.files.wordpress.com/2012/12/2011-arifin-indonesian-coffee-economy.pdf
http://foragri.blogsome.com/kopi-indonesia-dan-serbuan-coca-cola/

Pembebasan Visa Myanmar untuk Paspor Indonesia. Kapan?!

Sewaktu aku main ke Kamboja, aku melewati perbatasan darat. Jadi dari daerah perbatasan di Thailand yang bernama Aranyaprathet, keluar imigrasi, lalu jalan sebentar, dan tibalah di Poipet, daerah perbatasan di Kamboja. Sebelum sampai di loket imigrasi masuk, ada bangunan kantor imigrasi Kamboja, di mana Visa On Arrival bisa didapatkan. Perjanjian bebas visa Indonesia-Kamboja tergolong baru, sejak 2010. Makanya, ada cerita beberapa orang Indonesia tertipu di Poipet untuk membayar VOA.

Kartu imigrasi Kamboja.
Aku melihat banyak bule masuk ke bangunan itu. Aku pun sama temanku, kasian sama bule-bule karena kudu beli VOA dengan tarif 20USD. Ngapain ya kasian, wong emang aturannya. Asyiknya punya paspor Indonesia, pergi ke negara ASEAN lain, nggak perlu pakai visa untuk durasi maksimal 14 hari-1 bulan. Kecuali di Myanmar karena paspor dari negara manapun menjadi 'sederajat'! No visa exemption for any tourist! (Kecuali Laos, ada perjanjian visa-exemption sejak 2006.)

Meski begitu, tetap kepengen sih ke Myanmar...

Pemerintah Myanmar sempat membuka keran Visa On Arrival bagi turis di dua international check point-nya, di Bandara Internasional Yangon dan Mandalay. Namun beberapa waktu kemudian, VOA ditutup untuk turis dan ada hanya khusus business purpose. Info mengenai adanya VOA ini simpang siur dan bahkan laman web resminya nggak bisa diakses. Ada juga pre-arranged VOA yang mana itu juga nggak terjamin. Jadi ya musti apply ke Kedutaan Besar Myanmar untuk mendapatkan visa Myanmar.

Selain itu, hampir semua penerbangan menuju Yangon tidak akan memasukkan penumpang (non-Myanmar) yang nggak punya visa di paspornya. Bagus sih, jadi sampai sana nggak kecele karena nggak punya visa.

Bendera Myanmar.

Kalau urusan ada atau tidaknya visa exemption, VOA, durasi visa, itu kan otoritas dan peraturan dari negara yang bersangkutan. Namun, untuk negara Myanmar, alasan mengapa semua turis dari paspor apapun dikenakan visa, ada hubungannya dengan situasi pemerintahannya.

Burma (nama dahulu Myanmar) meraih kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1948 dan berbentuk republik. Namun pada tahun 1988, terjadi kudeta oleh pemerintahan junta militer. Karenanya, terjadi demonstrasi dan gejolak di seantero Burma. Pada tahun 1989, junta militer mengganti nama Burma menjadi Myanmar. Oleh beberapa negara yang tidak mengakui kekuasaan militer di Myanmar, tetap menyebut negara itu Burma, apalagi Amerika Serikat dan negara-negara commonwealth. Kalau di Indonesia sih, lebih terkenal dengan Myanmar.

Aung San Suu Kyi di kover TIME. Kanan: Mandalay Palace, foto milik globosapiens.net
Sering dengar Aung San Suu Kyi? Ia merupakan politisi Myanmar pro-demokrasi yang pernah menang pemilu pada tahun 1990, namun kemenangannya tak diakui oleh rezim militer. Nah, oleh junta militer, ibukota dipindahkan dari Yangon ke Nay Pyi Taw serta diubah pula bendera dan lagu kebangsaannya. Di Myanmar sendiri banyak sekali insiden yang terjadi, pelanggaran HAM seperti penyerangan etnis minoritas, buruh anak, anak-anak dijadikan tentara, human trafficking, insiden Rohingya, banyak banget.

Dengan kekuasaan militer seperti itu, pemerintah Myanmar tidak melarang orang luar masuk ke negaranya, namun mereka perlu melakukan pengecekan lebih mengenai siapa-siapa saja yang masuk ke negaranya, melalui implementasi permohonan visa. Sempet denger cerita (atau baca blog ya, lupa) pernah ada yang apply visa Myanmar, ditanya pekerjaannya, dan ia jawab wartawan ditolak aplikasinya. Padahal ia mau wisata aja ke Myanmar. Hmmm...

Dalam artikel yang ada di situs web Jakarta Post, diberitakan bahwa Juni mendatang kementerian luar negeri Myanmar akan menandatangani perjanjian visa exemption untuk paspor biasa Indonesia, Kamboja, dan Filipina. Horeee! Dan lagian, menurut laman ini, Indonesia bahkan kasih visa-free kepada pemegang paspor Myanmar lho. Masak sana nggak kasih, fufufu...

Crop dari: http://www.myanmar-tourism.com/

Perlu atau tidak visa bagi perjalanan wisata?


Perlu bagi negara tujuan untuk memeriksa lengkap identitas siapa-siapa yang masuk, kan untuk keamanan negara juga. Tapi kalau dari sisi turis, perlu nggak ya? Kalau bisa, nggak usah ada visa-visaan lah ya! Hihihi...

Sebagai warga di negara tetangga dan satu region dengan Myanmar, aku berharap konflik yang terjadi di sana, segera mereda dan cepat damainya. Selain itu... ya tadi itu, semoga cepat visa exemption bagi paspor Indonesia diberlakukan. Supaya orang dari negara-negara ASEAN lain bisa mengeksplor Myanmar tanpa menambah ongkos 30USD buat bayar visanya!

Slogan Pariwisata untuk Indonesia

Taiwan lagi gencar-gencarnya promosi pariwisata. Branding pariwisata yang diusungnya adalah 'Taiwan, The Heart of Asia'. Iklan pariwisata Taiwan sepertinya ditempel di mana-mana di stasiun MRT Singapura. Mungkin cuma iklan dua dimensi tapi bisa membuat aku dan sepupuku berencana untuk cepat-cepat liburan ke Taiwan. Meskipun kami waktu membaca slogannya seperti, "He? The Heart of Asia? Ngaku-ngaku..." Tapi emang sih letak dia di tengah, ahahaha... Anyway, waktu itu aku jadi mikir slogannya Pariwisata Indonesia apaan ya...

Kalau ini slogannya Singapore. Aku lebih prefer slogan sebelumnya, Uniquely Singapore. *ditabok Singapore Tourism Board*
Aku baru tahu kalau slogan pariwisata Indonesia adalah 'Wonderful Indonesia' dan itu sudah sejak 2011. Entah aku yang kurang update atau gimana, sering melihat logo Wonderful Indonesia tapi seperti nggak aware aja kalau itu brand pariwisata kita. Jujur aja, slogan Visit Indonesia 2008-2010 lebih mengena lho! Tapi itu kan so long ago~ ini 2013, men!

Wonderful Indonesia.
Sementara itu negara tetangga kita, Malaysia punya brand Malaysia Truly Asia. Kampanye pariwisata ini menawarkan multikulturalisme yang ada di Malaysia. Ras-ras yang 'membangun' Malaysia, ada Melayu, orang Asal, Tamil, dan Chinese. Multietnisnya ini memperkaya Malaysia menjadi surga budaya dan surga kuliner. Selain itu, juga ditawarkan pemandangan alam, taman nasional, gunung, dan pantai yang indah, wisata artifisial seperti taman bertema, dan wisata belanja. Iklan-iklan yang dibuat Malaysia pun yahud-yahud, sampai-sampai kampanye pariwisata ini bisa membantu ekonomi Malaysia dari krisis global 2008 lalu.



Padahal kalau dipikir, kita lebih multikultural dan punya lebih banyak 'surga' dari pariwisata Malaysia ya, kenapa kita nggak bisa?

Yang paling utama adalah promosi dan brand tentunya sangat penting. Bagaimana brand membuat awareness kepada orang-orang. Misalnya saja, kita ditanya, merek odol apa yang paling terkenal, atau merek sabun cuci, seringnya kita aware pada satu brand. Sama seperti, kalau kita ingat Truly Asia, kita ingatnya Malaysia. Ingat Kingdom of Wonders, kita ingat Kamboja. Indonesia saja punya dua kota yang brand pariwisatanya lebih mengena daripada negaranya, yakni Surabaya dengan Sparkling Surabaya-nya dan Jogja dengan Never Ending Asia-nya.

The wonder of Cambodia.
Di dalam brand pariwisata, harus tersampaikan apa kekuatan pariwisata Indonesia. Setelah aku tanya-tanya, kata kunci untuk brand pariwisata Indonesia adalah: culture, paradise, dan archipelago. Karena memang uniknya Indonesia di situ, kita merupakan negara kepulauan yang pulaunya paling banyak, dan punya pulau-pulau yang katanya seperti surga, dan kita sangat multikultural!

Kepikiran membuat tagline: Indonesia, The Archipelago of Wonders. Tapi kok mirip sama Kamboja ada 'of Wonder-of Wonder'-nya.

Tapi akhirnya aku pilih tagline ini: Indonesia, Paradise of Asia.
Mungkin sudah banyak orang yang terpikir dengan tagline ini sebelumnya, tapi menurutku ini mengena karena kita memang punya banyak 'surga'. Dan tagline tak hanya kalimat, namun perlu bukti:

Sumur Gemuling, Jogjakarta.
Ujung Gelam, Karimun Jawa.
Candi Plaosan, Jogjakarta.

Parapat, Danau Toba~ 
Indonesia indah bukan?
Kita harus berbagi terus tentang keindahan Indonesia, supaya dunia tahu kalau Indonesia itu memang benar-benar wonderful dan paradise!

Foto: koleksi pribadi.

Migrasi dan ASEAN yang Serumpun

Migrasi atau mobilitas merupakan aktivitas yang secara natural dilakukan oleh manusia. Manusia berpindah tempat untuk mencari kehidupan yang lebih baik, bekerja, berdagang, belajar, apapun.

Sama halnya dengan Raja Jayavarman II yang berpindah dari Jawa ke Kamboja. Ada yang menyebutkan ia adalah orang Jawa, namun yang lain mengatakan ia adalah orang Khmer yang belajar dari Dinasti Syailendra di Jawa. Pada saat itu, Khmer sempat diduduki oleh Jawa juga. Jayavarman II inilah yang pada abad ke-9 Masehi membangun Kerajaan Khmer, mendeklarasikan kemerdekaannya dari Jawa, dan mendirikan ibukotanya yang disebut dengan Angkor.

Siluet Angkor Wat.
Penerus Jayavarman II pada abad 12, Suryavarman II mendirikan Angkor Wat yang kini menjadi bangunan paling populer di antara bangunan lain di Angkor. Wat berarti kuil dan Angkor berarti kota. Pada zamannya, Angkor Wat merupakan tempat pemujaan bercorak Hindu. Namun setelah abad 15, berubah haluan menjadi vihara Buddha.

Kalau lihat Angkor Wat lalu dibandingkan sama Borobudur sih kataku nggak begitu mirip, namun ditemukan banyak kemiripan relief. Selain itu, keduanya punya gaya arsitektural yang mirip. Gaya yang dimaksud bukan hanya tampilan fisik, melainkan juga perhitungan numerik dalam hal kosmologi dan astronomi. Misalnya saja, ketika Borobudur dibagi menjadi tiga bagian kaki, badan, dan kepala, perbandingan tingginya adalah 4:6:9, ternyata Angkor Wat juga memiliki pola seperti itu. Tak hanya kedua candi itu, tapi juga Candi Pawon, Sewu, dan Mendut.

Rasio head body dan foot Candi Borobudur. Source: here.
Menurut cerita, arsitek Borobudur dan Angkor Wat itu sama, yaitu bernama Gunadarma. Sementara itu, yang dikenal mendirikan Candi Borobudur, Pawon, Sewu, Mendut, dan beberapa candi Buddha lain di Jawa adalah Rakai Panangkaran, salah satu raja dari Dinasti Syailendra. Diduga yang dimaksud Gunadarma adalah Rakai Panangkaran, dan karena arsiteknya sama, membuat Borobudur dan Angkor Wat mirip. Entah juga, wong Angkor Wat baru didirikan tiga abad setelah Borobudur. Para sejarawan masih meragukan, apakah benar arsitektur Angkor Wat adalah khas Khmer dengan segala perhitungannya ataukah ada pengaruhnya dari orang Jawa yang tinggal di kerajaan.

Salah satu sisi Angkor Wat.
Kemungkinannya ada dua. Jika benar yang mendesain adalah Rakai Panangkaran dari Jawa, kemiripan Angkor Wat dan Borobudur nggak ada hubungannya sama apakah orang kita sama orang Kamboja serumpun. Karena arsitekturalnya yang sama, itu menunjukkan transfer pengaruh budaya yang terjadi akibat adanya migrasi manusia. Tapi andai arsitektur Angkor Wat adalah asli Khmer, berarti kemiripan keduanya menunjukkan keserumpunan kita.

Kanan, Patung Buddha di dalam Angkor Wat.

Tapi 'kan memang dasarnya kita serumpun?


Dilihat dari alfabet Khmer, aksara Jawa, aksara Sunda, huruf Thai, huruf Lao, huruf Lontara, berasal dari rumpun yang sama yaitu dari huruf Pallava dan Brahmi dari India. Aksara-aksara ini tersebar melalui perdagangan yang dilakukan oleh pedagang dari India dan Sri Lanka. Itu baru huruf, belum lagi bahasa, dan asal sejarah manusia yang sama. Beberapa kata dalam Bahasa Tagalog ada yang sama dengan Bahasa Indonesia, misalnya: langit, mahal, dan sabun. Belum lagi, kadang kita susah membedakan muka orang Thailand, Kamboja, Malaysia, Filipina, dengan muka orang Indonesia.

Di antara bendera-bendera negara ASEAN. Dan ada bendera Jepang ding di belakang.
Sahabat serumpun yang paling dekat dan paling punya banyak masalah sama Indonesia adalah Malaysia. Katanya, batik dan rendang diklaim oleh Malaysia. Saat kuliah kuliner di acara ASEAN Blogger Festival di Solo kemarin disebutkan, bahwa yang masih berdebat tentang rendang itu milik siapa adalah anak kecil. 

Pernah kutulis, bahwa masalah budaya tidak bisa dilihat dari batas negara. Banyak orang Minang dan Jawa yang migrasi ke Malaysia dan membuat rendang dan batik. Kalau Malaysia bilang ia punya rendang dan batik, ya nggak masalah 'kan, wong namanya akulturasi budaya... Lagian rendang dan batiknya pasti berbeda 'kan? Di Indonesia sendiri saja ada ratusan jenis rendang dan batik ^^


Ingat sekali saat temanku dari Brunei, Aya, pada suatu hari memakai baju kurung, baju nasional negaranya. Ia bertanya kepadaku, "Di Indonesia juga punya 'kan baju kurung?" Aku menjawab, bahwa kami juga punya di Kalimantan. Ya udah aja, kita tahu kita serumpun, sehingga tak akan debat siapa dulu yang punya baju kurung.

Kesimpulan


Kesamaan rumpun dan nenek moyang yang dimiliki negara ASEAN, diibaratkan kita 10 negara adalah 'saudara'. Di sisi aspek Socio-Cultural Community, kerjasama budaya antar negara ASEAN bisa dilakukan mempromosikan warisan budaya kawasan dengan cara memelihara dan memperkenalkan, dan melestarikan. Hubungan 'bersaudara' antar negara ASEAN harus dijaga supaya tercipta kerjasama dan hidup dalam perdamaian dan kemakmuran, sesuai dengan visi ASEAN 2020.

Referensi:
❤ From Jayavarman II to Suryavarman I - Website of National Palace Museum, Taiwan.
❤ In Pursuit of Sacred Science, Part 1 - borobudur.tv

Ketika Bisnis Salon Terancam

Ketidakmampuan sebuah negara memproduksi suatu jenis barang dengan efisien membuat negara itu mengharuskan mengimpor dari negara lain. Seperti misalnya, kita mengimpor payung, peniti, dan barang elektronik dari Cina. Harganya akan lebih murah jika kita impor ketimbang kita produksi. Kasus lain, rata-rata ongkos potong rambut di New York ialah USD50 sedangkan di sini Rp 15.000 saja sudah bisa. Tapi New York nggak impor tukang cukur rambut dari Indonesia 'kan? Karena standar upah dan 'harga' jasa manusia di NY memang dasarnya tinggi.

Sekarang case-nya adalah: Bagaimana jika di dekat rumah kita banyak salon Thailand yang bersertifikasi internasional? Yang bisa dibilang, juga kompetitif diantara pesaingnya?


Adanya ASEAN Community 2015 menuntun ke arah perdagangan yang lebih bebas. Thailand, negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah ini, sama halnya dengan kebanyakan negara ASEAN lain, merupakan negara yang berkembang. Rata-rata upah tak jauh dengan di Indonesia dan ongkos potong rambutnya pun hampir sama! Di pelosok masih ditemukan potong rambut dengan tarif 10THB (Rp 3.000) tapi di salon di kota yang lumayan bisa sekitar 300THB (Rp 90.000).

Hampir sama 'kan sama di sini?

Maka dari itu, andai banyak salon Thailand yang masuk ke sini, mereka akan bisa memasang harga yang kompetitif untuk konsumen Indonesia. Belum lagi Thailand terkenal dengan Thai Massage-nya itu. Ancaman dong ya, untuk salon lokal?

Kalau dari sisi konsumen salon, kecenderungan memilih salon utamanya karena kualitasnya, baru kedua harganya. Urusan orang dari negara mana yang punya (nasionalisme) boro-boro deh mikirin, mungkin jadi nomor kesekian. Untuk produk lain saja, kita suka terkecoh dikira merek nasional ternyata merek asing, atau kebalikannya.


Mungkin jumlah konsumen salon lokal akan berkurang dengan banyaknya salon Thailand yang masuk. Akan terjadi segmentasi di mana jenis customer berbeda untuk dua jenis salon ini. Berkurangnya konsumen bukan hal yang mematikan karena pada dasarnya dunia bisnis selalu berkembang, salon yang ada di negara kita secara natural akan tumbuh jumlahnya.

Ancaman untuk salon lokal ini harus dijadikan tantangan bagi mereka untuk terus inovasi service, kreatif dalam promo, guna meningkatkan kualitas. Dan mau nggak mau, salon lokal harus berusaha untuk lebih baik minimum sejajar dengan salon Thailand yang bersertifikasi internasional tadi.

Dan lagian, kenapa harus takut?
  1. Banyak sekali jaringan salon lokal yang populer, Rudy Hadisuwarno, IrwanTeam, Moz5, Martha Tilaar, dan lain-lain.
  2. Tumbuhnya salon-salon lokal yang seiring waktu terus berkembang.
  3. Di Jakarta, sudah banyak salon franchise dari Inggris dan US yang memasang harga tinggi, mereka punya segmen customer sendiri, dan kita nggak kenapa-kenapa tuh.
ASEAN Community 2015 harusnya dijadikan peluang, bukan ancaman. Aku berharapnya sih, kalaupun banyak salon dari negara ASEAN lain masuk ke Indonesia, salon merek lokal berarti punya peluang untuk masuk ke pasar negara ASEAN lain juga 'kan? ^^

Mana Cerita Nekad-Traveling-mu?

Lagi ada kompetisi blog temanya 'hal ternekat yang pernah dilakukan saat traveling'. Pengen ikutan tapi setelah kuingat-ingat kok rasanya nggak pernah melakukan hal nekat ya.

Pernah tidur di mesjid jelek depan stasiun yang katanya banyak copet tidur juga di sana, pernah masuk diskotek saat umurku masih belasan tahun, lompat dari ketinggian 12 meter ke sungai yang sebelumnya nggak pernah kulakukan, tidur di malam hari nggak sampai 20 meter dari Ka'bah, apa ya... itu sih nggak termasuk nekat. Kayaknya nggak pernah yang ekstrim-ekstrim amat deh.

Aku pun tanya ke beberapa teman, hal apa yang paling nekat yang pernah ia lakukan pas jalan-jalan. Temanku, Brigitta, pernah jalan-jalan ke Bali sendirian. Entah kenapa pas di sana, dia nggak punya uang, nggak bawa ATM, dan kehausan. Akhirnya dia minum air keran. Tapi tentu saja dia pengen minum air yang betulan sudah dimasak. Lalu ia memberanikan diri minta minum dan minta makan.


Ada juga temanku pas masih mahasiswa, samsek nggak punya duit, eh diajakin temannya jalan ke Bromo. Dari sewa mobil, beli bensin, makan, ya ngutang dulu sama temannya. Dan ngebalikin uangnya lama, nunggu ada sisa uang sakunya.

Kalau yang pernah liat langsung kayaknya pas pergi ama bapakku liat sunrise, trus demi foto siluet berpose anjali (menangkupkan tangan) macam kover buku spiritual-spritual gitu, bapakku buka baju atasannya, yang mana itu sebelum subuh masih dingin. Jadilah dia diliatin orang banyak yang lagi berburu sunrise juga. Eh? Ini sih bukan nekat tapi hal yang paling malu-maluin ya, hahahaha!

Kalau temen-temen? Pasti punya banyak kan cerita nekat saat traveling? Kalau iya, ikutan lomba Telkomflash-Nekad Traveler dong. Udah pada tahu belum Nekad Traveler itu apa?


Nah, Nekad Traveler ini merupakan program dari Telkomsel yang memberi tantangan kepada pelanggan Telkomsel terpilih untuk melakukan perjalanan ke suatu tempat tanpa uang sepeserpun, namun hanya bermodalkan smartphone dan kuota data sebesar 180 GB.

Ada dua orang si #NekadTraveler-nya ini, ada Abdul Gofar, seorang penyiar dari radio ternama, blogger dan selebriti twitter, dan Nila Tanzil, seorang traveler, scuba diver, blogger dan founder Taman Bacaan Pelangi dan peraih "The Kartini Next Generation 2013.



Pada tanggal 30 Juni-30 Juli 2013, dua Nekad Traveler ini melakukan perjalanan dari Jakarta ke Pulau Komodo, NTT. Mereka cuma modal smartphone dan kuota data sebesar 180 GB. Mereka nggak boleh tuh bawa uang, ATM, dan kartu kredit. Cara bertahannya ya hanya mengandalkan paket data TelkomFlash.

Tujuan program ini adalah membuktikan kalau jaringan 3G Telkomsel lebih cepat dan menjangkau hingga pelosok Tanah Air. Selain itu, juga ingin menanamkan bahwa hubungan sosial lebih penting daripada materi/uang.

Balik tentang kompetisi blognya, cara ikutan dan ketentuannya gini nih:
  1. Buat cerita mengenai: hal ternekat yang pernah kamu lakukan pada saat traveling.
  2. Daftarkan link tulisan blog kamu pada web Nekad Traveler http://internet.telkomsel.com/nekadtraveler/blog dan diharapkan link tulisan tersebut bisa di-share ke socmed (twitter), jangan lupa untuk mention @telkomselflash dan menggunakan hastag #NekadTraveler
  3. Kamu bisa ikutsertakan ceritamu lebih dari 1 (satu) artikel blog.
  4. Lengkapnya bisa dilihat di: http://internet.telkomsel.com/nekadtraveler/terms/blog
  5. Bakal ada tiga pemenang yang bisa dapetin hadiah iPhone5, S4 dan Galaxy Camera
Gampang 'kan? Ayo pada ikutan!
Aku tak inget-inget dulu ah hal paling nekat apa yang pernah kulakukan...

Norak Level Dewi

Siapa yang nggak suka, jalan-jalan trus nginepnya di hotel berbintang yang bagus dan nyaman? Aku sih suka... apalagi kalau dibayari, dasar mental, hahaha. 

Beberapa kali jalan sama temanku Bellita atau sama sepupuku Affi, seringnya menginap di backpacker hostel dorms, rumah penduduk yang dijadikan guest house, atau wisma jelek-jelek gitu. Ya senangnya adalah murah, bisa ngobrol sama turis lain, dan kadang bisa cerita-cerita sama pemilik guest house. Tapi andai nggak mahal sih, aku lebih suka menginap di hotel bintang lima, hahaha nggak mahal mbahmu...

Tiga bulan lalu pas Jenesys, di Nagoya kita menginap di hotel Castle Plaza. Aku senang sekali karena hotelnya bersih, bagus, luks, dan nyaman banget. Gratis pula. Rasanya sudah lama sekali nggak menginap di hotel bagus... tapi belum lama ini aku menginap di hotel bintang lima, yang baru masuk aja udah pengen mangap saking terkesimanya, belum lagi pas masuk kamarnya, duh norak level dewi sumpah deh eike...

Marina Mandarin dari lantai 20.
Liburan ini, aku pergi ke Singapura selama empat hari tiga malam. Malam pertama, aku menginap di Marina Mandarin. Dan malam berikutnya, pindah level di 8-bed dorms di sebuah hostel di Chinatown. Nah, Marina Mandarin ini yang bikin aku tercengang. 

Saat itu, kata si resepsionis hotel benar-benar okupansinya tinggi. Katanya susah mencari dua kamar kosong yang berdekatan. Baru kali ini di reception saja hampir 20 menit. Akhirnya, kami beruntung sekali karena kamarnya di-upgrade dan berada di lantai 20 yang mana itu khusus anggota Meritus Club, kayaknya business travelers gitu deh. Meski di-upgrade, fasilitas khusus untuk anggota itu nggak kita dapatkan, hanya kamarnya saja, nggak apa lah yauuu...

Terlihat Esplanade dari balkon kamar. Maaf di-blur, aku maluuuu... hahaha.
Marina Mandarin ini letaknya di seberang Esplanade, nggak jauh juga dari Marina Bay Sands. Aku masuk ke hotel itu melalui Mall Marina Square, dan seketika buka pintunya. Uwooo... dari atrium kita bisa lihat berlantai-lantai hotel itu. Dasar orang norak ya, pertanyaanku adalah, kenapa tengahnya dibiarkan kosong sampai atas, kenapa nggak dijadiin kamar saja. Kata ibuku, ya nggak lah, nanti nggak ada jendelanya, lagian kalau dia mau buat begitu, pasti hotelnya tipis, alias nggak lebar gitu. Yang area tengah itu namanya service area. Ooo gitu toh...

Ada guling segalaaa... >,<
Mini barnya.
Aku sekamar sama sepupuku Affi. Kamar kita bernomor 2010. Pas masuk kamarnya, difoto dulu sebelum diberantakin. Betul deh, kamarnya bikin nggak mau keluar kamar. Sayaaannnggg... Dan isinya lengkap bo'. Di lemari, ada sandal, senter, meja setrika, dan setrikanya. Di kamar mandi, sabun sampo body lotionnya merek L'Occitane yang mana menggugah untuk dibawa pulang, hahaha. Kesetnya keset bulu-bulu, dan handuk badannya kita hitung ada empat, dan saudaraku ngira itu keset, dijadiin keset dah. Handuk kecilnya di dekat wastafel ada empat, belum yang digantungin ada dua. Hair-dryer, kaca khusus wajah yang bisa perbesar berapa kali tuh, komplit. Trus ada bantal juga di bawah wastafel, nggak tahu fungsinya apaan. >,<


Ada welcome snack, nggak tahu namanya, kue Cina yang isi nanas kayak nastar tapi bentuknya kotak. Ada coffee machine, teh, teko pemanas. Kasurnya pun enaaaakkk... Nah ini poin-poin yang bikin aku terkagum-kagum. Ya maklum aja ya, baru liat ginian pertama kali, wehehehe.

Welcome cookies.
Yang merah itu kapsulnya. ^^

1. The Coffee Machine

Mesin pembuat kopi ini menggunakan kopi yang sudah dalam bentuk kapsul. Udah gitu, jenis kopinya macem-macem. Ada espresso, ristretto, lungo forte, lungo finezzo, capriccio, masih banyak yang lain, batinku, "Opoooo kuwi jal?" Untung di gambarnya ada gambar level kopinya, yang paling rendah dan yang paling tinggi kekuatannya kali ye.


Ada cara penggunaan mesinnya. Kita ikutin pelan-pelan. Tapi di langkah, menutup mesin yang didalamnya sudah ada kapsulnya kok susah sekali. Mau maksain nutup nanti rusak mesinnya, mampus aja berapa duit dah tuh. Beberapa kali coba, jadinya kok keluar air putih doang, hahaha. Kapsul kopinya belum kebuka sama sekali, karena kurang sadis nutupnya. Sampai aku ke kamar ibuku buat nanya caranya, ternyata di kamar ibu mesinnya beda. >,< Akhirnya, pas agak dipaksa nutupnya, jadi deh kopinyaaa. Kapsulnya jadi bolong-bolong gitu. Tapi nggak enak kopinya, wuek!

2. The Shower

Kayaknya hal ini yang paling bikin girang aku dan Affi. Shower yang ada di kamar yang kita tempati, nggak cuma keluar air dari atas kepala saja, melainkan ada enam titik di depan badan kita yang bisa spray air juga. Jadinya kayak dipijat gitu... enak... Minusnya sih, kalau menyalakan mau pilih air keluar dari mana harus milih. Kalau mau dari atas ya atas aja, kalau mau enam titik itu yang menyemprot air ke arah kita, air dari atas gak nyala. Atau aku aja yang nggak paham nyalainnya, hahaha...

Nggak moto showernya. T.T
3. Rapi Kembali!

Di hari itu, kita meninggalkan hotel dari sekitar pukul enam sore dan pulang jam 11 malam. Sampai kamar, amazed kamarnya sudah berubah rapi lagi. Handuk yang dijadiin keset sudah nggak ada, sampo sabun ditambah lagi yang baru, selimut yang udah berantakan jadi rapi lagi. Ya kalau aku keluarnya siang, trus sore balik, pasti kan emang jadwal housekeeping tuh. Tapi kan ini malem-malem, dan bahkan belum tidur di situ, udah diberesin kamarnya... Uwooo... Aku kira aku salah pencet tombol khusus manggil housekeeping, ternyata kamar ibuku juga dibersihin, dan kata ibuku, ya memang gitu kalik! Nggak ngerti deh... hihihi.

Memang banyak hotel lain yang lebih canggih, tapi segini aja aku sudah terkagum-kagum. Bagaimana yang lebih canggih lagi? Yah nggak tahu deh. Yang jelas Marina Mandarin menjadi salah satu hotel favorit dan semoga bisa mencicipi hotel-hotel keren di dunia ini... Amiinnn ^^

Sumo-Japanese Food Introduction


Aku dan temanku Aji, memasuki ASEAN Hall, ASEAN Secretariat dan di dalam sudah penuh dengan para tamu dan undangan. Semua berbaju atau berbatik formal, kecuali kami berdoa. Jins dan kaos. Aku sih nggak malu sama sekali, cuma kok agak wagu aja gitu aku kaos oblongan, sementara yang lain, cakep-cakep, hahaha... Ben. Aku pun tanya sama temanku, "Kalau gue kaos oblongan, jins, muka dekil gini bisa jadi diplomat nggak?" Jawabnya dia, "Gak ada hubungannya kalik, Bob Sadino aja kaya banget tapi pake celana koloran muluk." Jawabannya nggak nyambung.

Kami telat lima menit dan aku kira bakal telat karena kan kalau hubungannya sama Jepang biasanya on-time. Tapi ternyata telat sekitar 10 menit, hehehe. Tengok-tengok goodie bag, dapat map transparan ASEAN-Japan Friendship and cooperation, notebook, pulpen, dan usb kartu. Mayannnn... Acaranya dimulai dengan beberapa speech, kemudian Ms. Ito dari apanya-Jepang-nggak-tahu (nggak perhatiin, hahaha) menjelaskan secara singkat mengenai olahraga sumo.

Presentasi singkat tentang sumo.
Siapa yang nggak tahu Sumo? Olahraga yang dilakukan dua orang Jepang berbadan besar dan cuma pakai celana dalam besar, hihihi. Nah, presentasi Ms. Ito membuat para tamu dan undangan lebih mengenal tentang olahraga satu ini. Sumo memiliki kanji 相撲  yang berarti 'memukul satu sama lain'. Atlet sumo disebut dengan rikishi. Jumlah rikishi sampai dengan bulan Juni 2013 adalah 626 orang dan nggak cuma orang Jepang juga loh. Nah, berikut ini poin-poin fakta dan sejarah mengenai sumo:
  1. Tercatat sudah ada sejak tahun 712 Masehi.
  2. Pada abad 8-12 Masehi merupakan acara tahunan untuk permohonan panen yang bagus.
  3. Selain itu digunakan untuk menghormati dan menghibur Kami, dewa Shinto.
  4. Digunakan untuk melatih para Samurai warriors.
  5. Untuk menggalang dana untuk bangunan dan renovasi kuil Shinto. Dulunya, sumo dilakukan di halaman shrine (kuil Shinto) atau temple (kuil Buddha).
  6. Menjadi olahraga profesional sejak abad 17 Masehi.
Kata temanku cuteee...
Dalam pelaksanaannya, sumo ini punya beberapa peraturan, yaitu:
  1. Harus tetap berada di dalam ring (dohyo).
  2. Tidak boleh terkena permukaan ring/dohyo, kecuali telapak kaki.
  3. Tidak ada pembagian kelompok berdasarkan umur, berat, tinggi. Dan yang paling berat dan besar belum tentu jadi pemenangnya.
  4. Ada 82 teknik dalam olahraga sumo.
Coba aku duduk di kursi ambassador-ambassador depan ituuuu... Kan bisa keliatan jelasss...
Yang menarik lagi ada istilah-istilah yang berkenaan dengan sumo, contohnya:
  1. Crying sumo: Ketika dua pegulat sumo menggendong bayi dan yang bayinya duluan nangis ialah pemenangnya.
  2. One-man sumo: Sumo tanpa lawan manusia, namun lawan roh jahat.
  3. Kinboshi (bintang emas): lawan paling jago, sering menang, high-ranking.
  4. Shinitai: posisi hopeless, hihihi.
  5. Isamiashi (over-eagerness): saking bersemangatnya, rekishi yang melawan malah keluar ring.
  6. Itamiwake (sharing pain): berakhir seri karena semuanya capek atau luka.
Seusai Ms. Ito membawakan perkenalan mengenai sumo, dua rikishi datang masuk ke dalam hall. Sekejap semua tamu dan undangan langsung berdiri semua, penasaran dan jeprat-jepret. Semua ingin tahu demo sumonya langsung. Temanku di sebelah nggak berhenti bilang, "Cuteee Na, lucuuuu..." karena liat sumo wrestler-nya. Aduh.

Pesumo nggedrukkin kaki, auk Bahasa Indonesianya apaan, buat menghilangkan roh jahat.
Rikishi menggunakan mawashi, yaitu sabuk yang juga merupakan celananya yang kalau dipanjangkan bisa sampai 9,1 meter. Gaya rambutnya pun khas, disebut dengan Chonmage, kucir ala era Edo dan samurai. Ada bapak-bapak botak di baris belakangku bercanda bilang, "Aku ingin jadi pesumo, but I don't have hair!" Baju formal rikishi sebelum atau setelah pertandingan ialah montsuki kimono. Way of sumo termasuk konsentrasi, kesabaran, semangat, kesopanan, perjuangan, dan lain-lain.

Awalnya adalah pensucian tempat sumo. Ada beberapa gerakan yang dilakukan dan gerakannya ada yang mirip membasuh tangan. Selain itu, gerakan nggedruk-nggedruk kaki kanan dan kiri, ternyata maksudnya adalah menyingkirkan roh jahat. Dan pas si rikishi, nggedrukin kakinya, gila ya, suaranya keras banget. Penontonnya juga diminta mempraktikkannya, hihihi! Oiya, sumo juga punya wasit yang disebut dengan gyoji.

Makanan khas pesumo adalah Chanko Nabe. Chanko berarti makanan yang dimasak di tempat training sumo. Nabe berarti stew atau hotpot. Kenapa Chanko Nabe? Karena mudah dibuat, dibuat dengan volum yang banyak, bernutrisi, membunuh kuman karena panas, dan rasa kebersamaan karena berbagi dari pancinya itu.

Kiri: chanko nabe. Kanan: kue kacang merah dan satenya.
Usai demo dan kuliah tentang sumo, kita dikasih coba makan Chanko Nabe donggg. Selain itu, ada udon, kue kacang merah auk apa namanya, sama sate-satean, rasanya kayak bitterballen, dan bodohnya nggak nanya namanya. Minumnya ocha panas banget. Karena wareg aku nggak ambil udon. Dan meski satenya enak, cuma makan satu karena kehabisan. Fufufu...

Di invitation tertulis kita punya kesempatan buat foto sama pesumonya. Tapi sumpah yak, banyak banget yang minta foto, udah antre kan nih, eh tahunya si pesumonya udah diajakin keluar, enggak dapeeeettt deh... Yowis foto sama bendera dan lukisan yang ada aja dehhh.

Pendeeeekkkk~ 
Ajarannya Aji, gaya sok-sok selca, padahal yang moto aku, hahahaha!
Teman-teman, bantu akuuu donggg! ^^
Plis klik link: on.fb.me/1d7F4iD
Trus like yaaa, makasih!